Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AI Didorong Penggunaannya untuk Pemerataan Akses Kesehatan para Ibu
Pelayanan kesehatan ibu dan bayi
  • Teknologi AI dan big data dimanfaatkan untuk memperkuat layanan kesehatan perempuan dari pra-kehamilan hingga menopause, namun penggunaannya harus tetap etis dan sesuai regulasi.
  • POGI menegaskan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan angka kematian ibu di berbagai daerah.
  • Pemberdayaan kader kesehatan serta penguatan sistem pemantauan digital dinilai penting agar deteksi risiko kesehatan perempuan dapat dilakukan lebih dini dan menyeluruh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu di Indonesia. Namun, organisasi profesi dokter kandungan mengingatkan pemanfaatan teknologi tidak akan berdampak maksimal jika masih terjadi ketimpangan akses layanan kesehatan di berbagai daerah.

Isu tersebut menjadi sorotan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XXVIII Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Selain membahas inovasi digital, forum itu juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menekan angka kematian ibu (AKI) yang masih menjadi tantangan nasional.

Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan Angka Kematian Ibu (Maternal Mortality Ratio/MMR) Indonesia mencapai 144 kematian per 100 ribu kelahiran hidup. Sementara itu, Kementerian Kesehatan menilai penurunan AKI menjadi salah satu prioritas nasional karena tingginya angka kematian ibu masih menjadi persoalan di sejumlah daerah.

1. Teknologi digital dapat mempercepat deteksi risiko ibu hamil

AI Didorong Penggunaanya untuk Pemerataan Akses Kesehatan para Ibu. IDN Times/Istimewa

Ketua Umum PP POGI, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.O.G., Subsp. F.E.R., MPH., FRANZCOG (Hons)., FICRM., mengatakan bahwa AI dan big data dapat dimanfaatkan untuk memperkuat layanan kesehatan reproduksi perempuan sejak sebelum hamil, masa kehamilan, persalinan, hingga menopause.

Menurutnya, digitalisasi melalui gerakan SPRIN, integrasi Gelang Kehamilan Cemerelang (GEMILANG), serta Buku KIA digital diharapkan membuat pemantauan kondisi ibu menjadi lebih menyeluruh.

"Dalam navigasi pelayanan kesehatan masa kini, POGI mendorong implementasi gerakan SPRIN, termasuk digitalisasi Buku KIA, guna mengawal kesehatan perempuan secara holistik sejak sebelum hamil, masa kehamilan, pasca persalinan, hingga menopause," kata Budi melalui siaran pers, Rabu (22/7/2026).

Meski demikian, ia menegaskan AI hanya bisa menjadi alat bantu. Penggunaan teknologi tetap harus berada dalam koridor etika, profesionalisme, dan regulasi agar tidak menimbulkan penyalahgunaan data kesehatan.

2. Kolaborasi disebut jadi kunci menekan angka kematian ibu

Ilustrasi jenazah. (timlo.net)

POGI menilai, keberhasilan menurunkan angka kematian ibu tidak cukup mengandalkan inovasi teknologi. Dibutuhkan kerja sama pemerintah, organisasi profesi, rumah sakit, puskesmas, hingga kader kesehatan di tingkat desa.

Pandangan itu sejalan dengan program Kementerian Kesehatan yang pada 2025 meluncurkan Program Pengampuan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Jawa Barat. Program tersebut bertujuan memperkuat jejaring rumah sakit rujukan dan fasilitas kesehatan daerah agar mampu menekan angka kematian ibu dan bayi.

Ketua POGI Jawa Timur 2 (Malang), Dr. dr. Hj. Yessi Rahmawati, mengatakan, sinergi lintas sektor menjadi faktor penting di balik keberhasilan Jawa Timur meraih SPRIN National POGI Awards 2026.

"Keberhasilan menurunkan angka kematian ibu dan bayi tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi antara organisasi profesi, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta masyarakat," ujarnya.

3. Pemberdayaan kader kesehatan harus ditingkatkan

Bidan Puskesmas Miroto, Farida Prafitasari (kanan) memeriksa kandungan dan kesehatan ibu hamil di kawasan padat penduduk di Semarang, Jawa Tengah. Pemantauan ibu hamil ini merupakan implementasi dari program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5NG) yang dilakukan secara sistematis dan terpadu untuk menurunkan angka stunting (tengkes) sejak dini atau mulai dari janin. (IDN Times/Dhana Kencana)

Ke depan, Dr. Yessi menilai penguatan sistem pemantauan kesehatan perempuan secara menyeluruh masih menjadi tantangan yang perlu dijawab, termasuk melalui pengembangan dashboard kesehatan yang mampu memantau perjalanan kesehatan perempuan sejak remaja hingga usia reproduktif.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pemberdayaan kader kesehatan di masyarakat sebagai garda terdepan dalam mendeteksi risiko sejak dini, dengan dukungan bidan, puskesmas, dan sistem rujukan yang kuat.

“Kader kesehatan harus terus diperkuat dan didukung dengan sistem monitoring serta evaluasi yang baik agar kita dapat menciptakan perempuan usia reproduktif yang sehat dan siap melahirkan generasi emas Indonesia,” ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article