Kisah Machmudah, Penjual Rujak di Cirebon Naik Haji Setelah Nabung 13 Tahun

- Machmudah, penjual rujak asal Cirebon, berhasil melunasi biaya haji setelah menabung sejak 2013 dari hasil dagangannya dan dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 19 Mei 2026.
- Rutinitas harian Machmudah dimulai sejak subuh untuk menyiapkan dagangan hingga sore, menjadikan aktivitas berjualan sebagai cara menjaga kesehatan dan semangat hidupnya.
- Menjelang keberangkatan, ia fokus mempersiapkan diri secara mental dan spiritual melalui doa serta amalan harian, sambil terus menjaga niat dan konsistensi dalam usahanya.
Cirebon, IDN Times - Machmudah (62), seorang penjual rujak ulek asal Desa Marikangen, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, akhirnya berhasil melunasi biaya perjalanan ibadah haji setelah menabung sejak 2013. Ia dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 19 Mei 2026, mewujudkan impian yang ia rawat selama lebih dari satu dekade.
Keberangkatan Machmudah menjadi potret ketekunan masyarakat kecil dalam menggapai rukun Islam kelima. Seluruh biaya haji yang ia kumpulkan berasal dari hasil berjualan rujak dan makanan sederhana yang ia sisihkan sedikit demi sedikit setiap hari.
1. Konsistensi dari uang receh

Machmudah mengaku tidak memiliki sumber penghasilan tetap selain dari berjualan. Namun dari usaha kecil itulah ia berkomitmen menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan haji. Targetnya sederhana, yakni Rp50.000 per hari.
Dalam praktiknya, jumlah tersebut tidak selalu tercapai. Saat pembeli ramai, ia bisa memenuhi target harian. Namun ketika dagangan sepi, ia hanya menabung dari sisa uang yang tersedia. Selain itu, ia juga mengikuti arisan dengan setoran Rp300.000 per minggu sebagai cara lain untuk mengumpulkan dana.
“Yang penting ada niat dan dijalani terus. Sedikit-sedikit lama-lama jadi,” ujarnya Senin (20/4/2026).
Perjalanan panjang sejak mendaftar pada 2013 diakuinya bukan tanpa tantangan. Namun konsistensi dalam menabung membuatnya mampu melunasi biaya haji secara bertahap hingga akhirnya masuk daftar keberangkatan tahun ini.
2. Rutinitas yang tak pernah putus

Setiap hari, aktivitas Machmudah dimulai sejak subuh. Usai menunaikan ibadah salat, ia langsung menyiapkan dagangan untuk dijual sebagai menu sarapan. Memasuki pagi hari, ia melanjutkan dengan meracik rujak ulek yang menjadi andalannya hingga sore.
Baginya, berjualan bukan hanya soal mencari nafkah. Aktivitas tersebut juga menjadi cara menjaga kebugaran tubuh dan kestabilan pikiran.
“Kalau diam saja malah cepat sakit. Kalau jualan, badan bergerak, pikiran juga enak,” katanya.
Rutinitas yang dijalani selama bertahun-tahun itu menjadi bagian dari proses panjang yang mengantarkannya menuju keberangkatan haji.
3. Menjaga niat di tengah keterbatasan

Meski mengaku kondisi fisiknya tidak lagi sekuat dulu, Machmudah tetap bertekad berangkat. Ia menyebut keinginan untuk menunaikan ibadah haji sudah tidak bisa ditunda lagi.
Di tengah keterbatasan, ia berpegang pada satu hal yang menurutnya paling penting, yakni menjaga niat. Ia percaya usaha yang dilakukan dengan jujur dan konsisten akan menemukan jalannya.
Selama menunggu keberangkatan, ia terus melanjutkan kebiasaan menabung sekaligus mempersiapkan diri secara mental dan spiritual.
4. Persiapan batin menjelang keberangkatan

Menjelang keberangkatan pada 19 Mei, Machmudah mulai menyiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari pakaian hingga obat-obatan. Namun ia menilai kesiapan batin jauh lebih utama dibandingkan perlengkapan fisik.
Ia rutin mengamalkan istighfar dan salawat setiap hari, bahkan saat beraktivitas. Amalan tersebut dilakukan sebagai bentuk ikhtiar agar perjalanan ibadahnya berjalan lancar sejak keberangkatan hingga kembali ke tanah air.
“Sekarang lebih banyak berdoa saja, supaya ibadahnya nanti dimudahkan,” ujarnya.

















