Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[WANSUS] Tantangan HIlirisasi Nilam di Balik Industri Parfum
Direktur PT Sanum Aditama Kosmindo, Purnomo. Dok. IDN TImes-Azzis Zulkhairil
  • Industri parfum Indonesia tumbuh didorong brand lokal dan pasar Gen Z, dengan konsumen cenderung memilih parfum berkadar tinggi serta aroma fruity, vanilla, dan manis.
  • Indonesia melimpah nilam, tetapi keterbatasan industri fraksinasi membuat minyak nilam banyak diekspor untuk diolah menjadi patchouli alcohol bernilai tambah.
  • Pelaku industri menilai hilirisasi belum optimal; mereka mengharapkan kemudahan perizinan dan kepastian regulasi, sementara petani dinilai paling rentan dalam rantai distribusi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
10 tahun lalu

Pasar parfum Indonesia banyak diisi parfum impor, produk refill, dan produk di modern market.

sekitar 5-10 tahun terakhir

Industri parfum lokal mulai berkembang. Pertumbuhan ini mendorong perluasan pasar dan kebutuhan pengolahan bahan baku domestik.

kini

Brand lokal semakin mendapat tempat dan pasar parfum meluas, terutama di kalangan muda. Namun, industri fraksinasi nilam masih terbatas sehingga minyak nilam banyak diekspor untuk diproses lebih lanjut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Industri parfum Indonesia berkembang dengan naiknya brand lokal, sementara hilirisasi minyak nilam masih terbatas karena fasilitas fraksinasi dalam negeri belum banyak tersedia.
  • Who?
    Purnomo, Direktur PT Sanum Aditama Kosmindo, menyoroti produsen parfum lokal, petani nilam, pelaku essential oil, serta pemerintah dalam perkembangan industri ini.
  • Where?
    Nilam tumbuh terutama di Aceh, sejumlah wilayah Sumatra, Sulawesi Selatan, dan Jawa Barat. Minyak nilam Indonesia banyak dikirim ke Eropa untuk diproses lebih lanjut.
  • When?
    Brand parfum lokal mulai berkembang kuat sekitar lima hingga 10 tahun terakhir. PT Sanum Aditama Kosmindo resmi berdiri pada 2022.
  • Why?
    Pelaku usaha masih banyak mengekspor minyak nilam karena pembangunan pabrik fraksinasi memerlukan investasi, tenaga kerja, perizinan, dan menghadapi risiko bisnis, sementara permintaan sebelumnya belum besar.
  • How?
    Nilam disuling menjadi essential oil, lalu difraksinasi untuk memisahkan patchouli alcohol. Bahan itu diolah perfumer menjadi fragrance oil sebelum dicampur dan diproduksi menjadi parfum jadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Parfum lokal di Indonesia makin banyak dan disukai anak muda. Indonesia punya tanaman nilam untuk bahan parfum. Tapi minyak nilam sering dikirim ke luar negeri untuk diolah. Pabrik pengolahnya di Indonesia masih sedikit. Purnomo berharap aturan usaha lebih mudah agar nilam bisa diolah di sini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pertumbuhan brand lokal dan meningkatnya pemahaman konsumen terhadap parfum membuka ruang yang semakin hidup bagi industri wewangian Indonesia. Pasar yang luas, dukungan layanan produksi bagi merek baru, serta ketersediaan nilam di berbagai daerah menunjukkan fondasi domestik yang kuat untuk menghadirkan lebih banyak nilai dalam rantai industri parfum.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Industri parfum di Indonesia tengah mengalami pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir. Bermunculannya brand lokal hingga semakin luasnya pasar dari kalangan generasi muda membuat bisnis wewangian semakin berkembang.

Direktur PT Sanum Aditama Kosmindo, Purnomo, melihat perubahan cukup besar dalam industri parfum dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya pasar banyak diisi produk impor, parfum refill, dan produk yang dijual di modern market, kini brand lokal semakin mendapatkan tempat.

