Bandung, IDN Times - Pagi itu, Enung Cahyati memboyong kedua anaknya yang masih kecil pergi dari rumah di kawasan Kota Bandung. Melewati jembatan layang di samping Terminal Cicaheum, Bandung, Enung berencana menyambangi teman dan saudara.
Di atas jembatan layang, satu anaknya yang masih kecil merengek minta jajan. Sembari menggendong sang buat hati, Enung meminta maaf kepada anaknya karena dia dan sang ayah belum memiliki cukup uang untuk membelikan jajanan, apalagi mainan.
Enung merupakan istri dari pedagang asongan yang saban hari berdagang di Terminal Cicaheum. Sejak pemerintah memberhentikan aktivitas bus antar kota antar provinsi (AKAP), untuk mengantisipasi penyebaran virus corona jenis baru (COVID-19), terminal ini seakan mati suri. Hanya bus dalam kota saja yang mengangkut penumpang, itupun jumlahnya bisa dihitung jari.
Kondisi ini jadi pukulan keras bagi Enung dan keluarganya. Bahkan, banyak pedagang asongan lain yang bertumpu hidup dari perekonomian di kawasan terminal. Sebab, dia dan suami sepenuhnya bekerja dengan berjualan makanan di terminal. Ketika terminal tak beroperasi seperti biasa, penghasilannya berkurang dan nyaris hilang. Sedangkan, kebutuhan sehari-hari untuk menghidupkan dapur sudah pasti harus ada.
"Makanya saya coba untuk nyari pinjaman dulu untuk menyambung hidup. Berapa saja akan saya terima," ujar Enung beberapa waktu lalu saat berbincang dengan IDN Times.
Kekhawatiran tidak bisa mendapat uang untuk makan keluarga juga pernah dirasakan Ocha, salah satu supir bus jurusan Bandung-Kampung Rambutan di Terminal Leuwipanjang.
Ocha mengungkapkan, dampak pandemi corona memang sangat mengkhawatirkan. Untuk perusahaan tempatnya bernaung, dari total 10 bus yang tiap harinya memberangkatkan penumpang sekarang hanya menyisakan dua bus saja. Itupun tidak penuh.
Untuk para supir bus banyak sedikitnya penumpang memengaruhi pendapatan sehar-hari. Sebab, selain upah dari perusahaan yang angkanya tidak besar, ada presentase nominal uang dari setiap penumpang.
Satu penumpang, 10 persen ongkos mereka diberikan kepada supir. Artinya, ketika bus penuh maka pendapatan lumayan besar, sedangkan saat tidak ada penumpang uang tambahan pun sangat sedikit.