Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lengket Bak Prangko, Anies-Emil Berpeluang Jadi Capres 2024
Ridwan Kamil dan Anis Baswedan dalam acara U20 Presidensi G20 Indonesia (IDN Times-Azzis Zulkhairil)

Bandung, IDN Times - Kemesraan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil alias Emil belakangan ini menjadi sorotan publik. Bahkan, keduanya digadang-gadang cocok sebagai pasangan untuk maju dalam Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024.

Baru-baru ini, keduanya juga mengumbar kemesraan dengan makan bubur bersama usai kegiatan U20 di Kota Bandung. Emil dan Anies menyantap bubur di Jalan Asia Afrika, kemudian menyapa warga di sekitar pusat kota itu.

Kemesraan keduanya juga sempat terjadi di lapangan Jakarta Internasional Stadion (JIS). Keduanya bermain adu penalti usai acara talkshow Presidensi G20 bidang urban 20, atau U20.

1. Elektabilitas keduanya terus membaik

Ridwan Kamil dan Anis Baswedan dalam acara U20 Presidensi G20 Indonesia (IDN Times-Azzis Zulkhairil)

Melihat kedekatan ini, Pengamat Politik Universitas Padjadjaran, Firman Manan mengatakan, peluang keduanya masuk dalam bursa Capres 2024 sangat memungkinkan. Hal itu juga didorong dengan elektabilitas yang baik.

"Dari sisi ektabilitas, tentu kalau kita lihat hasil-hasil survei kan, memang keduanya itu punya tingkat elaktibilitas yang cukup tinggi. Artinya, punya potensi untuk maju termasuk untuk dipasangkan," ujar Firman saat dihubungi, Sabtu (26/2/2022).

Meski keduanya berpeluang maju di Pilpres 2024, Firman bilang, ada beberapa persoalan yang harus dipersiapkan sejak saat ini, yaitu soal kendaraan politik.

"Ada problem ya, Ridwan Kamil dan Anies Baswedan, karena kan, keduanya belum berpartai. Nah itu yang akan menjadi kendala utama, apalagi kemarin sudah diputuskan oleh MK yang gugatan 20 persen itu tidak dikabulkan, artinya untuk 2024 akan tetap menggunakan threshold 20 persen," ungkapnya.

2. Keduanya harus segera gabung partai politik

Ridwan Kamil dan Anis Baswedan dalam acara U20 Presidensi G20 Indonesia (IDN Times-Azzis Zulkhairil)

Dengan kondisi belum berpartai, Firman menjelaskan, hal itu akan menjadi kendala jika tidak dilakukan sedini mungkin. Adapun per tahun depan pendaftaran calon presiden sudah dibuka dan akan berlanjut dengan berbagai kampanye.

"September 2023 itu sudah pendaftaran calon, walaupun kalau kita lihat polanya, biasanya pemasangan itu dilakukan di saat-saat terakhir oleh partai. Itu juga menjadi problem," ungkapannya.

Jika tidak gabung dengan partai dalam waktu dekat ini, Firman mengatakan, keduanya akan kesulitan ketika pendaftaran sudah dibuka.

"Cuma ya kalau tidak sejak sekarang, persoalannya nanti justru akan kesulitan untuk mendapatkan tiket dari partai, terutama untuk posisi presiden. Kalau posisi wakil kelihatannya masih memungkinkan," kata dia.

3. Keduanya bisa menggunakan pola nasionalis dan agamis

Ridwan Kamil dan Anis Baswedan dalam acara U20 Presidensi G20 Indonesia (IDN Times-Azzis Zulkhairil)

Jika melihat kemampuan keduanya untuk masuk bursa Capres 2024, Firman bilang, Anies dan Emil sudah saling melengkapi. Keduanya juga bisa menggunakan beberapa pola, misalnya, figur nasionalis dengan figur agamis. Atau figur dari Jawa, dengan di luar Jawa, atau misalnya figur sipil-militer.

"Problemnya, kan, Anies dan Ridwan Kamil ini punya karakter yang kurang lebih sama. Jadi, sama-sama kepala daerah lalu lebih kepada nasionalis, lalu juga memang basisnya di pulau Jawa. Saya pikir persoalannya itu selain soal belum mendapatkan partai pengusung, tapi juga keduanya yang mirip," kata dia.

4. Keduanya dianggap pasangan cocok di Pilpres 2024

Instagram/@sandiuno

Dihubungi terpisah, pengamat politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Karim Suryadi mengatakan, pemilihan Anies dan Emil sebagai co-chair G20 adalah pertimbangan objektif berdasarkan kapasitas dan profesionalitas keduanya. Adapun soal kemesraan Anies-Emil, bisa dibaca dari berbagai sisi.

"Namun jika keduanya maju, tidak ada yang salah. Kapasitas, pengalaman, dan performance keduanya bagus. Sebagai gubernur, mereka menangani urusan yang dikelola presiden meski dengan lingkup dan skala yang berbeda. Jadi, gubernur adalah tangga menuju kepresidenan yang paling masuk akal," ujar Karim.

Senada dengan Firman, Karim juga bilang bahwa persoalan keduanya dikenal bukan sebagai pimpinan partai politik. Padahal, sampai saat ini tiket capres seperti sudah "diborong" oleh ketua partai.

"Hanya ini persoalannya. Apakah kartu mati? Tidak, bahkan jika pimpinan parpol jeli, jarak yang dibangun RK dengan parpol misalnya, bisa menjadi nilai tambah dalam pandangan publik," ungkapnya.

Di tengah performance parpol yang masih turun-naik, Karim menjelaskan, penilaian terhadap keduanya yang bisa menjaga jarak proporsional dengan parpol akan menggugah simpati publik, dan kerelaan untuk mendukungnya.

"Jadi, saya melihat tidak ada persoalan dalam hal kapasitas, kapabilitas, dan keberterimaan publik. Batu ujinya ada pada parpol dalam memilih dan memajaukan kandidat. Aapakah akan semata pimpinan parpol, atau memilih tokoh yang teruji dan berkriteria demi menghadirkan pimpinan nasional yang berkualits," kata dia.

Editorial Team

Related Article