Pemprov Jabar Targetkan Perbaikan Jalur Mudik Rampung H-7 Lebaran

- Pemprov Jawa Barat menargetkan seluruh perbaikan jalan di jalur mudik rampung H-7 Lebaran 2026 agar arus kendaraan pemudik berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
- DBMPR Jabar memetakan 36 jembatan rawan dan menyiapkan tim URC Bima Sakti, 19 DRU, serta enam jembatan Bailey untuk penanganan darurat selama periode mudik.
- Sebanyak 65 posko siaga dan jalur alternatif disiapkan di berbagai wilayah Jawa Barat guna memastikan respons cepat terhadap gangguan infrastruktur saat arus mudik dan balik Lebaran.
Bandung, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan perbaikan jalan di jalur mudik bisa rampung sepekan (H-7) sebelum lebaran 2026. Saat ini sejumlah infrastruktur mudik masih dilakukan perbaikan mulai dari penambalan lubang jalan juga beberapa kendala lainnya.
Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Jawa Barat, Agung Wahyudi, mengatakan perbaikan jalan dilakukan melalui pemeriksaan rutin oleh tim lapangan yang memantau kondisi kerusakan di berbagai ruas jalan provinsi.
"Kami secara rutin melakukan pemeriksaan kondisi jalan melalui tim lapangan. Ruas jalan provinsi yang masih berlubang atau mengalami kerusakan saat ini sedang dalam proses perbaikan atau penambalan. Kami menargetkan paling lambat H-7 Lebaran seluruh jalur tersebut sudah siap digunakan pemudik," ujar Agung, Senin (9/3/2026).
1. Masih banyak jalan yang harus diperbaiki

Terdapat beberapa titik kerusakan jalan yang menjadi perhatian dan tersebar di sejumlah wilayah di Jawa Barat, antara lain berada di wilayah Bekasi, Bogor, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Kuningan, Garut, Indramayu, Kabupaten Bandung, Majalengka, dan Sumedang.
Konsentrasi kerusakan jalan paling, kata dia, banyak ditemukan di sejumlah ruas strategis, terutama yang menjadi akses penghubung antarwilayah.
"Konsentrasi kerusakan cukup banyak terdapat di antaranya pada ruas Jalan Raya Sukanagara, ruas Sukanagara-Sindangbarang, ruas Cibeber-Sukanagara, serta beberapa ruas jalan di kawasan Bogor dan Kuningan," katanya.
Agung menambahkan, percepatan perbaikan dilakukan agar kondisi jalan Provinsi di Jawa Barat tetap layak dilalui dan tidak menghambat arus kendaraan selama periode mudik dan arus balik Lebaran 2026.
2. Jembatan rusak juga menjadi perhatian

Lebih lanjut, Agung mengaku sudah memetakan sejumlah titik infrastruktur yang membutuhkan perhatian khusus selama periode mudik, salah satunya jembatan yang kondisinya rawan. Dia memastikan, DBMPR menyiapkan sejumlah langkah mitigasi di lapangan.
"Kami mencatat ada 36 jembatan rawan di ruas jalan Provinsi. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, kami menyiagakan Tim URC Bima Sakti, 19 lokasi Disaster Response Unit (DRU), serta dukungan peralatan termasuk enam unit jembatan Bailey untuk penanganan kondisi darurat," kata Agung.
DBMPR juga memasang rambu peringatan serta menerapkan pembatasan muatan bagi kendaraan angkutan yang melintas di jembatan-jembatan tersebut guna menjaga keamanan dan keselamatan pengguna jalan.
"Pada jembatan yang memiliki tingkat kerawanan, kami juga memasang rambu peringatan dan melakukan pembatasan muatan angkutan agar struktur jembatan tetap aman dilalui selama arus mudik," katanya.
3. Tim penanganan diterjunkan saat arus mudik lebaran

Lebih lanjut, Agung mengatakan, sebagian besar jalur mudik di ruas jalan Provinsi telah dilengkapi dengan penerangan jalan umum (PJU). Namun, dia tidak merinci titik mana saja yang masih gelap dan membutuhkan penanganan saat malam hari.
Dia menambahkan, DBMPR Jabar telah memetakan jalur alternatif dan jalur wisata yang dapat digunakan masyarakat selama periode mudik dan arus balik Lebaran 2026.
"Terdapat 24 link ruas jalan jalur alternatif dan 20 link ruas jalan jalur wisata," ucapnya.
Selain menyiapkan jalur alternatif, DBMPR Jawa Barat juga mendirikan puluhan posko siaga di sepanjang ruas jalan provinsi guna memastikan penanganan cepat jika terjadi kendala di lapangan.
Menurut Agung, sedikitnya terdapat 65 posko siaga yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat untuk memantau kondisi jalan sekaligus memberikan respons cepat jika terjadi gangguan infrastruktur.
"Kami menyiapkan 65 posko siaga sebagai pusat koordinasi pemantauan kondisi jalan selama arus mudik dan balik Lebaran," katanya.
Ada 19 titik Disaster Response Unit (DRU) atau Unit Tanggap Darurat turut disiagakan untuk mempercepat penanganan jika terjadi kerusakan jalan, bencana, maupun gangguan lain yang berpotensi menghambat arus lalu lintas.
Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Bima Sakti yang bertugas mengantisipasi berbagai potensi gangguan di ruas jalan provinsi juga diterjunkan.
"Kami menurunkan tim URC Bima Sakti untuk mengantisipasi kerusakan jalan di kawasan perkotaan, jalur dengan lalu lintas padat, daerah rawan kecelakaan hingga wilayah rawan bencana. Tim ini juga akan menindaklanjuti laporan masyarakat yang bersifat mendesak," ucapnya.


















