Angkutan kota (angkot) di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
Farhan memastikan kehadiran angkot listrik tidak ditujukan untuk menghilangkan mata pencaharian pengemudi angkot yang selama ini beroperasi. Menurutnya, kendaraan listrik merupakan bagian dari proses peremajaan armada, sementara pengemudinya tetap berasal dari para pengemudi lama.
“Angkot listrik ini tidak menggerus angkot yang sudah ada. Ini mengganti atau melakukan peremajaan kendaraan yang sudah ada. Sopirnya tetap pemain lama,” ujar Farhan.
Ketua Kopamas Kota Bandung Budi Kurnia mengatakan, pihaknya siap terlibat dalam proses peremajaan tersebut. Saat ini Kopamas memiliki sekitar 475 unit angkutan. Dari jumlah itu, dua unit kendaraan listrik telah digunakan dalam tahap uji coba. Salah satunya bahkan telah mendapatkan izin untuk beroperasi di kawasan Bandara Internasional Husein Sastranegara dan sudah digunakan selama sekitar satu bulan.
Budi mengatakan peralihan menuju kendaraan listrik akan dilakukan secara bertahap. Target jangka panjangnya adalah seluruh armada Kopamas dapat beralih menggunakan kendaraan listrik.
Untuk mendukung operasional, kendaraan nantinya menggunakan sistem pool. Armada ditempatkan di lokasi tertentu untuk kebutuhan pengisian daya dan pemeliharaan. Pemkot Bandung dan Kopamas juga akan melakukan pemetaan lokasi SPKLU yang dibutuhkan untuk mendukung operasional kendaraan.
Sementara itu, CEO PT Sinergi Satu Daya Sean Justin mengatakan pengembangan Bandung Angkot Utama membutuhkan ekosistem pendukung dari hulu hingga hilir, termasuk infrastruktur pengisian daya dan aspek keselamatan baterai.
Melalui Famindo Group, pihaknya berperan sebagai lead integrator dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik, termasuk penyusunan cetak biru transisi kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan listrik.
Dalam pengembangan armada di Kota Bandung, Famindo bekerja sama dengan Indomobil Photon untuk penyediaan kendaraan yang digunakan dalam operasional.