Bandung, IDN Times - Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berbasis komunitas dinilai membutuhkan model pembiayaan yang tidak hanya mampu menutup kebutuhan investasi awal, tetapi juga menjaga keberlanjutan operasional proyek dalam jangka panjang.
Hasil riset yang dilakukan MOSAIC bersama Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Purpose menunjukkan bahwa kombinasi hibah dan pinjaman lunak berpotensi menjadi skema pendanaan yang paling realistis untuk mendukung pengembangan PLTS komunitas di Indonesia.
Temuan tersebut dipaparkan dalam diskusi bertajuk Potensi Keuangan Islam untuk Pendanaan PLTS Berbasis Komunitas. Kajian ini disusun untuk menjawab kebutuhan pendanaan dalam mendukung target pembangunan energi surya nasional hingga 100 gigawatt (GW).
Target tersebut mencakup pembangunan 80 GW PLTS berbasis desa melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) serta 20 GW PLTS yang terintegrasi dengan jaringan listrik nasional.
