Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Transaksi Digital-Social Commerce Dorong Pertumbuhan PayLater di Jabar
Transaksi Digital dan Social Commerce Dorong Pertumbuhan PayLater di Jabar. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Perkembangan digital payment dan social commerce di Jawa Barat mendorong peningkatan penggunaan layanan PayLater, dengan pertumbuhan bisnis mencapai sekitar 55 persen secara tahunan menurut data OJK.
  • Perubahan perilaku belanja masyarakat dipengaruhi konten digital dan social commerce, membuat konsumen menginginkan proses pembiayaan cepat serta mendorong merchant beradaptasi dengan transaksi yang lebih fleksibel.
  • Indodana Finance memperluas layanan ke 157 kota termasuk tier 2 dan tier 3 untuk meningkatkan inklusi keuangan, kini memiliki sekitar 2 juta nasabah dan bekerja sama dengan puluhan ribu merchant.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Perkembangan digital payment dan social commerce disebut ikut mendorong perubahan perilaku belanja masyarakat di berbagai kota di Indonesia, termasuk Jawa Barat. Konsumen kini semakin mengutamakan transaksi yang praktis, fleksibel, dan terintegrasi dengan platform digital.

Kondisi tersebut turut berdampak pada pertumbuhan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater di Jawa Barat. Indodana Finance menyebut Bandung dan sejumlah daerah di Jabar menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan layanan pembiayaan digital yang cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

1. Pertumbuhan UMKM dan adaptasi digital dorong penggunaan PayLater

UMKM camilan dari Kota Bandung, Rasa Juara, sukses menjual produk secara online dan offline. IDN Times/Debbie Sutrisno

Direktur Indodana Finance, Iwan Dewanto mengatakan perusahaan mulai hadir di Jawa Barat sejak 2022 dan melihat pertumbuhan bisnis yang cukup signifikan. Menurut dia, pertumbuhan UMKM serta masyarakat yang semakin adaptif terhadap teknologi digital menjadi faktor pendorong meningkatnya penggunaan layanan PayLater.

“Bandung dan Jawa Barat potensi ekonominya besar. Pertumbuhan UMKM dan masyarakat yang semakin adaptif pada teknologi digital membuat PayLater terus tumbuh,” ujar Iwan, Sabtu (6/6/2026).

Ia menyebut berdasarkan data OJK, pertumbuhan bisnis PayLater mencapai sekitar 55 persen secara year on year (yoy). Menurutnya, potensi industri pembiayaan digital masih cukup besar dibanding penetrasi kartu kredit yang dinilai belum terlalu luas.

2. Perubahan pola belanja masyarakat dipengaruhi social commerce

Pelaku usaha rajutan di Kampung Rajut Binong Jati, Kota Bandung, Senin (16/3/2026), sedang mengemas barang yang dipesan konsumen melalui e-commerce. IDN Times/Debbie Sutrisno

Perubahan perilaku konsumen, lanjutnya, kini dinilai semakin dipengaruhi oleh konten digital, live shopping, hingga social commerce. Kondisi tersebut membuat merchant perlu beradaptasi dengan pola transaksi yang lebih cepat dan fleksibel.

Iwan mengatakan masyarakat saat ini cenderung menginginkan layanan pembiayaan yang mudah diakses tanpa proses dokumen yang rumit.

“Masyarakat sekarang maunya di mana pun dan kapan pun bisa mengakses pembiayaan tanpa dokumen yang rumit. Proses seamless ini kurang dari lima menit nasabah bisa mendapatkan limit,” katanya.

Dengan perubahan ini, Indodana pun mempertemukan 300 merchant dari berbagai daerah di Jawa Barat turut membahas perkembangan pola belanja digital masyarakat. Harapannya dari pertemuan ini banyak masukan dalam mendongkrak perekonomian masyarakat termasuk malalui pemanfaatan paylater.

3. Layanan pembiayaan digital mulai menjangkau kota tier 2 dan tier 3

Indodana PayLater Hadir di Seluruh Gerai KFC Indonesia (Dok. Indodana)

Indodana Finance menyebut saat ini layanannya telah hadir di 157 kota di Indonesia, mulai dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi hingga Nusa Tenggara Timur, Ambon, dan Ternate.

Ekspansi ke kota tier 2 dan tier 3 disebut dilakukan untuk memperluas akses pembiayaan sekaligus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

“Masih banyak masyarakat yang belum bisa mengakses layanan perbankan. Karena itu kami masuk ke tier 2 dan tier 3,” kata Iwan.

Hingga saat ini, perusahaan mengklaim memiliki sekitar 2 juta nasabah dengan total unduhan aplikasi mencapai 25 juta pengguna. Selain itu, layanan tersebut juga telah bekerja sama dengan puluhan ribu merchant di berbagai wilayah Indonesia.

Sementara itu, Assistant Manager SHARP Indonesia Bandung Branch, Teuku Kesha menilai kombinasi digital platform dan opsi pembayaran fleksibel menjadi salah satu faktor penting dalam membantu merchant mempercepat keputusan pembelian konsumen.

“Merchant yang mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen akan memiliki peluang pertumbuhan yang lebih besar,” ujarnya.

Editorial Team

Related Article