Dedi Mulyadi saat hadir dikegiatan Jambore Satlinmas di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)
Sedangkan, langkah-langkah politik KDM saat ini dinilai Muradi sangat dekat dengan kelompok menengah. Sehingga, wajar saja ada perbedaan elektabilitas diantara kedua tokoh yang sama dari partai Gerindra itu.
"Yang ketiga, KDM memang mewakili entitas kelas menengah kalau kita bicara soal perilaku politik ataupun manuver politik KDM itu dia mewakili entitas kelas menengah yang hari ini itu lebih dari 60 persen kan suara mereka," katanya.
Muradi menambahkan, sosok KDM pun sangat dekat dengan kelompok kelas menengah ke bawah, dan itu sering dimunculkan ke publik melalui media sosialnya si mana dia berdialog dengan masyarakat langsung yang kini tengah dalam kondisi kesusahan.
"Ditambah kemudian simpatinya publik di level kelas menengah bawah, tadi melihat dia merangkul dan segala macam yang memang pada akhirnya sebagian besar ada repetisi dari Pak Jokowi tapi dia membungkus dengan hal yang berbeda kan gitu," tutur Muradi.
Sebelumnya, Tempo Data Science juga mengungkap perkembangan elektabilitas Dedi meningkat signifikan. Pada Desember 2025, elektabilitasnya ada di angka 15 persen. Pada Februari 2026, elektabilitasnya naik 24 persen dan kini sudah di angka 42 persen.
Sebaliknya, elektabilitas Prabowo terus mengalami penurunan. Pada Desember 2025, elektabilitas Prabowo masih ada di angka 48 persen. Kemudian pada Februari 2026 masih di angka 37 persen.
Di survei tersebut, Tempo Data Science juga mengungkap skenario bila Dedi tidak ikut pilpres pada 2029, maka suaranya diproyeksi akan beralih ke Sherly Tjoanda yakni 16 persen, kemudian disusul Anies Baswedan 13 persen dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 12 persen.
Di sisi lain, bila Prabowo yang tidak ikut Pemilu 2029, maka suaranya akan pindah ke Dedi Mulyadi 24 persen, kemudian Gibran 16 persen dan Anies 12 persen.