Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Harga Ayam Hidup di Jabar Naik, Tembus Rp25 Ribu per Kilogram
Ilustrasi daging ayam. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
  • Harga ayam hidup di Jawa Barat naik dari Rp20.000-Rp20.500 menjadi Rp24.500-Rp25.000 per kilogram, setelah sebelumnya tertekan akibat kelebihan pasokan saat program MBG libur.
  • Pemprov Jabar sejak Juli 2026 menghubungkan koperasi peternak dengan SPPG agar kebutuhan ayam program MBG dipasok peternak lokal dan penyerapan produksi lebih pasti.
  • Disperindag menilai harga ayam konsumen seharusnya di bawah Rp40.000 per kilogram; bersama Satgas Pangan Jabar, mereka mengawasi distribusi yang diduga memicu kenaikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Juli 2026

Pemprov Jabar mempertemukan koperasi peternak dengan SPPG untuk memperkuat penyerapan ayam lokal bagi program MBG.

12 Agustus 2026

Bapanas menerbitkan surat edaran yang mendorong optimalisasi pembelian produk perunggasan dalam penyelenggaraan MBG.

kini

Harga ayam hidup naik menjadi Rp24.500-Rp25.000 per kilogram. Disperindag Jabar berkoordinasi dengan Satgas Pangan untuk mengawasi rantai distribusi yang diduga memicu kenaikan harga di pasar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Harga ayam hidup di Jawa Barat naik dari sekitar Rp20.000-Rp20.500 menjadi Rp24.500-Rp25.000 per kilogram, sementara Disperindag menelusuri dugaan masalah pada rantai distribusi yang memengaruhi harga pasar.
  • Who?
    Disperindag Jawa Barat, Kepala Disperindag Nining Yuliastiani, Pemprov Jawa Barat, koperasi peternak, SPPG, Bapanas, dan Satgas Pangan Jawa Barat terlibat dalam penanganan kondisi ini.
  • Where?
    Kenaikan harga terjadi di sejumlah wilayah Jawa Barat. Pengawasan akan menyasar jalur distribusi dan titik-titik rawan yang berpotensi menyebabkan harga ayam di pasar melampaui harga acuan pemerintah.
  • When?
    Harga ayam hidup mencapai Rp24.500-Rp25.000 per kilogram per 15 Agustus 2026. Pemprov Jawa Barat telah mempertemukan koperasi peternak dan SPPG sejak Juli 2026; surat edaran Bapanas terbit 12 Agustus 2026.
  • Why?
    Sebelumnya terjadi kelebihan pasokan saat program MBG berhenti sementara karena libur sekolah, sedangkan produksi peternak tetap berjalan. Kenaikan harga pasar yang lebih tinggi diduga berkaitan dengan persoalan distribusi.
  • How?
    Pemprov Jawa Barat mendorong kerja sama peternak lokal dengan SPPG agar produk terserap program MBG. Disperindag kini berkoordinasi dengan Satgas Pangan Jawa Barat untuk mengawasi distribusi dan titik rawan harga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Harga ayam hidup di Jawa Barat naik jadi Rp24.500 sampai Rp25.000 per kilo. Dulu ayam kebanyakan karena program MBG libur, jadi peternak rugi. Sekarang MBG mau membeli ayam dari peternak dekat. Pemerintah juga melihat harga ayam di pasar bisa terlalu mahal. Mereka sedang mengecek jalan ayam dari peternak ke pasar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kenaikan harga ayam hidup memberi ruang pemulihan bagi peternak Jawa Barat setelah periode kelebihan pasokan menekan pendapatan mereka. Upaya mempertemukan koperasi peternak lokal dengan SPPG juga membangun kepastian penyerapan produksi, sementara pengawasan distribusi bersama Satgas Pangan menunjukkan perhatian agar harga konsumen tetap wajar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat menemukan beberapa indikasi kenaikan harga daging ayam di sejumlah wilayah disebabkan oleh persoalan pada rantai distribusi. Harga ayam hidup saat ini sudah menyentuh Rp24.500-Rp25.000 per kilogram.

