Mural Merah Putih dan Logo Lidah, Cara Unik Gang Stones Bandung

- Warga Gang Stones di Lebak Siliwangi, Bandung, menghias kampung dengan mural merah putih dan logo lidah Rolling Stones menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
- Nama Gang Stones berakar dari kecintaan warga terhadap Rolling Stones selama puluhan tahun, menjadikan logo ikoniknya simbol sejarah, kebersamaan, dan kebanggaan kampung.
- Pembuatan mural dilakukan lewat gotong royong warga, dari perancangan hingga pengecatan, sebagai upaya menyambut kemerdekaan sekaligus mempererat kolaborasi dan merawat identitas kampung.
Bandung, IDN Times – Di tengah semarak merah putih menjelang HUT ke-81 RI, logo bibir dengan lidah menjulur tampak mencolok di tembok-tembok Gang Stones, Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong. Warga kampung yang dikenal sebagai rumah para penggemar Rolling Stones itu kembali merayakan kemerdekaan dengan cara yang tak biasa.
Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga kembali mempercantik lingkungan mereka dengan memadukan antara semangat kemerdekaan dan identitas kampung yang sudah puluhan tahun melekat dengan grup musik legendaris asal Inggris, Rolling Stones.
Di kampung ini, merah putih dan musik rock seolah berjalan berdampingan. Bendera kemerdekaan berkibar di setiap sudut gang, sementara logo ikonik Rolling Stones tetap hadir sebagai penanda yang membuat kawasan tersebut berbeda dari lingkungan lain di Kota Bandung.
Bagi warga, tradisi itu bukan sekadar dekorasi tahunan. Ada cerita panjang tentang identitas kampung yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
1. Kampung yang lebih dikenal dengan nama Gang Stones

Jelang Kemerdekaan, Warga Gang Stones Mural Band Asal Inggris Rolling Stones. Dok Diskomimfo Bandung Nama Gang Stones bukan lahir dari tren sesaat. Warga setempat sudah mengenal dan menggemari Rolling Stones sejak puluhan tahun lalu. Kecintaan itu kemudian tumbuh menjadi identitas bersama yang bertahan hingga sekarang.
Lambat laun, nama Gang Stones justru lebih dikenal dibanding nama gang resminya. Generasi demi generasi tumbuh dengan cerita yang sama, bahwa kampung mereka memiliki hubungan emosional dengan salah satu grup musik paling berpengaruh di dunia.
Jejaknya masih terlihat jelas hingga hari ini. Logo lidah menjulur khas Rolling Stones menghiasi berbagai sudut kampung, mulai dari tembok, mural, hingga berbagai kegiatan warga yang melibatkan identitas tersebut.
Bagi masyarakat setempat, simbol itu bukan sekadar atribut musik. Ia telah menjadi bagian dari sejarah kampung yang membentuk rasa kebersamaan dan kebanggaan warga terhadap lingkungan tempat mereka tinggal.
2. Ketika semangat 17 Agustus bertemu musik rock

Jelang Kemerdekaan, Warga Gang Stones Mural Band Asal Inggris Rolling Stones. Dok Diskomimfo Bandung Menjelang perayaan kemerdekaan, warga Gang Stones kembali bergotong royong mempercantik lingkungan. Tembok-tembok yang sebelumnya tampak biasa disulap menjadi mural penuh warna yang mengangkat tema nasionalisme.
Warna merah putih mendominasi hampir seluruh sudut gang. Angka 81, bendera Indonesia, dan berbagai pesan tentang kemerdekaan berdiri berdampingan dengan logo lidah menjulur yang menjadi ciri khas Gang Stones.
Perpaduan itu menciptakan suasana yang unik. Di satu sisi, semangat kemerdekaan terasa kuat melalui berbagai ornamen dan dekorasi yang dipasang warga. Di sisi lain, identitas kampung sebagai "rumah" para penggemar Rolling Stones tetap terjaga.
Tak sedikit warga yang sengaja berhenti sejenak untuk mengamati mural-mural tersebut. Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, pemandangan itu menjadi pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.
3. Mural menjadi ruang kolaborasi warga

Jelang Kemerdekaan, Warga Gang Stones Mural Band Asal Inggris Rolling Stones. Dok Diskomimfo Bandung Di balik mural yang menghiasi gang, ada kerja bersama yang melibatkan banyak tangan. Warga bergotong royong mulai dari merancang desain, menyiapkan perlengkapan, hingga mengecat tembok secara bersama-sama.
Ketua RW 06 Lebak Siliwangi, Ari Friansyah, mengatakan kegiatan tersebut bukan hanya untuk menyambut HUT RI, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarwarga.
"Mudah-mudahan ini jadi jalan kita berkolaborasi ke depannya," ujar Ari.
Menurutnya, identitas Gang Stones akan tetap hidup selama warga terus merawat kebersamaan yang menjadi fondasinya. Karena itu, kegiatan menghias kampung tidak hanya dimaknai sebagai agenda tahunan, melainkan juga cara menjaga warisan yang telah bertahan selama puluhan tahun.
Saat malam mulai turun dan lampu-lampu gang menyala, mural merah putih dan logo lidah ikonik itu tampak semakin menonjol. Di sudut Kota Bandung ini, semangat kemerdekaan dan kecintaan terhadap musik rock bertemu dalam satu ruang yang sama. Sebuah pengingat bahwa identitas kampung bisa terus hidup, selama ada warga yang bersedia merawatnya bersama.



















