Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cerita Gen Z Jadi Penyembelih Hewan Kurban di Sukabumi, Sempat Deg-degan!
Muhammad Fahrudin, gen z yang jadi penyembelih hewan kurban di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)
  • Para santri Gen Z di Ponpes Dzikir Al-Fath Sukabumi dilatih langsung menjadi penyembelih hewan kurban sebagai bentuk regenerasi dan pembekalan sebelum terjun ke masyarakat.
  • Mereka diajarkan teknik penyembelihan yang cepat, tepat, serta beretika dengan menekankan pentingnya memuliakan hewan kurban agar tidak tersiksa selama proses berlangsung.
  • Keterlibatan Gen Z ini bertujuan menepis stigma negatif bahwa anak muda tidak mampu, sekaligus menyiapkan mereka menjadi pemimpin kegiatan keagamaan di masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sukabumi, IDN Times - Idul Adha selalu identik dengan hiruk-pikuk penyembelihan hewan kurban. Menariknya, jika biasanya prosesi ini didominasi oleh bapak-bapak atau orang tua, pemandangan berbeda justru terlihat di Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, Sukabumi. Di sini, para anak muda yang tergolong generasi Z (Gen Z) justru mengambil alih tugas sebagai pemotong hewan kurban.

Bukan sekadar membantu memegang tali atau membagikan daging, para santri muda ini dilatih langsung untuk menjadi eksekutor alias penyembelih. Langkah ini diambil sebagai bentuk regenerasi sekaligus bekal nyata sebelum mereka terjun ke masyarakat.

1. Sempat gemetar dan deg-degan saat pertama kali pegang golok

Muhammad Fahrudin, gen z yang jadi penyembelih hewan kurban di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Menyembelih hewan besar seperti sapi atau domba tentu bukan perkara mudah, apalagi bagi anak muda yang belum memiliki jam terbang. Muhammad Fahrudin (27) asal Bogor yang merupakan salah satu santri sekaligus alumni Ponpes Dzikir Al-Fath menceritakan bagaimana campur aduknya perasaan saat pertama kali harus mengeksekusi hewan kurban tiga tahun lalu.

Meski kini sudah lebih lihai, ia mengaku rasa grogi itu tidak pernah benar-benar hilang, hanya saja sekarang ia jauh lebih bisa mengendalikannya.

"Pertama kali kita deg-degan karena pertama kali. Tapi alhamdulillah setelah lama-kelamaan kita terbiasa. Dan sampai sekarang, deg-degannya masih ada tapi udah enggak terlalu deg-degan kayak awal," ujar Fahru saat diwawancarai di lokasi penyembelihan, Rabu (27/5/2026).

2. Santri diajarkan untuk memuliakan hewan kurban, bukan menyakiti

Suasana ponpes saat penyembelihan hewan kurban (IDN Times/Siti Fatimah)

Dalam proses belajar, para Gen Z ini tidak hanya diajarkan teknik memotong yang cepat dan tepat, tetapi juga ditekankan pada aspek syariat dan etika. Menurutnya, menyembelih kurban bukan sekadar memotong leher hewan, melainkan ada adab yang harus dijaga ketat agar hewan tidak merasa tersiksa.

Memuliakan hewan kurban menjadi poin utama yang selalu ditanamkan oleh guru dan pimpinan pondok pesantren kepada para santri.

"Ya tentu untuk ketika kita menyembelih hewan kurban, kita berupaya tidak menyakiti hewan kurban itu sendiri. Sehingga ketika kita menyembelih diupayakan untuk tidak menyakiti hewannya dan tetap menjaga adab etikanya. Jangan sampai hewan kurban itu digusur-gusur dan sebagainya," tuturnya tegas.

3. Menepis stigma Gen Z gak bisa apa-apa, siap jadi pemimpin di masyarakat

Muhammad Fahrudin, gen z yang jadi penyembelih hewan kurban di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Alasan kuat di balik keterlibatan anak-anak muda ini adalah motivasi untuk mematahkan stigma negatif tentang Gen Z. Di Ponpes Dzikir Al-Fath, mereka ditempa langsung oleh pimpinan pondok untuk menguasai ilmu yang sifatnya fardu kifayah, seperti kepengurusan jenazah dan penyembelihan hewan.

Melalui praktik langsung ini, mereka berharap ketika pulang ke kampung halaman masing-masing, mereka tidak lagi canggung untuk memimpin kegiatan keagamaan.

"Ada pepatah, 'Syubbanul yaum rijalul ghad', pemuda hari ini adalah pemimpin di masa yang akan datang. Kalau misalkan Gen Z tidak belajar dari sekarang untuk menyembelih, kemudian untuk memimpin amaliah ibadah yang ada di masyarakat, nantinya kita siapa lagi yang akan meneruskan nanti para ulama?" ungkapnya penuh semangat.

4. Total sembelih 4 hewan kurban dari puluhan stok di ponpes

Muhammad Fahrudin, gen z yang jadi penyembelih hewan kurban di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Pada perayaan kurban kali ini, Ponpes Dzikir Al-Fath Sukabumi sendiri mengurus total puluhan hewan kurban yang terdiri dari sapi dan domba. Banyaknya jumlah hewan kurban ini menjadi ladang praktik yang sangat berharga bagi para santri muda.

Khusus untuk Fahru, ia mendapatkan bagian untuk mengeksekusi beberapa ekor hewan kurban secara langsung, berbagi tugas dengan tim penyembelih muda lainnya.

"Alhamdulillah per hari ini aja, untuk kurban di tahun 1447 Hijriah ini, di Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath ada 28 hewan kurban, terdiri dari 6 sapi dan 22 domba. Untuk hari ini alhamdulillah (saya menyembelih) 4 hewan kurban, karena 22 (domba) itu dibagi dengan penyembelih yang lainnya," pungkasnya.

Editorial Team

Related Article