Bandung, IDN Times - Pemerintah Kota Bandung mulai serius dalam menurunkan angka anak dengan obesitas yang saat ini cukup tinggi. Dari data dinas kesehatan (Dinkes) per 2025, tiga persen dari 90 ribu anak di Kota Bandung masuk dalam kategori obesitas, artinya ada sekitar 2.700 anak.
Jika sedari kecil sudah masuk kategori obesitas bisa berdampak serius jangka pendek dan panjang, meliputi risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung (hipertensi/kolesterol tinggi), gangguan pernapasan seperti sleep apnea, serta masalah tulang/sendi.
Hal ini yang coba dicegah Pemkot Bandung melalui kampanye pembatasan konsumsi garam, gula, dan lemak, oleh anak khususnya di lingkungan sekolah. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Bandung menempati urutan pertama dalam konsumsi minuman teh kemasan dan minuman bersoda (mengandung CO2) dengan angka 0,54 persen dalam takaran 250 ml per kapita per pekan.
Dengan demikian setiap orang di Kota Bandung mengonsumsi minuman berpemanis sekitar 135 ml per pekan. Selain itu warga Bandung juga gemar mengkonsumsi eskrim, sari buah kemasan, hingga minuman berenergi.
"Nah ternyata memang ada data yang mengatakan, walaupun jumlahnya masih secara presentasi tidak besar, tapi pertembuhannya positif. Bahwa jumlah anak-anak sekolah SD sampai SMP yang masuk kategori gemuk dan obestitas itu naik," kata Farhan, Senin (2/3/2026).