Di sisi lain, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk mengembangkan industri parfum dari hulu hingga hilir. Tanaman nilam, salah satu bahan penting dalam industri wewangian, tumbuh subur di sejumlah wilayah Indonesia.

Namun, persoalannya terletak pada pengolahan bahan baku. Menurut Purnomo, industri fraksinasi yang mengolah essential oil menjadi bahan baku parfum bernilai tambah masih terbatas di Indonesia. Akibatnya, minyak nilam Indonesia masih banyak dikirim ke luar negeri untuk diproses lebih lanjut.

Berikut wawancara khusus IDN Times dengan Purnomo mengenai perkembangan industri parfum, tren konsumen, potensi nilam Indonesia, hingga tantangan hilirisasi:

IDN Times: Sebenarnya PT Sanum Aditama Kosmindo bergerak di bidang apa?

Purnomo: PT Sanum Aditama Kosmindo bergerak di bidang industri kosmetik. Di Indonesia, parfum masuk dalam kategori industri kosmetik, salah satunya subindustri pewangi. Kami sendiri fokus kepada parfum dan turunannya. Jadi, untuk sementara ini memang spesialis di parfum.

IDN Times: Jenis parfum yang diproduksi seperti apa?

Purnomo: Secara umum ada beberapa kategori. Mulai dari Eau de Cologne yang relatif ringan, dengan kadar parfum sekitar maksimal 5 persen. Kemudian ada Eau de Toilette dengan kadar sekitar 10-15 persen. Setelah itu Eau de Parfum yang bisa sampai sekitar 20 persen. Di atasnya ada Extrait de Parfum dengan kadar parfum paling tinggi. Kalau berbicara bahan bakunya lebih luas lagi karena ada patchouli atau nilam dan berbagai bahan lainnya.

IDN Times: Dari beberapa kategori tersebut, mana yang paling diminati konsumen Indonesia?

Purnomo: Karena Indonesia panas, rata-rata orang ingin dosis parfum yang lebih tinggi. Sekarang banyaknya Extrait de Parfum. Paling minimal biasanya Eau de Parfum.

IDN Times: Apakah masyarakat sudah memahami perbedaan kategori parfum tersebut?

Purnomo: Sekarang masyarakat sudah cukup familiar karena produk-produk itu sebenarnya sudah menjadi produk massal. Kalau bicara sepuluh tahun lalu, produk end product yang dikenal masyarakat paling tinggi mungkin Eau de Parfum. Sementara yang beredar di modern market seperti minimarket lebih banyak Eau de Toilette. Kalau zaman dulu masih banyak Cologne. Generasi saya mungkin pernah mendengar produk seperti "She" atau "Splash". Itu Eau de Cologne dengan kadar parfum sekitar 5 persen.

IDN Times: Aroma seperti apa yang paling banyak diminati konsumen Indonesia?

Purnomo: Kalau Indonesia, mayoritas masih fruity, vanilla, dan manis. Menurut saya ini lebih berkaitan dengan cuaca. Orang Eropa cenderung tidak menyukai wangi yang terlalu menyebar karena cuacanya dingin. Mereka lebih nyaman dengan aroma yang lembut atau skin scent.

Berbeda dengan Indonesia yang merupakan negara tropis dan panas. Orang berkeringat sehingga membutuhkan parfum dengan projection dan longevity yang lebih kuat. Sampai sekarang trennya masih sama. Woody juga ada, tetapi kalau berbicara persentase, lebih dari 60-70 persen produk yang laku di Indonesia masih cenderung fruity.

IDN Times: Apakah fruity memang sudah menjadi favorit sejak sebelum tahun 2000?

Purnomo: Sepengalaman saya, sebelum dan setelah tahun 2000, fruity tetap menjadi salah satu yang dominan. Fruity juga secara longevity cukup bagus. Untuk menutupi bau keringat atau bau badan, aroma seperti itu efektif. Berbeda dengan aroma fresh yang biasanya bagus di awal tetapi longevity-nya tidak terlalu panjang.