Kepala Disperindag Jawa Barat, Nining Yuliastiani mengatakan, harga daging ayam sempat terpuruk akibat kelebihan pasokan, di mana saat itu program MBG yang menjadi penyerap terbanyak berhenti sementara. Di sisi lain, produksi peternak tetap berjalan normal sehingga terjadi penumpukan pasokan di pasar.

"Kemarin kan posisinya daging ayam kita kebanyakan, karena MBG berhenti sementara karena libur sekolah. Sedangkan produksi tidak berkurang sedikit pun," kata Nining, Sabtu (15/8/2026).

1. SPPG masuk dalam rantai distribusi

Ilustrasi daging ayam (Humas PD Pasar Tangerang)

Nining mengungkapkan, peternak tidak bisa langsung menyesuaikan produksi karena siklus budidaya unggas telah direncanakan jauh hari sebelumnya. Guna mengantisipasi persoalan serapan produksi, Pemprov Jabar sejak Juli 2026 telah mempertemukan koperasi peternak dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Langkah itu dilakukan agar kebutuhan ayam untuk program MBG dipenuhi dari peternak lokal dan memberikan kepastian pasar bagi pelaku usaha perunggasan.

"Jadi peternak yang ada di dekat SPPG yang ada itu kita minta untuk melakukan kerja sama sehingga kepastian dari produk mereka itu akan diserap oleh SPPG dan SPPG gak nyari-nyari lagi di luar Jawa Barat karena sudah ada di situ," ujarnya.

2. Kenaikan harga tersebut diklaim masih dalam kondisi normal

Ilustrasi daging ayam. IDN Times/Daruwaskita

Kebijakan tersebut kini diperkuat dengan Surat Edaran Badan Pangan Nasional (Bapanas) tertanggal 12 Agustus 2026 yang mendorong optimalisasi pembelian produk perunggasan dalam penyelenggaraan MBG.

Dampaknya mulai dirasakan peternak. Harga ayam hidup yang sebelumnya hanya berkisar Rp20.000-Rp20.500 per kilogram kini naik menjadi Rp24.500-Rp25.000 per kilogram atau meningkat sekitar 22 persen.

"Ini sudah normal sebenarnya, maksudnya normal dalam kaitan peternak itu sudah bisa bernapas. Harga sudah naik, kalau kemarin kan rugi," ucapnya.

3. Harga seharusnya bisa di bawah 40 persen

Ilustrasi daging ayam yang dijual di pasar.(IDN Times/Holy Kartika)

Kendati demikian, Disperindag Jabar menilai lonjakan harga di tingkat konsumen tidak sepenuhnya sejalan dengan kenaikan harga di tingkat peternak. Secara ekonomi, harga ayam di pasar seharusnya masih berada pada kisaran yang wajar dan tidak melampaui batas acuan pemerintah.

Dengan begitu, Pemprov Jabar mulai menaruh perhatian pada rantai distribusi yang diduga menjadi penyebab utama tingginya harga di pasar.

"Kalau harusnya secara keekonomian harganya seharusnya bisa di bawah 40. Ini yang kita lihat ada something yang terjadi pada saat distribusi," katanya.

Untuk menelusuri persoalan tersebut, Disperindag Jabar kini berkoordinasi dengan Satgas Pangan Jawa Barat, guna melakukan pengawasan bersama terhadap jalur distribusi dan titik-titik rawan yang berpotensi memicu lonjakan harga.

"Makanya kita sekarang lagi melakukan koordinasi dengan Satgas Pangan Jabar untuk kemudian melakukan pengawasan bersama kaitannya di mana ini terjadi titik-titik rawan yang mengakibatkan kenaikan harga yang di atas HAP," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article