Respons KDM Satu Tahun Kepemimpinan: Saya Merasa Belum Berbuat Apa-apa

- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM mendapat nilai tertinggi dalam survei satu tahun kepemimpinan oleh Lembaga Indikator Politik Indonesia.
- Angka kepuasan mencapai 95,5 persen, lebih mencerminkan kedekatan emosional masyarakat Jawa Barat terhadap dirinya, bukan capaian program pembangunan.
- Wakil Gubernur Erwan Setiawan mendapatkan angka 49,7 persen cukup puas, sangat puas 5,6 persen dan tidak puas sama sekali 1,8 persen.
Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM mendapatkan nilai tertinggi dalam survei satu tahun kepemimpinan oleh Lembaga Indikator Politik Indonesia. Responden merasa puas dengan kinerjanya memimpin Jawa Barat dengan angka mencapai 95,5 persen.
Hasil survei terbaru yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada 30 Januari 8 Februari 2026 mencatat angka itu terdiri dari 35,8 persen responden yang menyatakan sangat puas dan 59,7 persen cukup puas.
Jika dibandingkan dengan survei pada Mei 2025, tingkat kepuasan sangat puas saat itu berada di angka 41,1 persen dan cukup puas 53,6 persen.
1. Angka tersebut dinilai sebagai cerminan dukungan pembangunan di Jabar

Respon kurang puas tercatat 4,1 persen, sedangkan 1,3 persen responden menjawab tidak tahu atau tidak menjawab. Dedi Mulyadi menilai angka kepuasan itu bukan cerminan keberhasilan kinerjanya selama hampir satu tahun menjabat namun bentuk kesetiaan warga mengawal kepemimpinannya.
"(Cerminan) Yang setia memberikan dukungan terhadap kegiatan pembangunan yang hampir berjalan satu tahun. Dan saya merasa bahwa belum berbuat apa-apa bagi warga Jabar. Saya merasa belum berbuat apa-apa," katanya, Senin (16/2/2026).
2. Dedi Mulyadi sebut angka itu bukan sebuah ukuran keberhasilan

Angka 95,5 persen tersebut lebih mencerminkan kedekatan emosional masyarakat Jawa Barat terhadap dirinya, bukan capaian program pembangunan. Dia tetap merasa belum berhasil dalam satu tahun memimpin Jabar.
"95,5 persen itu mengangkat kecintaan warga Jabar pada saya, bukan angka keberhasilan. Saya merasa belum berhasil dalam satu tahun ini," kata dia.
Sebelumnya, founder dan peneliti utama Indikator Politik Indonesia, Prof Burhanuddin Muhtadi menuturkan tingginya tingkat kepuasan warga Jabar terhadap Dedi Mulyadi ini menjadi tantangan tersendiri, karena dari banyak survei yang dilakukan jarang ada kepala daerah yang mendapatkan tingkat kepuasan hingga di atas 90 persen.
"Tingkat kepuasan yang terlalu tinggi mempertahankan saja sudah cukup bagus ya, karena di banyak tempat tentu tidak mudah mendapatkan approval rating setinggi ini ya, kita banyak pengalaman kepala daerah yang approvalnya di bawah 50 persen, ini di atas 95 persen, jadi sangat tinggi dan tidak ada yang mengatakan tidak puas sama sekali, tapi ada yang kurang puas 4 persen," kata dia.
3. Peran wakil gubernur belum bisa maksimal

Sementara, dalam survei ini Wakil Gubernur Erwan Setiawan mendapatkan angka 49,7 persen cukup puas, sangat puas 5,6 persen dan tidak puas sama sekali 1,8 persen.
Dosen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)/Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan, mengatakan, gubernur populer bisa berdampak kepada program. Namun, ada beberapa yang dirasakannya masih ada kekurangan.
"Dengan hasil seperti ini kinerja provinsi Jabar dari satu tahun terkahir itu sangat baik dan beberapa ada nilai C dan D tapi lulus cuma belum Cumlaude apalagi Suma Cumlaude," ujar Djaya di Bandung, Senin (16/2/2026).
Djaya menilai secara keseluruhan hasil survei ini sangat positif dan angkanya tinggi, namun ada beberapa hal yang dirasakannya cukup mencolok yaitu tingkat kepuasan publik terhadap kinerja gubernur dan wakil gubernur terasa jomplang.
"Saya ada beberapa catatan. Approval rating tinggi terhadap gubernur. Itu dua kali lipat dari wakil gubernur, ini masalah apa bukan. Kalau publik Ingin keduanya kerja kang Erwan perlu mendongkrak elektabilitasnya," katanya.
Dalam hasil survei tersebut, Djaya merasa ada peran-peran yang belum dimaksimalkan atau belum diberikan terhadap wakil gubernur, sehingga tingkat kepuasannya mengalami perbedaan yang signifikan.
"Dalam konteks ini apakah diutamakan kepuasan terhadap wakil gubernur atau menjaga keutuhan. Saya menduga kalau keduanya solid dalam memerintah Kang Erwan harus kasih peran lain," kata dia.
"Bisa jadi kalau dia turun popularitas KDM merasa tersaingi. Disatu sisi ada One Man Show itu disengaja atau tidak disengaja," sambungnya.
















