Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Farhan Sebut Kontraktor Jadi Penyebab Kemacetan Soekarno-Hatta
Kemacetan parah lalu lintas di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung pada Selasa Pagi diakibatkan proyek gorong-gorong. Dok.Istimewa
  • Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut kemacetan di Jalan Soekarno-Hatta dipicu keterlambatan proyek gorong-gorong setelah alat berat kontraktor mogok, bukan akibat proyek BRT atau rekayasa lalu lintas.
  • Kontraktor telah dipanggil bersama kepolisian untuk mempercepat pekerjaan yang ditargetkan selesai dalam beberapa hari; DSDABM diminta mengawasi agar keterlambatan tidak berulang.
  • Kemacetan diperkirakan masih berlangsung beberapa hari. Pemkot meminta warga menyiapkan waktu perjalanan atau memilih jalur alternatif, sambil mengevaluasi kesiapan alat dan skenario cadangan proyek.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Jalan Soekarno-Hatta di Bandung macet sekali karena alat besar milik kontraktor rusak saat membuat gorong-gorong. Pak Wali Kota Muhammad Farhan bilang pekerjaan jadi terlambat. Kontraktor sudah dipanggil polisi supaya cepat selesai. Jalan itu mungkin masih macet beberapa hari. Pemerintah Kota Bandung akan terus melihat pekerjaan itu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Respons Pemkot Bandung menunjukkan adanya langkah penanganan yang jelas terhadap gangguan di Jalan Soekarno-Hatta. Kontraktor telah dipanggil bersama kepolisian, sementara DSDABM diminta mengawasi pekerjaan secara berkelanjutan. Situasi ini juga menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat kesiapan alat, perencanaan, dan skenario cadangan pada proyek infrastruktur di koridor utama kota.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times – Kemacetan panjang yang terjadi di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, dalam dua hari terakhir akhirnya mendapat penjelasan dari Pemerintah Kota Bandung. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut kepadatan lalu lintas yang dikeluhkan ribuan pengguna jalan itu bukan disebabkan oleh proyek Bus Rapid Transit (BRT) maupun rekayasa lalu lintas, melainkan karena keterlambatan pengerjaan proyek gorong-gorong akibat alat berat milik kontraktor mengalami kerusakan.

Menurut Farhan, pekerjaan yang seharusnya rampung pada Selasa dini hari tidak selesai sesuai target karena alat berat yang digunakan di lapangan mogok. Akibatnya, area pekerjaan masih belum bisa dibuka sepenuhnya dan memicu antrean kendaraan panjang di salah satu koridor lalu lintas tersibuk di Kota Bandung.

"Kesalahan dari pihak kontraktor karena alat beratnya mogok. Alat berat yang mogok yang harusnya selesai tadi pagi jam 4 pagi, itu enggak selesai. Jadi menimbulkan kemacetan yang luar biasa," kata Farhan.

Pernyataan tersebut sekaligus menjawab berbagai spekulasi yang berkembang di masyarakat mengenai penyebab kemacetan yang terjadi sejak awal pekan. Sebelumnya, sebagian warga mengaitkan kepadatan lalu lintas dengan proyek transportasi lain yang tengah berjalan di Kota Bandung.

1. Kontraktor dipanggil untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan

ilustrasi proyek (unsplash.com/Muhammad Ramdan)

Farhan mengatakan pemerintah tidak tinggal diam menyikapi keterlambatan proyek tersebut. Pihak kontraktor telah dipanggil bersama aparat kepolisian untuk memastikan pekerjaan dapat segera diselesaikan dan tidak semakin mengganggu mobilitas warga.

Menurut dia, penyelesaian proyek menjadi prioritas mengingat Jalan Soekarno-Hatta merupakan salah satu jalur utama yang menghubungkan kawasan timur dan selatan Kota Bandung. Gangguan kecil pada ruas jalan tersebut dapat berdampak luas terhadap arus kendaraan di sejumlah titik lainnya.

"Pihak kontraktor sudah dipanggil oleh Satlantas untuk memastikan bahwa pekerjaan akan selesai paling lambat beberapa hari lagi," ujarnya.

Selain itu, Farhan juga meminta Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (DSDABM) terus mengawasi perkembangan pekerjaan di lapangan. Ia tidak ingin ada lagi keterlambatan yang berujung pada kemacetan panjang seperti yang terjadi saat ini.

2. Kemacetan diperkirakan masih terjadi dalam beberapa hari ke depan

Dok.Istimewa

Meski proses percepatan tengah dilakukan, Farhan mengakui dampak kemacetan kemungkinan masih akan dirasakan masyarakat dalam beberapa hari ke depan. Hal itu bergantung pada proses penyelesaian pekerjaan dan pembukaan kembali jalur yang terdampak proyek.

Karena itu, warga yang melintasi koridor Soekarno-Hatta diimbau menyiapkan waktu perjalanan lebih awal atau mencari jalur alternatif untuk menghindari penumpukan kendaraan pada jam-jam sibuk.

Farhan mengaku memahami keluhan masyarakat yang harus menghabiskan waktu lebih lama di jalan akibat kondisi tersebut. Menurutnya, tingkat kepadatan lalu lintas di kawasan Soekarno-Hatta memang termasuk yang tertinggi di Kota Bandung sehingga gangguan pekerjaan sedikit saja bisa memicu antrean kendaraan yang panjang.

"Saya juga akan mengejar terus ke Dinas DSDABM agar memastikan tidak ada lagi pekerjaan yang tertunda di Soekarno-Hatta," katanya.

3. Pemkot minta evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan (IDN Times/Yogi Pasha)

Bagi Pemkot Bandung, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan penyelesaian proyek gorong-gorong semata, tetapi juga menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan pekerjaan infrastruktur yang bersinggungan langsung dengan aktivitas masyarakat.

Farhan menilai proyek di koridor utama kota harus memiliki perencanaan yang lebih matang, termasuk kesiapan alat dan skenario cadangan apabila terjadi gangguan teknis. Sebab, keterlambatan pekerjaan bukan hanya berdampak pada target proyek, tetapi juga menimbulkan kerugian waktu dan biaya bagi masyarakat yang setiap hari melintasi ruas jalan tersebut.

"Dengan tingkat kemacetan yang begitu kejam di sana, tentu saja kesabaran juga sangat tipis," ujarnya.

Karena itu, Pemkot Bandung memastikan akan terus memantau progres penyelesaian proyek gorong-gorong di Jalan Soekarno-Hatta sekaligus mengevaluasi pelaksanaan pekerjaan infrastruktur agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article