Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ITB Bangun 10 Shelter Darurat untuk Warga Terdampak Gempa Flores
ITB Bangun 10 Shelter Darurat untuk Warga Terdampak Gempa Flores. Dok Istimewa
  • Tim ITB melalui program ITB Peduli membangun 10 shelter keluarga darurat berbahan bambu lokal di Kecamatan Reo dan Roting, Manggarai serta Manggarai Timur, pada 17-21 Agustus 2026.
  • Asesmen menemukan warga masih menghadapi ribuan gempa susulan, keterbatasan hunian sementara, krisis air bersih, kelangkaan BBM, dan akses transportasi terganggu longsor.
  • ITB berkoordinasi dengan BNPB untuk menentukan wilayah prioritas; data asesmen akan menjadi dasar bantuan lanjutan bagi rehabilitasi shelter, air bersih, dan pemulihan fasilitas publik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
ITB datang membantu warga di Flores setelah gempa besar. Mereka membuat 10 rumah darurat dari bambu di Reo dan Roting. Warga masih tinggal di tenda karena ada banyak gempa susulan. Air bersih, bensin, dan jalan juga susah. ITB mencatat kebutuhan warga untuk bantuan berikutnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kehadiran ITB di Flores menunjukkan respons kemanusiaan yang memadukan bantuan langsung dengan pemetaan kebutuhan secara terarah. Shelter bambu lokal memberi warga pilihan hunian sementara yang cepat dibangun dan dapat direplikasi, sementara koordinasi dengan BNPB, BPBD, serta data asesmen membuka dasar yang lebih tepat bagi dukungan berikutnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Institut Teknologi Bandung (ITB) turun langsung membantu warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui program ITB Peduli, tim kemanusiaan membangun 10 shelter keluarga darurat sekaligus memetakan kebutuhan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.

Misi kemanusiaan tersebut berlangsung pada 17-21 Agustus 2026. Selain membangun tempat tinggal sementara, tim ITB menyalurkan tenda dan bantuan logistik serta melakukan asesmen terhadap kondisi bangunan, fasilitas publik, akses transportasi, hingga kebutuhan air bersih warga pascagempa.

1. ITB bangun shelter dari bambu lokal

ITB Bangun 10 Shelter Darurat untuk Warga Terdampak Gempa Flores. Dok Istimewa

Tim ITB bergerak dari Labuan Bajo menuju Kecamatan Reo di Kabupaten Manggarai dan wilayah Roting di Kabupaten Manggarai Timur. Di dua wilayah tersebut, tim membangun 10 unit shelter keluarga darurat dengan struktur bambu.

Desain shelter tersebut mengadaptasi karya Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB. Penggunaan bambu lokal memungkinkan bangunan didirikan relatif cepat sekaligus dapat direplikasi secara mandiri oleh masyarakat.

Konsep tersebut juga memungkinkan pembangunan dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan relawan di lapangan.

2. Ribuan gempa susulan bikin warga masih bertahan di tenda

ITB Bangun 10 Shelter Darurat untuk Warga Terdampak Gempa Flores. Dok Istimewa

Tim ITB menemukan dampak gempa di Flores tidak hanya berupa kerusakan bangunan. Warga juga masih menghadapi keterbatasan tempat tinggal sementara, krisis air bersih, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), hingga akses transportasi yang terganggu akibat longsor.

Kondisi tersebut diperparah dengan ribuan gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 di sekitar Mbay. Di Kecamatan Reo dan Roting, sejumlah warga masih bertahan di tenda darurat karena khawatir dengan kondisi bangunan tempat tinggal mereka.

Hasil asesmen tim juga menunjukkan tingkat kerusakan bangunan tidak selalu berbanding lurus dengan jarak suatu wilayah dari episentrum gempa. Kerusakan berat justru ditemukan di sejumlah kawasan pesisir utara Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur yang relatif jauh dari pusat gempa.

3. Data ITB jadi dasar bantuan tahap berikutnya

Rumah rusak akibat gempa di NTT (dok. BNPB)

Sebelum bergerak ke wilayah terdampak, tim ITB terlebih dahulu berkoordinasi dengan Posko Pusat BNPB di Labuan Bajo pada 17 Agustus 2026. Koordinasi dilakukan untuk menentukan wilayah prioritas sekaligus menyesuaikan distribusi bantuan dengan kondisi di lapangan.

Misi yang berlangsung selama lima hari tersebut menjadi tahap awal dukungan ITB bagi masyarakat terdampak gempa Flores. Data hasil asesmen akan digunakan untuk menentukan bantuan lanjutan, terutama terkait rehabilitasi shelter, pemenuhan kebutuhan air bersih, dan pemulihan fasilitas publik.

ITB berharap dukungan tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan sehingga kebutuhan masyarakat terdampak tidak hanya tertangani pada fase tanggap darurat, tetapi juga hingga proses pemulihan pascabencana.

Curated For You

Editorial Team

Related Article