Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)
Sementara itu, dampak kerusakan terluas berada di wilayah Jawa Barat bagian selatan. Dampak kemarau dan kekeringan memicu titik api membesar di area perkebunan dan hutan.
"Untuk dampak kerusakan lahan terluas terjadi di Kabupaten Sukabumi. Dari 12 kejadian yang tersebar di sebelas kecamatan dan 15 desa, total area yang terbakar mencapai 49,20 hektare," kata Hadi.
Selain dua wilayah tersebut, BPBD Jabar mencatat sejumlah daerah rawan lain dengan tingkat kerusakan tinggi. Kabupaten Majalengka membukukan 15 kejadian dengan luas area terbakar 25,91 hektare.
"Disusul Kabupaten Kuningan sebanyak 10 kejadian seluas 23,80 hektare, serta Kabupaten Cirebon dengan delapan kejadian seluas 20,73 hektare," ungkapnya.
Peristiwa karhutla juga melanda wilayah lain seperti Kabupaten Bandung dengan 13 kejadian seluas 16,80 hektare, Kabupaten Subang sebelas kejadian seluas 9,53 hektare, dan Kabupaten Purwakarta sepuluh kejadian seluas 8,22 hektare.
"Tak hanya kabupaten, pergerakan api turut merembet ke kawasan perkotaan seperti Kota Sukabumi, Kota Bandung, dan Kota Depok meski dalam skala yang lebih kecil," tuturnya.
Sementara, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Dodit Ardian Pancapana mengatakan, jajarannya saat ini tengah menerapkan langkah pencegahan untuk menekan potensi karhutla sedini mungkin di masa puncak musim kemarau disertai El Nino.
"Kami bersama berbagai pihak terus mengintensifkan patroli berkala di wilayah rawan, memantau kondisi tutupan hutan, menggalakkan sosialisasi edukatif, serta memperkuat koordinasi lintas sektor demi meminimalkan risiko karhutla," ujar Dodit, Rabu (12/8/2026).
Berdasarkan data BPBD Jabar per 10 Agustus 2026, terjadi 90 karhutla di 72 kecamatan di Jawa Barat. Kebakaran karhutla terbanyak terjadi di Kabupaten Sumedang sebanyak 16 kejadian, Kabupaten Majalengka sebelas kejadian dan Kabupaten Bandung delapan kejadian.