IDN Times: Bagaimana perubahan pasar parfum Indonesia dalam beberapa tahun terakhir?

Purnomo: Sebenarnya pengguna parfum di Indonesia sudah besar sejak dulu. Hanya saja pasarnya terdistribusi melalui berbagai saluran. Sepuluh tahun lalu orang membeli parfum dari parfum luar negeri atau merek-merek terkenal. Kemudian ada refill yang harganya lebih terjangkau dan menjadi penyumbang pasar yang besar. Ada juga modern market seperti Alfamart dan Indomaret.

Sekarang pasar tersebut tetap ada, tetapi muncul pengembangan baru melalui brand-brand lokal. Brand lokal banyak menggaet Gen Z. Orang yang sekarang masih SMP, SMA, atau kuliah sudah menggunakan parfum. Bahkan anak-anak yang lebih muda juga mulai mengenal parfum. Artinya, pasar sekarang semakin luas.

IDN Times: Jadi, tren parfum Indonesia mulai bergeser dari produk luar ke brand lokal?

Purnomo: Kalau bicara tren, awalnya parfum masuk ke Indonesia banyak berasal dari desainer Eropa. Negara berkembang seperti Indonesia menjadi follower. Namun, seiring waktu, UMKM dan industri parfum berkembang, terutama brand lokal. Sekarang brand lokal cukup mendominasi di Indonesia.

Jadi, yang tadinya berkiblat ke Eropa mulai bergeser ke lokal. Kalau bicara wangi, sebenarnya tidak ada yang memiliki aroma tertentu. Misalnya Eropa floral dan Indonesia fruity, itu bukan berarti aroma tersebut milik wilayah tertentu. Itu lebih kepada tren. Sekarang konsumen Indonesia juga mulai memahami notes parfum sehingga mulai memiliki tren tersendiri.

IDN Times: Bagaimana Anda melihat fenomena parfum dupe? Apakah justru merusak pasar brand lokal?

Purnomo: Kalau kita bicara market share, pasar Indonesia didominasi kelompok menengah ke bawah. Untuk parfum desainer yang harganya Rp1,5 juta sampai Rp5 juta per botol, tentu market-nya lebih kecil. Tidak semua orang dengan penghasilan setara UMK bisa membeli parfum dengan harga seperti itu. Karena itu, dupe menjadi alternatif bagi masyarakat middle-low. Begitu juga refill dan parfum dengan harga lebih terjangkau.

IDN Times: Apakah aroma parfum bisa dipatenkan?

Purnomo: Yang bisa dilindungi adalah merek, logo, dan unsur identitas lainnya. Kalau aromanya sendiri, setahu saya tidak bisa dipatenkan seperti merek. Misalnya seseorang tidak bisa mengatakan aroma melati dipatenkan oleh dirinya sehingga orang lain tidak boleh menggunakan aroma melati. Selain itu, dupe juga tidak mungkin 100 persen sama dengan produk aslinya. Bahan bakunya berbeda. Yang dilakukan adalah membuat aroma yang mirip atau mendekati karakter parfum tertentu.

Jadi, menurut saya, pasarnya memang berbeda. Parfum dengan harga Rp3-5 juta memiliki pasar sendiri. Produk Rp50 ribuan, refill, atau produk lokal dengan harga lebih terjangkau juga memiliki pasar sendiri.

IDN Times: Seperti apa sebenarnya rantai industri parfum dari hulu hingga hilir?

Purnomo: Prosesnya dimulai dari essential oil atau minyak atsiri yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Misalnya patchouli atau nilam, sereh atau lemongrass, clove oil, dan berbagai tanaman lainnya. Bahan tersebut disuling oleh petani atau industri hingga menghasilkan essential oil.

