Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AI Mulai Geser Google, Pelaku Usaha Harus Beradaptasi Memanfaatkannya
Ilustrasi Artificial Intelligence (pexels.com/Markus Winkler)
  • Perilaku pencarian informasi masyarakat Indonesia bergeser dari Google ke platform AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Perplexity karena kemampuannya memberikan jawaban langsung tanpa membuka banyak situs.
  • Tessar Napitupulu menilai pelaku usaha perlu beradaptasi dengan strategi Generative Engine Optimization agar konten mereka direkomendasikan oleh mesin AI, bukan hanya tampil di hasil pencarian Google.
  • Tessar merilis buku 'Cited or Silent' yang membahas perubahan perilaku pencarian digital serta pentingnya GEO, meski riset menunjukkan baru 23 persen bisnis di Indonesia menerapkannya secara formal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Cara masyarakat Indonesia mencari informasi di internet mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya pengguna mengandalkan mesin pencari seperti Google untuk menemukan informasi melalui berbagai tautan, kini semakin banyak yang langsung bertanya kepada platform kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Gemini, hingga Perplexity.

Perubahan perilaku tersebut dinilai akan mengubah strategi pelaku usaha dalam membangun kehadiran digital. Pendiri sekaligus CEO PT Arfadia Digital Indonesia, Tessar Napitupulu, bahkan menilai tantangan saat ini bukan lagi sekadar muncul di halaman pertama Google, melainkan bagaimana sebuah merek bisa direkomendasikan oleh mesin AI.

"Selama bertahun-tahun ukuran keberhasilan digital adalah posisi teratas di Google. Sekarang pertanyaannya berubah, apakah sebuah merek disebut ketika seseorang bertanya kepada ChatGPT atau Gemini," kata Tessar dalam keterangan tertulis diterima IDN Times, Selasa (7/7/2026).

1. Masyarakat perlahan mulai beralih

ilustrasi artificial intelligence atau AI (pexels.com/Aerps.com)

Tessar mengatakan, perubahan kebiasaan pengguna internet terjadi seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan generatif. Kini, pengguna tidak lagi harus membuka banyak situs untuk memperoleh informasi karena AI mampu merangkum jawaban dalam satu percakapan.

Ia mencontohkan seseorang yang ingin membeli kamera kini cukup meminta rekomendasi kepada AI tanpa harus membuka banyak laman ulasan seperti sebelumnya.

Perubahan tersebut juga tercermin dalam riset Arfadia yang mencatat lebih dari 58 persen pencarian Google di Indonesia berakhir tanpa pengguna mengunjungi situs web. Di sisi lain, sekitar 37,9 persen pengguna internet berusia 16 tahun ke atas di Indonesia disebut telah menggunakan ChatGPT.

2. Pelaku usaha diminta beradaptasi dengan tren baru

Ilustrasi teknologi Artificial Intelligence (AI). Sumber: Pinterest

Menurut Tessar, perubahan pola pencarian informasi akan berdampak langsung terhadap strategi pemasaran digital perusahaan. Jika sebelumnya perusahaan berlomba mengoptimalkan posisi di mesin pencari melalui Search Engine Optimization (SEO), kini mereka juga harus memikirkan bagaimana kontennya dapat dijadikan rujukan oleh platform AI.

Konsep tersebut dikenal sebagai Generative Engine Optimization (GEO), yakni strategi menyusun konten agar lebih mudah dipahami dan dikutip oleh mesin AI ketika menjawab pertanyaan pengguna.

"Kalau sebuah merek tidak pernah disebut mesin AI, praktis visibilitasnya akan berkurang," ujarnya.

3. Buku jadi pintu masuk membahas tren baru pemasaran digital

Praktisi pemasaran digital Tessar Napitupulu meluncurkan buku keduanya tentang bagaimana sebuah merek tetap terlihat ketika pencarian berpindah dari Google ke mesin kecerdasan buatan. IDN Times/Istimewa

Fenomena tersebut menjadi alasan Tessar menerbitkan buku berjudul Cited or Silent. Buku itu membahas perubahan perilaku pencarian informasi sekaligus strategi agar sebuah merek tetap relevan di era AI.

Dalam buku tersebut, Tessar juga mengulas perkembangan berbagai platform AI, optimasi pencarian di media sosial, hingga proyeksi perubahan mesin pencari dalam beberapa tahun ke depan.

Meski demikian, konsep Generative Engine Optimization masih tergolong baru. Sejumlah praktisi masih memperdebatkan efektivitas maupun ukuran keberhasilannya dibandingkan SEO konvensional. Riset Arfadia sendiri menyebut baru sekitar 23 persen bisnis di Indonesia yang telah memiliki strategi GEO secara formal.

Editorial Team

Related Article