Isu Transparansi Jadi Kunci Kepercayaan di Industri Kripto

- Proof of Reserves menjadi fondasi transparansi pengelolaan aset
- Nilai aset pengguna dalam PoR tumbuh hampir dua kali lipat
- Teknologi verifikasi dan penguatan keamanan berlapis
Bandung, IDN Times - Kepercayaan menjadi isu krusial di industri aset kripto, terutama di tengah dinamika global yang masih fluktuatif. Pengguna kini semakin kritis dalam memastikan keamanan dan ketersediaan dana yang mereka simpan di platform perdagangan aset digital.
Menjawab kebutuhan tersebut, transparansi pengelolaan dana menjadi salah satu indikator utama yang diperhatikan publik. Mekanisme verifikasi yang bisa diakses dan dipantau secara terbuka pun dinilai mampu memperkuat rasa aman pengguna.
Di Indonesia, upaya memperjelas pengelolaan aset kripto juga sejalan dengan pengawasan regulator yang semakin ketat. Hal ini mendorong pelaku industri untuk menghadirkan sistem yang lebih akuntabel dan terukur.
Dalam konteks tersebut, Tokocrypto kembali menegaskan komitmennya melalui publikasi Proof of Reserves sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan jangka panjang pengguna.
1. Proof of Reserves jadi fondasi transparansi pengelolaan aset

Tokocrypto telah menerapkan Proof of Reserves (PoR) atau Bukti Cadangan sebagai mekanisme verifikasi yang memungkinkan publik meninjau ketersediaan aset pengguna secara transparan. Sistem ini memastikan bahwa dana pengguna dikelola secara bertanggung jawab dan dapat diverifikasi.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana menegaskan bahwa transparansi menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan pengguna, khususnya di tengah kekhawatiran publik terkait keamanan aset di industri kripto.
“Di tengah kembali munculnya kekhawatiran publik soal keamanan aset nasabah di industri, Tokocrypto memastikan dana pengguna dikelola secara bertanggung jawab dan dapat diverifikasi. Proof of Reserves kami adalah bentuk komitmen transparansi agar pengguna bisa melihat dan mengecek bahwa aset mereka tersedia secara utuh,” ujar Calvin.
Tokocrypto sendiri telah merilis Proof of Reserves sejak 2023. Sebagai pedagang aset kripto yang berlisensi OJK, langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk menghadirkan standar transparansi yang konsisten di industri kripto nasional.
2. Nilai aset pengguna dalam PoR tumbuh hampir dua kali lipat

Sejak pertama kali diperkenalkan, nilai aset pengguna yang tercatat dalam sistem Proof of Reserves Tokocrypto menunjukkan pertumbuhan signifikan. Per 1 Januari 2026, total aset pengguna yang terverifikasi mencapai USD345.379.785 atau sekitar Rp5,806 triliun.
Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan hampir dua kali lipat dibandingkan periode awal peluncuran PoR. Menurut Calvin, capaian ini juga menunjukkan minat investasi aset kripto yang masih terjaga di kalangan pengguna.
“Pertumbuhan nilai aset pengguna dalam PoR hingga sekitar USD345 juta per 1 Januari 2026 menunjukkan minat investasi kripto pengguna yang tetap tinggi. Kami melihat potensi pertumbuhan ini masih bisa berlanjut seiring meningkatnya partisipasi investor dan semakin matangnya ekosistem aset kripto di Indonesia,” kata Calvin.
Aset yang tercatat dalam Proof of Reserves Tokocrypto didominasi oleh token berkapitalisasi besar dan aktif diperdagangkan. Hingga awal 2026, aset tersebut mencakup Bitcoin (BTC) sebesar 1.246,79999263 BTC, Ethereum (ETH) sebesar 10.005,61888101 ETH, BNB sebesar 12.272,89562512 BNB, serta Tether (USDT) sebesar 75.520.184,47678899 USDT.
3. Teknologi verifikasi dan penguatan keamanan berlapis

Dalam implementasinya, Tokocrypto mengadopsi teknologi Merkle Tree dan zk-SNARKs untuk memastikan proses verifikasi berjalan akurat sekaligus menjaga privasi pengguna. Melalui Merkle Tree, pengguna dapat melakukan verifikasi mandiri untuk memastikan saldo mereka tercatat dalam total kewajiban perusahaan.
Sementara itu, teknologi zk-SNARKs memungkinkan pembuktian bahwa total saldo pengguna setara atau lebih kecil dari total aset cadangan tanpa membuka informasi sensitif.
“Kami menerapkan verifikasi berbasis Merkle Tree dan zk-SNARKs untuk memastikan audit cadangan aset lebih akurat sekaligus menjaga privasi. Pengguna juga bisa melakukan self-verification untuk memastikan saldo mereka tercatat dalam perhitungan, dengan prinsip cakupan aset satu banding satu,” tutur Calvin.
Tokocrypto juga menegaskan bahwa aset perusahaan dicatat secara terpisah dan tidak dimasukkan dalam perhitungan Proof of Reserves. Selain itu, perusahaan terus memperkuat sistem keamanan melalui enkripsi data, proteksi API, teknologi deteksi intrusi, serta firewall, didukung sertifikasi ISO 27001 dan ISO 27017.
Hingga Desember 2025, total nilai transaksi Tokocrypto telah melampaui Rp150 triliun, menandai kinerja yang tetap solid di tengah koreksi pasar global.

