Untuk nilam, misalnya, minyak nilam dari petani memiliki kandungan patchouli alcohol atau PA. Kandungannya sekitar 30 persen. Sisanya merupakan berbagai zat lain. Minyak nilam tersebut kemudian harus melalui proses fraksinasi. Kurang lebih seperti proses penyulingan kembali untuk memisahkan patchouli alcohol dari komponen lainnya.

Patchouli alcohol inilah yang menjadi salah satu bahan baku parfum. Setelah menjadi bahan baku, kemudian diproses oleh perfumer menjadi fragrance oil dengan formulasi tertentu. Bagi produsen seperti kami, fragrance oil tersebut sudah menjadi bahan setengah jadi. Kami kemudian melakukan proses pencampuran dan produksi hingga menjadi produk parfum jadi.

IDN Times: Apakah proses mendapatkan patchouli alcohol tersebut mudah dilakukan di Indonesia?

Purnomo: Ini justru menjadi dilema di Indonesia. Industri fraksinasi masih belum banyak. Kalau dihitung, perusahaan yang melakukan proses fraksinasi bisa dihitung dengan jari. Akibatnya, minyak nilam dari Indonesia banyak yang diekspor ke Eropa. Di sana minyak tersebut diproses menjadi bahan baku hasil fraksinasi, kemudian bahan tersebut digunakan kembali dalam industri parfum. Jadi, tantangannya ada di situ.

IDN Times: Padahal Indonesia memiliki tanaman nilam yang melimpah?

Purnomo: Sangat melimpah. Nilam sangat subur di Indonesia, terutama di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra serta Sulawesi Selatan. Di Jawa Barat juga banyak, tetapi ada keterbatasan lahan.

IDN Times: Mengapa industri fraksinasi belum berkembang padahal bahan bakunya ada?

Purnomo: Industri parfum lokal sendiri baru mulai benar-benar berkembang sekitar 5-10 tahun terakhir. Sebelumnya Indonesia lebih banyak menjadi penerima barang jadi impor. Jadi, ketika permintaan belum besar, mungkin bagi perusahaan lebih menguntungkan menjual bahan baku daripada membangun pabrik fraksinasi, mempekerjakan tenaga kerja, mengurus perizinan, dan menanggung berbagai risiko.

Dalam bisnis, semuanya kembali kepada perhitungan. Kalau menjual essential oil ke luar negeri lebih menguntungkan daripada membangun pabrik fraksinasi, merekrut tenaga kerja, mengurus izin, dan menanggung risiko, tentu pelaku usaha akan memilih ekspor.

IDN Times: Kalau proses pengolahan bahan baku tersebut dilakukan di dalam negeri, seberapa besar dampaknya terhadap industri parfum?

Purnomo: Kalau itu memang membutuhkan kebijakan dan regulasi pemerintah. Bahan baku parfum merupakan komoditas global. Banyak industri besar yang memiliki pabrik di Eropa, China, dan Asia. Mereka mempunyai kebijakan korporasi dan standar sendiri. Misalnya bahan baku harus dibeli dari pusat mereka di Eropa. Ketika kita membeli dari produsen fraksinasi di Indonesia, mereka harus melakukan pengecekan standar lagi. Karena itu, kebijakan grup dan standardisasi menjadi salah satu faktor.

IDN Times: Apakah program hilirisasi yang didorong pemerintah sudah terasa di industri parfum?

Purnomo: Saya bukan di bidang hulu, jadi belum bisa mengatakan pengaruhnya besar atau kecil. Saya hanya melihat beberapa teman yang bergerak di essential oil masih banyak yang memilih ekspor. Artinya, hilirisasi masih belum berjalan optimal.

IDN Times: Bagaimana prospek bisnis parfum ke depan?

Purnomo: Kalau bicara parfum, bisnis ini sampai kapan pun akan tetap bagus. Orang dari bayi sampai meninggal membutuhkan parfum. Bahkan dalam konteks tertentu, parfum juga digunakan dalam proses pemulasaraan jenazah. Parfum juga bagian dari fashion. Jadi, kebutuhannya akan terus ada dan trennya terus berubah.

