Realisasi Investasi Jabar 2025 Capai Rp296,8 Triliun, Susul Jakarta!

- Realisasi investasi di Jawa Barat pada tahun 2025 mencapai Rp296,8 triliun, melampaui Jakarta dan Banten.
- Capaian realisasi investasi tahun 2025 mengalami kenaikan signifikan sebesar 18,21 persen dibandingkan tahun 2024.
- Pada Triwulan III tahun 2025, nilai investasi di Jawa Barat mencapai Rp77,1 triliun, atau sekitar 15,7 persen dari total nasional.
Bandung, IDN Times - Kementerian Investasi dan hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia mencatat realisasi investasi di Jawa Barat pada tahun 2025 mencapai Rp296,8 triliun, atau 109,9 persen dari target yang ditetapkan. Angka tersebut melampaui beberapa provinsi lain, seperti Jakarta dan Banten.
Dalam data tersebut, Jabar diurutan pertama, kemudian Provinsi DKI Jakarta Rp270,9 triliun. Ketiga Jawa Timur Rp145 triliun, dan keempat Banten Rp139,2 triliun, kelima Sulawesi Tengah Rp127 triliun.
Merespons hal itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menganggap capaian tersebut buah hasil dari iklim investasi yang terus dijaga agar tetap kondusif, inklusif, dan berkelanjutan. Dia memastikan, keamanan akan terus dijaga untuk investor.
"Pemerintah provinsi berkomitmen menciptakan kepastian, kemudahan, dan rasa aman bagi investor," ujar Dedi Mulyadi dalam keterangan tertulis, Kamis (15/1/2026).
1. Menginginkan investasi masuk berdampak langsung ke masyarakat

Capaian realisasi investasi tahun 2025 mengalami kenaikan signifikan sebesar 18,21 persen dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka Rp251,14 triliun. Lonjakan ini menandakan meningkatnya aktivitas ekonomi serta minat investasi di berbagai sektor strategis di Jawa Barat.
Dari total realisasi tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat mencapai Rp147,02 triliun, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp149,8 triliun.
Menurut Dedi, keseimbangan antara PMA dan PMDN menjadi indikator penting bahwa pembangunan ekonomi Jawa Barat tidak hanya bergantung pada modal asing, tetapi juga diperkuat oleh pelaku usaha nasional.
"Kami ingin investasi yang masuk benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Tidak hanya angka besar, tetapi juga membuka lapangan kerja, menggerakkan UMKM, dan mendorong pemerataan pembangunan di berbagai wilayah," ujarnya.
2. Ke depan investasi harus sejalan dengan keberlanjutan lingkungan

Pemerintah Provinsi, kata Dedi akan terus melakukan pembenahan birokrasi, penyederhanaan perizinan, serta penguatan infrastruktur pendukung investasi, termasuk kawasan industri dan konektivitas antar wilayah.
Dengan capaian itu, Jawa Barat diharapkan tetap menjadi destinasi utama investasi nasional sekaligus berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Ke depan, investasi harus sejalan dengan nilai keberlanjutan, kelestarian lingkungan, dan kearifan lokal. Jawa Barat terbuka bagi investasi, tetapi tetap berpijak pada kepentingan rakyat," kata Dedi.
3. Jepang dan Singapura paling banyak tanam modal di Jabar

Sebelumnya, BKPM juga mencatat pada Triwulan III tahun 2025, nilai investasi di Jawa Barat mencapai Rp77,1 triliun, atau sekitar 15,7 persen dari total nasional. Realisasi investasi itu menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Peningkatan sampai 36,34 persen dari sebesar Rp56,57 triliu.
Dari total nilai investasi di Triwulan III 2025, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang sekitar Rp41,8 triliun, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar USD 2,2 miliar atau setara Rp35,3 triliun.
Nilai investasi PMDN naik tajam 74,33 persen, dari Rp23,97 triliun pada Triwulan III 2024 menjadi Rp41,78 triliun pada periode yang sama tahun 2025 Nilai investasi PMA pada Triwulan III 2025 mencapai USD2,21 miliar.
Angka itu setara Rp35,35 triliun, meningkat 8,42 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp32,60 triliun.
Investasi asing di Jawa Barat banyak dari Jepang, Singapura, dan Hongkong, dengan fokus pada sektor industri pengolahan, Sektor Informasi dan Komunikasi, Perdagangan serta Real Estate.
Selama Triwulan III 2025, realisasi investasi di Jawa Barat berhasil menyerap lebih dari 100 ribu tenaga kerja baru, sebagian besar di sektor manufaktur dan jasa penunjang industri.















