JPO Soekarno-Hatta Bandung Segera Dibangun, Titiknya Masih Dikaji

- Pemprov Jawa Barat mengkaji pembangunan sejumlah JPO di Jalan Soekarno-Hatta Bandung untuk meningkatkan keamanan penyeberang dan memitigasi kecelakaan.
- Titik JPO akan ditentukan berdasarkan analisis Bina Marga dan Dishub, dengan perhatian pada area sekolah serta perkantoran yang ramai dilalui warga.
- Sambil menunggu pembahasan konstruksi dan koordinasi dengan Kementerian PU, pemerintah memasang marka, lampu peringatan, rambu, serta menambah personel pengamanan.
Bandung, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini tengah melakukan kajian mengenai rencana pembangunan sejumlah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. Hal ini dilakukan agar masyarakat bisa menyeberang dengan aman dan memitigasi kecelakaan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Barat, Adi Komar mengatakan, pembangunan JPO nantinya dilaksanakan oleh Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Provinsi Jabar.
"Untuk penyeberangan orang, saya masih menunggu informasi dari Bina Marga. Namun yang pasti dari ruas Jalan Soekarno-Hatta, sepanjang ruas itu akan ditentukan titik-titiknya sesuai dengan analisa dan kajian dari Bina Marga dan Dishub," ujar Adi, Senin (24/8/2026).
1. Pemprov Jabar tengah melakukan kajian

Wajah baru Gedung Sate di era kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Adi mengungkapkan, penentuan lokasi JPO akan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan hasil kajian Dinas Perhubungan (Dishub). Hanya saja, ada beberapa lokasi yang menjadi perhatian di antaranya kawasan sekitar sekolah dan perkantoran, yang kerap digunakan warga untuk menyeberang.
"Terutama dari Dishub karena kan itu ada ketentuannya, apa saja dan lokasinya di mana saja yang dibangun JPO untuk memfasilitasi para penyeberang, misalkan di dekat area persekolahan, perkantoran," katanya.
Adi mengatakan, pembangunan JPO saat ini masih dalam pembahasan, termasuk skema konstruksinya. Pemprov Jabar juga, kata Adi, perlu berkoordinasi dengan pemerintah pusat karena Jalan Soekarno-Hatta merupakan ruas jalan yang pengelolaannya melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum.
"Untuk konstruksi JPO-nya sedang dalam pembahasan. Skemanya masih dibahas karena ini akan ada beberapa komunikasi dengan pusat, dengan pengelola Jalan Soekarno-Hatta yang dikelola oleh Kementerian PU," ucapnya.
2. Aparat gabungan ditambah untuk menjaga titik bahaya

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) dalam acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis) Sembari menunggu pembangunan JPO, Pemprov Jabar bersama Pemkot Bandung telah kini telah menerapkan langkah cepat untuk mencegah kecelakaan. Dia mengatakan, Dishub Jabar dan Dishub Kota Bandung telah memasang marka jalan berupa zona selamat sekolah, lampu peringatan atau warning light, serta rambu-rambu lalu lintas.
Selain itu, personel dari kepolisian dan Dishub juga ditambah untuk membantu mengamankan aktivitas penyeberangan anak-anak saat jam masuk dan pulang sekolah.
"Langkah-langkah yang urgent untuk menangani hal-hal tadi (kecelakaan) sudah dilakukan, tadi penambahan personel, pemasangan marka jalan, rambu-rambu, dan yang selanjutnya jembatan penyeberangan sedang dalam pembahasan," ucapnya.
3. Pemasangan JPO dipastikan Agustus 2026

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil) Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan, pemasangan JPU dan JPO ini dilakukan karena banyak warga Kota Bandung yang mengeluh langsung kepadanya. Sehingga, pemasangan tersebut akan dilakukan mulai Agustus 2026 ini.
"Bypass tadi ya, PJU-nya sudahlah bulan ini kami pasang. Kemudian penyeberangannya ya kita buatkan," ujar Dedi, dikutip Sabtu (8/8/2026).
Selain fokus pada titik-titik rawan, Dedi menyampaikan, Pemprov Jabar juga tengah berkoordinasi dengan pemerintah pusat mengingat status Jalan Soekarno-Hatta sebagai jalan nasional, demi mempercepat pembenahan infrastruktur secara menyeluruh.
"Kemudian jalan nasionalnya nanti kami mohonkan agar bisa dibangun oleh pemerintah Provinsi atau Kota Bandung," katanya.
Dedi juga ingin mengubah paradigma lama dalam pembangunan infrastruktur. Evaluasi menunjukkan bahwa kerusakan jalan selama ini kerap dipicu oleh sistem drainase yang buruk seperti perbaikan yang tengah digenjot di kawasan Jalan Pasteur.
"Karena problema jalan di Jawa Barat tuh, kelemahannya dari dulu adalah satu, bangun jalan tidak dibuatkan drainase," ungkap Dedi.


















