Wali Kota Bandung Muhammad Farhan berbicara tentang kota yang mulai bangkit setelah pandemik COVID-19, ambisi membangun transportasi publik, menghidupkan kembali Bandara Husein, keterbatasan fiskal daerah, hingga satu persoalan yang menurutnya masih menjadi ancaman terbesar bagi masa depan Kota Bandung yakni sampah.
Senin(28/9/2026) pada pukul 16.00WIB, IDN Times berkesempatan mewawancarai khusus (Wansus) Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di Rumah Dinas, Pendopo, Jalan Dalem Kaum. Namun seperti banyak agenda kepala daerah lainnya, sore itu waktu berjalan sedikit lebih lambat dari yang direncanakan.
Di tengah kesibukan aktivitas pemerintahan menjelang petang Farhan akhirnya menyempatkan diri memenuhi agenda wawancara yang telah dijadwalkan. Percakapan dilakukan di salah satu ruang tamu di bagian belakang pendopo. Ruangan ini terlihat seperti baru selesai direnovasi. Dekorasi ruangan terkesan klasik di setiap sudut ruangan. Sejumlah ornamen vintage juga menghiasi dinding yang dipenuhi berbagai lukisan.
Namun, suasananya jauh dari kesan formal dari sebuah kantor pemerintahan. Ruangan itu justru disiapkan sebagai ruang tamu yang hangat dan akrab. Sebuah meja besar berada di salah satu sisi ruangan. Di sisi lainnya, terdapat sofa yang dilengkapi meja kayu dengan meja kecil berwarna hitam di sudutnya. Di atas meja itu, tiga buku bertumpuk tentang Kota Bandung tersusun rapi, seolah menjadi pengingat kota yang kini berada di bawah tanggung jawabnya.
Salah satu yang menarik perhatian adalah lukisan Exquisite Corpse yang goresan awalnya dibuat langsung oleh Farhan dan diselesaikan pelukis ternama. Di ruangan itulah percakapan IDN Times selama hampir dua jam berlangsung, membahas banyak hal tentang Kota Bandung hari ini dan masa depan yang sedang coba dibangun oleh pemerintah kota.
Pertanyaan pertama yang diajukan sebenarnya sederhana. Setelah hampir dua tahun memimpin, apakah Bandung hari ini lebih baik dibanding ketika ia pertama kali menjabat?
Farhan tidak langsung menjawab dengan daftar capaian atau angka-angka statistik. Ia memilih menggambarkan suasana kota yang menurutnya perlahan berubah setelah melewati masa-masa sulit pascapandemik.
"Saya rasa lebih baik ya. Karena artinya bahwa kita ini sekarang sedang bergerak. Semuanya bangun, bangkit gitu. Enggak ada yang mimpi lagi. Enggak ada yang terdiam lagi, enggak ada yang apatis lagi," kata Farhan.
Kalimat itu menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana Farhan melihat Bandung hari ini. Sebuah kota yang menurutnya mulai bergerak kembali, tetapi belum sepenuhnya sampai pada tujuan yang diharapkan.
![[WANSUS] 19 Bulan Farhan Memimpin Bandung: Kota Ini Bergerak, Tapi Belum Selesai](https://image.idntimes.com/post/20260930/1790593077728_bc60df4a-b7e8-46e3-b9b2-8020f84c4b29.jpg)