IDN Times: Indonesia sendiri sebesar apa pasarnya dibanding negara Asia lainnya?

Purnomo: Indonesia termasuk yang paling besar. Indikator utamanya adalah jumlah penduduk dan market size yang besar. Selain itu, konsumsi parfum di Indonesia juga cukup tinggi. Orang Indonesia bisa memakai parfum beberapa kali sehari. Pagi sebelum berangkat, sampai kantor bisa memakai lagi, kemudian ketika hendak meeting atau bertemu orang bisa memakai lagi.

Budaya juga berpengaruh. Di Jepang, misalnya, penggunaan parfum yang terlalu menyengat cenderung tidak disukai dalam situasi tertentu. Itu bukan aturan tertulis, tetapi lebih kepada kebiasaan dan budaya. Thailand juga hampir sama dengan Indonesia, tetapi jumlah penduduk Indonesia membuat market size-nya lebih besar.

IDN Times: Apa bahan baku parfum yang paling mahal?

Purnomo: Tergantung bahan bakunya. Ada bahan natural dan ada bahan sintetis. Bahan natural bisa berasal dari patchouli atau nilam. Minyak nilam dari petani misalnya harganya sekitar Rp1,5 juta per kilogram, meskipun harga dapat berubah.

Kalau kandungan patchouli alcohol-nya sekitar 30 persen, setelah diproses tentu nilai bahan tersebut menjadi lebih tinggi karena ada proses fraksinasi dan biaya produksi. Bahan natural yang lebih sulit seperti oud atau benzoin harganya jauh lebih mahal. Bisa sekitar Rp30 juta sampai Rp100 juta per kilogram, tergantung jenis dan kualitas.

IDN Times: Mengapa oud begitu mahal?

Purnomo: Oud berasal dari gaharu. Untuk mendapatkan kayu gaharu membutuhkan waktu yang sangat lama. Setelah itu kayunya harus diproses lagi menjadi minyak gaharu. Prosesnya panjang sehingga harga bahan naturalnya sangat mahal. Karena itu, industri parfum juga menggunakan bahan sintetis. Misalnya ingin mendapatkan karakter aroma gaharu, bisa dibuat bahan sintetis yang memberikan karakter mirip gaharu.

IDN Times: Apakah bahan sintetis bisa menyamai bahan natural?

Purnomo: Karakternya berbeda. Bahan natural memiliki karakter naturalnya sendiri, sementara sintetis memiliki karakter yang berbeda. Tetapi secara fungsi, bahan sintetis dapat digunakan untuk membentuk karakter aroma tertentu. Kalau berbicara green economy, penggunaan bahan sintetis juga bisa menjadi pilihan karena tidak harus mengambil bahan dari alam secara berlebihan. Berbeda dengan nilam yang relatif mudah dibudidayakan. Tanaman nilam bisa dipanen dalam hitungan bulan, sekitar tiga sampai empat bulan.

IDN Times: Saat ini Sanum memiliki berapa klien?

Purnomo: Ratusan. Sekitar seratus lebih, kurang lebih. Semuanya brand lokal. Ada beberapa konsumen dari Malaysia yang datang ke sini, sekitar dua atau tiga, tetapi secara umum klien kami lokal. Sanum secara resmi sebagai badan hukum berdiri pada 2022. Namun, pengalaman kami di industri parfum sudah puluhan tahun, sejak sekitar awal 2000-an.

IDN Times: Berapa tenaga kerja yang diserap Sanum?

Purnomo: Saat ini hampir 50 orang, baik yang bekerja di pabrik maupun kantor.

IDN Times: Layanan apa saja yang bisa diberikan Sanum kepada brand yang ingin membuat parfum?

Purnomo: Kami bisa all in. Kalau ada brand yang datang dan sama sekali belum mengetahui industri parfum, kami bisa membantu dari awal. Mulai dari desain, packaging, botol, fragrance, produksi sampai produk jadi dan izin edar. Kami juga memberikan konsultasi marketing, terutama digital marketing.

