15 Bodypack Korban Longsor Pasirlangu Masih Diperiksa DVI Polda Jabar

- Semua jenazah belum teridentifikasi dibawa ke RS Sartika Asih
- Ada bagian tubuh terpisah, jadi tantangan utama identifikasi
- Tidak ada batas waktu, identifikasi terus dilakukan
Bandung, IDN Times – Proses identifikasi korban longsor Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, masih terus berlangsung meski masa tanggap darurat telah ditutup. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat saat ini masih memeriksa 15 kantong jenazah (bodypack) di RS Sartika Asih, Kota Bandung.
Kabiddokkes Polda Jabar Kombes Pol. drg. Iwansyah, Sp.Ort., menjelaskan, pemeriksaan tidak bisa dipastikan selesai dalam waktu cepat karena seluruhnya bergantung pada hasil pembanding DNA dari keluarga korban.
“Kalau dari laboratorium DNA Polri sudah ada pembandingnya, kita langsung bandingkan kecocokan antara pelapor dengan korban,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
1. Semua jenazah belum teridentifikasi dibawa ke RS Sartika Asih

Seluruh korban yang belum diketahui identitasnya dikumpulkan di satu lokasi pemeriksaan. Jenazah disimpan dalam kontainer pendingin agar kondisi tetap terjaga selama proses forensik.
Menurutnya, setiap keluarga korban yang melapor sejak awal sudah diminta sampel DNA sebagai pembanding.
“Seluruh jenazah yang belum teridentifikasi dibawa ke RS Sartika Asih dan ditempatkan di lemari pendingin berbentuk kontainer,” katanya.
Bila ada tambahan temuan korban dari lapangan, proses identifikasi akan langsung dilakukan tanpa menunggu operasi SAR.
2. Ada bagian tubuh terpisah, jadi tantangan utama identifikasi

Tim DVI menghadapi kesulitan karena tidak semua temuan berupa tubuh utuh. Beberapa kantong jenazah hanya berisi bagian tubuh.
Dari temuan sebelumnya, beberapa bagian tubuh telah disatukan dan menghasilkan identitas individu baru. Namun pada 15 bodypack yang masih diperiksa, terdapat dua kantong berisi potongan kulit.
Ia menuturkan, bagian tersebut hanya berupa potongan kecil sehingga pencocokan DNA lebih rumit.
“Dari 15 kantong jenazah itu ada dua yang berisi kulit, kulit kaki dan kulit tangan. Mudah-mudahan teridentifikasi,” ucapnya.
Selain itu, ada kemungkinan potongan tersebut tidak berkaitan dengan laporan orang hilang sehingga hasil pembanding DNA tidak akan cocok.
3. Tidak ada batas waktu, identifikasi terus dilakukan

Meski operasi pencarian resmi berakhir, layanan identifikasi korban tetap dibuka sampai seluruh korban diketahui identitasnya. Artinya, waktu penyelesaian tidak bisa ditentukan.
Tim DVI menegaskan akan bekerja terus selama masih ada jenazah yang dikirim ke rumah sakit.
“Secara formal operasi ditutup, tapi pelayanan masih kami buka sampai semua jenazah di RS Sartika Asih teridentifikasi,” jelasnya.
Apabila hasil DNA cocok dengan keluarga pelapor, kepolisian akan langsung mengumumkan identitas korban. Namun bila tidak cocok, proses pemeriksaan akan diulang menggunakan data pembanding lain.
Dengan kondisi temuan yang tidak utuh, pihaknya memastikan proses bisa memakan waktu lebih lama dari perkiraan awal.


















