Waduk Saguling Jadi Penyambung Hidup Petani di KBB di Tengah Kemarau

Bandung Barat, IDN Times - Terik matahari membakar kulit Dede Sobari yang mulai mengeriput dimakan waktu. Menenteng ember berisi air, ia berjalan mengitari lahan yang sudah ditanami berbagai sayuran.
Bukan di kebun, melainkan di Waduk Saguling, Desa Cangkorang, Kabupaten Bandung Barat yang mengalami penyusutan air karena kemarau berkepanjangan. Pria bsrusia 52 tahun itu memanfaatkannya untuk menanam sayuran, sama seperti sebelumnya jika waduk mengering.
Dengan telaten Dede menyiramkan air dari Waduk Saguling yang tersisa sekitar 10-15 meter lagi untuk menyirami berbagai jenis tanaman palawija yang ditanamnya. Seperti timun, timun, jagung, ubi, cabai, sosin dan berbagai tanaman lainnya yang lebih mudah dan cepat dipanen.
"Airnya di sawah yang biasa saya garap surut, gak ada air. Jadinya gak bisa panen, ya gak ada pemasukan," tutud Dede disela-sela aktivitas ya, Minggu (10/9/2023).
1. Manfaatkan Waduk Saguling yang alami penurunan debit air

Bertani di kawasan Waduk Saguling tentu bukan mata pencaharian utama Dede. Ia biasanya menggarap lahan sawah untuk menanam padi, yang kemudian hasilnya dijual sehingga menghasilkan uang. Namun hal itu tidak bisa dilakukannya karena lahan sawahnya mengering imbas fenomena El-Nino.
Memanfaatkan permukaan Waduk Saguling yang mengalami penurunan debit tentu jadi pilihan terbaiknya saat ini agar dapur tetap 'ngebul'. Tentu saja tidak seluruhnya digarap, sebab dia harus berbagi lahan dengan petani lainnya yang mengali hal serupa dengannya.
"Memang saya setiap airnya surut selalu nanam di sini. Soalnya kan nunggu sawah ada airnya lagi enggak tau kapan," ujar Dede.
Dari permukaan Waduk Saguling inilah Dede bisa menyambung hidup. Harapannya, semua sayuran yang ditanamnya itu bisa dipanen. "Harapannya bisa dipanen semua. Soalnya kan dulu sering juga pas udah ditanam, tapi airnya naik lagi jadi enggak kepanen," ucapnya.
2. Banyak petani yang bercocok tanam di Waduk Saguling

Dede bukanlah satu-satunya petani yang beralih dari sawah ke permukaan Waduk Saguling untuk bercocok tanam. Di wilayah terdebut ada ratusan yang melakukan hal serupa. Di antaranya Hidayat (66).
Dia mengatakan terpaksa menggarap lahan di permukaan Waduk Saguling karena sawah yang biasa digarapnya sudah kering karena tidak teraliri air sejak beberapa bulan terakhir. Ia biasanya menggarap sawah sewaannya seluas 1.800 meter di daerah tersebut.
"Biasanya garap sawah sewa tapi sekarang lagi kering, enggak ada air dari dua bulan lalu. Baru sekali panen, terus udah tanam musim kedua keburu kemarau jadinya enggak ke panen," kag Hidayat
Di permukaan Waduk Saguling yang mulai surut, dia sengaja menanam berbagai jenis palawija yang mudah dan cepat dipanen. "Saya baru nanam timun karena cepet dipanennya dan jagung, lumayan nanti buat menghadapi tahun baru," ucap dia.
3. Banyak petani yang membiarkan lahan sawah

Sementara itu, kondisi sawah-sawah di wilayah Batujajar terpantau sudah mengering dan belah-belah. Tanaman padi yang terlanjut ditanam yang awalnya hijau kini sudah mengering karena tidak mendapat pasokan air dari Sungai Lagadar.
Para petani membiarkan lahannya mengering lantaran sudah tidak teraliri air. Bahkan, ada beberapa petak sawah yang biasanya dipenuhi tanaman padi kini dijadikan lapang sepak bola dadakan dan lapak untuk berlatih burung merpati.
Iya sawah bapak kondisinya udah dapat pasokan air sejak 4 bulan lalu. Jadinya ada yang gagal panen, ada yang dipaksa dipanen tapi enggak bagus," tuturnya.
Sutarya memikiki 450 tumbak atau 6.300 meter sawah. Dalam sekali panen, biasanya dia bisa menghasilkan hingga 2 ton padi. Namun karena dimusim kedua masa tanam tahun ini berbarengan dengan musim kemarau akhirnya dia harus merugi.
"Biasanya sekali panen itu dapat 2 ton, ada yang dijual ada yang dikonsumsi. Dapatnya sekitar Rp 5 juta. Kalau sekarang paling yang kepanen itu sekitar 5-10 kwintal," ucapnya.

















