perkedel bondon (instagram.com/foo.ga)
Popularitas Perkedel Bondon bukan hanya cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Banyaknya permintaan terlihat dari kebutuhan bahan baku yang harus disiapkan setiap hari.
Riska menyebut usaha keluarganya dapat menghabiskan sekitar 1 hingga 2 kuintal kentang dalam sehari. Jumlah produksi bahkan bisa menembus lebih dari 1.000 perkedel ketika permintaan sedang tinggi.
“Kalau ditotalin tuh kayaknya ada deh 1.000-an lebih dalam sehari,” ujar Riska.
Saat mengikuti festival kuliner, Perkedel Bondon untuk pertama kalinya mencoba menjangkau konsumen di luar jam operasional malamnya.
Respons pengunjung pun terbilang tinggi. Di festival, perkedel tersebut dijual dalam paket berisi delapan buah dengan harga Rp35 ribu.
Namun, menghadirkan perkedel dalam jumlah besar bukan perkara instan. Proses pengolahannya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam, mulai dari mengukus kentang hingga menumbuk dan mengolahnya menjadi adonan.
“Kita nyetok bahan baku. Karena perkedel teh prosesnya lama dari mulai kukus, tumbuk. Itu lumayan lama sekitar dua sampai tiga jam,” kata Riska.
Kini, Perkedel Bondon tidak hanya menjadi makanan yang dicari mereka yang lapar tengah malam. Nama yang awalnya lahir dari kebiasaan konsumen di sekitar stasiun telah berkembang menjadi bagian dari cerita kuliner Bandung.
Dari pesanan sederhana para masinis, resep keluarga itu diwariskan hingga generasi ketiga. Dan ketika lebih dari 1.000 perkedel bisa habis dalam sehari, satu hal tampaknya belum berubah: orang-orang masih rela memburu perkedel sederhana itu.