Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
14 Warga Sukabumi Gagal Berangkat Umroh gegara Dokumen Palsu
Warga Sukabumi gagal berangkat umroh (dok IDN Times)

Sukabumi, IDN Times - Harapan 14 jemaah umrah asal Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, untuk berangkat ke Tanah Suci berubah menjadi pengalaman pahit. Mereka gagal terbang setelah dokumen perjalanan yang dibawa diduga tidak sah.

Selama empat hari, para jemaah terpaksa bertahan di Bandara Soekarno-Hatta. Koper sudah di tangan, perlengkapan ibadah telah disiapkan, namun keberangkatan yang dinanti justru tertunda akibat persoalan administrasi.

1. Dokumen diduga dipalsukan agen travel

Laporan polisi kasus travel umroh palsukan dokumen jemaah (dok IDN Times)

Kuasa hukum korban, Apriyanto, menjelaskan para jemaah awalnya mendaftar melalui PT Hasan Berkah Wisata yang dipimpin terduga berinisial AH. Total dana yang telah disetorkan mencapai sekitar Rp300 juta, dengan biaya per orang kurang lebih Rp30 juta.

Masalah terkuak saat rombongan sudah tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Setelah proses pemeriksaan, dokumen perjalanan mereka dinyatakan tidak valid.

“Klien kami baru mengetahui saat di bandara bahwa visa, tiket, dan seluruh dokumen perjalanan diduga palsu dan hasil editan,” ujar Apriyanto, Jumat (27/2/2026).

2. Empat hari menunggu dengan ketidakpastian

ilustrasi bandara (Pexels.com/Berk Aktas)

Akibat persoalan tersebut, para jemaah terpaksa bertahan selama empat hari di bandara. Mereka membawa koper dan perlengkapan ibadah, namun tidak bisa berangkat sesuai jadwal.

"Situasi ini menimbulkan tekanan mental yang berat, baik bagi jemaah maupun pihak yang ikut merekrut mereka," ujarnya.

3. Koordinator talangi Rp500 juta demi berangkatkan jemaah

ilustrasi umroh (pexels.com/Ali Karim)

Demi menjaga amanah dan tanggung jawab moral, pihak koordinator akhirnya mengambil langkah darurat. Mereka mengeluarkan dana pribadi hingga Rp500 juta untuk menalangi keberangkatan mendadak agar para jemaah tetap bisa menunaikan ibadah umrah.

Usup Junansyah, yang ikut merekrut jemaah sekaligus menjadi korban, mengaku terpukul dengan kejadian ini. Ia awalnya tertarik bekerja sama dengan PT Hasan Berkah Wisata karena tawaran bonus besar dan kemudahan perizinan.

“Kami empat malam di bandara. Beban moralnya luar biasa, jemaah sampai menangis karena terpukul gagal berangkat tepat waktu. Akhirnya kami talangi agar mereka tetap bisa ke Tanah Suci,” tuturnya.

Kini para korban berharap aparat kepolisian segera menindaklanjuti kasus tersebut, termasuk mengusut legalitas PT Hasan Berkah Wisata yang beralamat di Desa Berkah, Kecamatan Bojonggenteng.

"Mereka ingin ada kejelasan hukum agar peristiwa serupa tak kembali menimpa calon jemaah umrah lainnya," pungkasnya.

Editorial Team