Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kasus SPPG Tutup Sementara karena Dana Belum Cair Terus Terulang
Kasus SPPG Tutup Sementara karena Dana Belum Cair Terus Terulang. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • SPPG Jati Endah di Kabupaten Bandung menghentikan operasional sementara mulai 8 Juni 2026 karena dana belum cair, sehingga tidak bisa menyediakan menu makan bergizi gratis.
  • Pimpinan baru Badan Gizi Nasional mengumumkan rencana efisiensi besar-besaran terhadap anggaran senilai Rp268 triliun tanpa mengurangi sasaran program gizi nasional.
  • BGN memberlakukan moratorium pendirian SPPG baru dan fokus membenahi dapur yang sudah beroperasi agar memenuhi standar kualitas serta meningkatkan pelatihan SDM.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Kasus satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang tutup sementara karena dana yang belum cair terus terulang. Kali ini terjadi di SPPG Jati Endah, Cijambe, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Operasional yang berhenti dikarenakan tidak mencukupi untuk membeli barang baru untuk diolah menjadi menu makan bergizi gratis (MBG).

SPPG yang berhenti tersebut berada di Jalan Cibatu Mulya 3 Nomor 46, Jatiendah. Dari surat yang beredar, perwakilan SPPG atas nama Ahmad Faujy menuturkan bahwa penutupan sementara ini berlaku dari Senin (8/6/2026), dan belum bisa dipastikan kapan bisa kembali berjalan.

"Dengan hormat, Sehubungan dengan adanya penyesuaian administrasi dan dukungan operasional dalam penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis, bersama ini kami sampaikan bahwa operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bandung Cilengkrang Jatiendah dihentikan sementara terhitung sejak tanggal 08 Juni 2026 sampai dengan waktu yang belum dapat ditentukan," kata Ahmad dikutip dari surat edaran yang diberikan pada penerima.

1. Penghentian sudah sesuai prosedur

Kasus SPPG Tutup Sementara karena Dana Belum Cair Terus Terulang. IDN Times/Debbie Sutrisno

Adapun surat tersebut disampaikan kepada Kepala KPPG Bandung, Kepala Regional Provinsi Jawa Barat, Koordinator Wilayah Kab. Bandung, perwakilan sekolah, dan Kader Posyandu.

Menurutnya, penghentian sementara operasional ini dilakukan untuk memastikan penyelenggaraan layanan tetap berjalan sesuai dengan aturan, ketentuan, dan standar yang berlaku. Operasional SPPG akan kembali dilaksanakan setelah proses penyesuaian administrasi dan dukungan operasional dimaksud telah selesai.

"Informasi mengenai pelaksanaan kembali layanan akan disampaikan lebih lanjut kepada pihak terkait dan penerima manfaat melalui PIC masing-masing. Demikian pemberitahuan ini disampaikan. Atas perhatian dan kerja sama yang baik, kami ucapkan terima kasih," lanjutnya.

Dari pantauan IDN Times di lokasi SPPG tersebut, memang tidak terlihat aktivitas pekerja yang menyiapkan MBG. Hanya ada satu penjaga yang membenarkan mengenai informasi tersebut.

2. BGN siap efisiensikan anggaran

ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)

Sementara itu, pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru untuk pertama kalinya tampil di publik hari ini, Kamis (4/6/2026). Mulai dari Kepala BGN, Nanik S Deyang yang menggantikan Dadan Hindayana, serta dua wakilnya yakni Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono yang menggantikan Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.

Nanik mengatakan, mereka baru saja menggelar rapat konsolidasi pimpinan baru hari ini. Usai rapat, Naniek membeberkan rencana efisiensi besar-besaran di BGN.

“Hal pertama yang kami lakukan adalah untuk melakukan efisiensi anggaran. Meskipun sekarang sudah dipotong tinggal Rp268 triliun, kami berharap masih bisa menurunkan lagi, namun tidak mengurangi sasaran,” kata Nanik di kantor pusat BGN, Jakarta Pusat.

3. Pendirian SPPG baru dihentikan dulu

Satu SPPG di Bandung Tutup Sementara Usai Dana dari BGN Tak Cair. IDN Times/Debbie Sutrisno

Selain itu, BGN juga akan membekukan atau moratorium pendirian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) baru.

“Tiga, pembenahan dapur-dapur yang telah berdiri dan telah beroperasi agar sesuai dengan standar untuk menghasilkan makanan yang berkualitas, termasuk perbaikan dan pelatihan SDM,” ucap Nanik.

Editorial Team

Related Article