Teror Aktivis Kontras, Dedi Mulyadi Yakin Pelaku Segera Ditangkap

- Aktivis KontraS Andrie Yunus diserang dua orang tak dikenal dengan air keras di Jakarta, menyebabkan luka bakar serius sekitar 24 persen pada tubuhnya.
- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengecam aksi teror tersebut dan menilai penyerangan itu sebagai bentuk intimidasi yang mengancam keamanan serta nilai kemanusiaan di wilayahnya.
- Dedi menegaskan pentingnya supremasi hukum dan yakin Kepolisian RI akan segera mengungkap pelaku serta dalang di balik serangan, sambil menyerukan masyarakat menjaga demokrasi dan saling menghormati.
Bandung, IDN Times - Aksi teror yang menimpa aktivis hak asasi manusia dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Andri Yunus turut menjadi perhatian publik. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi pun menyampaikan keprihatinannya atas aksi tersebut.
Dedi menganggap penyerangan terhadap Andri Yunus sebagai tindakan intimidatif di wilayah Jawa Barat. Dia mendorong agar Jabar tetap aman dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk tindakan yang bertujuan menghilangkan nyawa atau mencederai orang lain demi kepentingan tertentu.
"Sebagai warga Jawa Barat, kita berharap Jawa Barat terbebas dari berbagai teror intimidatif, upaya menghilangkan nyawa orang lain, membuat cacat orang lain dengan tujuan tertentu sebagaimana dialami oleh saudara kita, Bang Andri Yunus, aktivis Kontras," kata Dedi Senin (16/3/2026).
1. Polisi dipastikan akan menangkap pelaku

Dedi juga menegaskan pentingnya menjunjung tinggi supremasi hukum dalam menyikapi peristiwa tersebut. Ia menyatakan keyakinannya bahwa aparat penegak hukum akan mampu mengungkap pelaku maupun pihak yang berada di balik aksi tersebut.
"Saya meyakini pelaku penyerangan dan siapa yang menyuruhnya akan diungkap oleh Kepolisian Republik Indonesia," ujarnya.
Menurut Dedi, masyarakat Indonesia perlu terus menjaga iklim demokrasi yang terbuka dengan tetap mengedepankan sikap saling menghormati dan menghargai. Ia juga berharap seluruh masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai serta menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan hukum yang berlaku.
"Semoga kita semua bisa hidup saling menghargai, saling menghormati di alam demokrasi yang terbuka seperti Indonesia," kata Dedi.
2. Penyerangan dilakukan di Jakarta

Untuk diketahui, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, mengalami serangan penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal di Jakarta pada Jumat malam (13/3/2026). Akibat serangan tersebut, Andrie mengalami luka bakar serius di sejumlah bagian tubuh.
Peristiwa itu terjadi tak lama setelah Andrie menyelesaikan perekaman siniar di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Dari hasil pemeriksaan medis, korban dilaporkan mengalami luka bakar sekitar 24 persen pada tubuhnya.
Peristiwa penyiraman air keras terjadi setelah Andrie Yunus menyelesaikan rekaman podcast atau siniar bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di Kantor YLBHI sekitar pukul 23.00 WIB.
3. Pelaku diduga dua orang

Tak lama setelah itu, Andrie meninggalkan lokasi dan mengendarai sepeda motor menuju arah Jalan Salemba I – Talang, Jakarta Pusat. Namun, di perjalanan, dua orang yang mengendarai motor diduga menghampiri korban dan melakukan penyerangan.
Berdasarkan informasi awal yang dihimpun, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 23.37 WIB. Salah satu pelaku yang berada di kursi belakang motor kemudian menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah korban.
"Akibat serangan itu, Andrie langsung berteriak kesakitan dan menjatuhkan sepeda motornya sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis darurat," ujar Koordinator Badan Pekerja KontraS Dimas Bagus Arya dalam keterangan resmi, Jumat (13/3/2026).
Dari informasi awal yang dihimpun, dua pelaku diduga menggunakan sepeda motor matik Honda Beat keluaran sekitar tahun 2016 hingga 2021.
Keduanya disebut datang dari arah berlawanan di kawasan Jalan Talang atau Jembatan Talang. Pelaku pertama yang bertindak sebagai pengendara mengenakan kaus kombinasi putih-biru, celana gelap yang diduga berbahan jeans, serta helm hitam.
Sementara pelaku kedua yang berada di belakang menggunakan penutup wajah atau masker menyerupai buff berwarna hitam, kaos biru tua, serta celana panjang biru yang dilipat menjadi pendek.
Dalam kejadian tersebut, tidak ditemukan adanya barang milik korban yang dirampas atau hilang, sehingga dugaan sementara bahwa serangan tersebut bukan bermotif perampokan. Setelah melakukan penyiraman, para pelaku langsung kabur.


