Untuk izin BPOM, kami yang mengurus karena kami merupakan pabrik. Tentunya tetap ada syarat dan ketentuan, termasuk terkait jumlah produksi atau minimum order quantity (MOQ). MOQ kami relatif rendah, sekitar 500-1.000 botol per varian. Bahkan untuk jumlah minimal bisa sekitar 500 botol, sedangkan perusahaan lain bisa mencapai 3.000-5.000 botol.

IDN Times: Bagaimana dukungan pemerintah terhadap industri parfum saat ini?

Purnomo: Dukungan ada dalam berbagai bentuk, misalnya business matching, pameran, promosi, dan kunjungan dari pemerintah daerah. Kami juga pernah mengikuti business matching bersama Bea Cukai. Ada pula kegiatan dari Disperindag dan pemerintah daerah.

Namun, harapan kami sebenarnya sederhana, yaitu kemudahan dalam berusaha. Yang paling penting adalah kemudahan perizinan dan kepastian dalam menjalankan usaha.

IDN Times: Apa kendala perizinan yang masih dirasakan?

Purnomo: Salah satunya sistem perizinan yang terus diperbarui.

Sekarang ada OSS dan regulasi baru. Kadang undang-undangnya sudah ada, tetapi infrastrukturnya belum siap. Di sistem sudah seolah-olah terhubung, tetapi ketika digunakan belum benar-benar terhubung. Untuk industri kosmetik, kami juga harus mengurus izin edar BPOM. Ada perpanjangan dan penambahan yang harus dilakukan secara berkala.

Sekarang industri kosmetik juga masuk kategori risiko tinggi berdasarkan PP Nomor 28. Karena parfum berada di bawah industri kosmetik, maka ikut masuk dalam kategori tersebut. Menurut saya, karakteristik risiko parfum sebenarnya berbeda dengan produk skincare. Parfum juga tidak selalu harus digunakan langsung pada kulit karena bisa diaplikasikan pada pakaian. Karena itu, regulasinya diharapkan tetap memberikan perlindungan konsumen tetapi juga tidak mempersulit industri.

IDN Times: Dari seluruh rantai industri parfum, siapa yang paling diuntungkan secara finansial?

Purnomo: Kalau bicara keseluruhan kue dari hulu sampai hilir, secara ideal porsi terbesar ada di brand. Brand mengambil harga jual paling tinggi, tetapi tanggungannya juga banyak. Ada biaya pemasaran, karyawan, pajak, marketplace, dan berbagai regulasi. Sekarang marketplace saja bisa mengambil porsi yang cukup besar. Belum lagi biaya lainnya. Jadi pada akhirnya memang berimbang.

Tetapi kalau bicara pihak yang paling terjepit, menurut saya petani. Petani biasanya mendapatkan bagian paling kecil karena posisi tawarnya terbatas. Sama seperti yang terjadi di berbagai industri komoditas lainnya, misalnya kopi. Petani kalau tidak menjual hasil panennya juga bagaimana? Mereka tetap harus memenuhi kebutuhan hidup. Jadi, dalam rantai distribusi, petani merupakan salah satu pihak yang paling rentan.

IDN Times: Apa yang paling Anda harapkan dari pemerintah untuk industri parfum Indonesia?

Purnomo: Yang paling penting adalah kemudahan berusaha dan kepastian regulasi. Indonesia memiliki pasar yang besar, bahan baku yang melimpah, dan sekarang brand lokal juga berkembang pesat.

Kalau industri hulu sampai hilir bisa berkembang bersama, terutama pengolahan bahan baku seperti nilam di dalam negeri, nilai tambahnya tentu akan lebih besar bagi Indonesia. Industri parfum juga masih memiliki prospek yang panjang karena parfum bukan sekadar kebutuhan, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan fashion.

Curated For You

Editorial Team

Related Article