Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Kesalahan yang Harus Dihindari saat Mengajari Pembelajar Dewasa

7 Kesalahan yang Harus Dihindari saat Mengajari Pembelajar Dewasa
ilustrasi pembelajar dewasa (pexels.com/Yan Krukau)

Mengajari pembelajar dewasa memang berbeda dibanding mengajar anak-anak atau remaja. Pembelajar dewasa biasanya punya pengalaman hidup yang luas, tujuan yang jelas, dan cara belajar yang unik. Oleh karena itu, sebagai pengajar, kamu harus tahu bagaimana mendekati mereka agar proses belajar berjalan dengan efektif dan menyenangkan. 

Namun, meskipun sudah banyak pengalaman mengajar, ada beberapa kesalahan umum yang sering terjadi ketika mengajari orang dewasa. Kesalahan-kesalahan ini bisa menghambat proses belajar mereka dan membuat mereka merasa gak nyaman. Untuk membantumu menjadi pengajar yang lebih baik, berikut tujuh kesalahan yang harus dihindari saat mengajari pembelajar dewasa.

1. Mengabaikan pengalaman dan pengetahuan mereka

ilustrasi pembelajar dewasa (pexels.com/Yan Krukau)
ilustrasi pembelajar dewasa (pexels.com/Yan Krukau)

Salah satu kesalahan terbesar yang sering dilakukan pengajar adalah mengabaikan pengalaman hidup dan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh pembelajar dewasa. Ingat, orang dewasa punya banyak pengalaman, baik itu dari dunia kerja, kehidupan pribadi, atau pengalaman belajar sebelumnya. Ketika kamu mengajarkan sesuatu, jangan hanya fokus pada teori atau materi baru. Alih-alih, coba ajak mereka untuk berbagi pengalaman atau pendapat tentang topik yang sedang dibahas. 

Jika kamu terlalu banyak memberi materi tanpa melibatkan pengalaman mereka, mereka bisa merasa bahwa kamu meremehkan pengetahuan yang sudah mereka miliki. Ini bisa bikin mereka kurang termotivasi untuk belajar. Solusinya, cobalah membuka sesi dengan pertanyaan terbuka yang mengundang mereka untuk berbagi pengalaman atau pendapat mereka.

2. Memberikan materi yang terlalu banyak dalam waktu singkat

ilustrasi pembelajar dewasa (pexels.com/George Pak)
ilustrasi pembelajar dewasa (pexels.com/George Pak)

Sebagai pengajar, kamu mungkin ingin memberikan sebanyak mungkin informasi dalam waktu yang terbatas. Terutama jika kamu merasa materi yang diajarkan sangat penting. Namun, memberikan terlalu banyak materi sekaligus justru bisa bikin pembelajar dewasa merasa kewalahan dan kesulitan untuk menyerap informasi.

Pembelajar dewasa, yang sudah punya banyak tugas lain, gak akan bisa menyerap informasi dengan baik jika terlalu banyak diberikan dalam sekali waktu. Mereka juga cenderung lebih suka belajar dengan perlahan dan mendalam daripada sekadar menghafal materi. Jadi, fokuslah fokus pada kualitas, bukan kuantitas. Pilih beberapa topik utama yang ingin kamu sampaikan, dan pastikan mereka punya waktu yang cukup untuk memahami dan mencerna materi tersebut. 

3. Gak memberikan konteks yang relevan dengan kehidupan mereka

ilustrasi pembelajar dewasa (pexels.com/Roxanne Minnish)
ilustrasi pembelajar dewasa (pexels.com/Roxanne Minnish)

Pembelajar dewasa sangat menyukai konteks yang relevan. Mereka ingin tahu bagaimana materi yang diajarkan bisa diterapkan dalam kehidupan nyata atau pekerjaan mereka. Jika materi yang diberikan terlalu abstrak atau gak berkaitan dengan kehidupannya, mereka bisa kehilangan ketertarikan dan merasa materi tersebut gak berguna.

Solusinya, selalu kaitkan materi dengan kehidupan nyata mereka. Jika kamu mengajarkan tentang teori manajemen, coba jelaskan bagaimana prinsip-prinsip tersebut diterapkan di dunia kerja atau dalam konteks sosial. Contoh konkret akan bikin materi lebih mudah dipahami dan lebih menarik untuk dipelajari.

4. Terburu-buru menghentikan pembelajaran untuk mengejar target

ilustrasi pembelajar dewasa (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi pembelajar dewasa (pexels.com/RDNE Stock project)

Mengajar orang dewasa memang berfokus pada pencapaian hasil yang cepat, terutama ketika ada target atau deadline yang ingin dicapai. Namun, terburu-buru dalam mengakhiri sesi pembelajaran hanya karena ingin mengejar target bisa berisiko. Pembelajar dewasa butuh waktu untuk mencerna materi dan proses belajar mereka bisa jadi gak linear. Beberapa orang mungkin butuh waktu lebih untuk memahami suatu konsep atau mempraktikkannya.

Sebaiknya, ciptakan suasana yang mendukung untuk berdiskusi dan bertanya. Jangan ragu untuk meluangkan waktu lebih banyak pada bagian yang sulit dipahami. Jika pembelajar butuh waktu lebih untuk memproses, beri mereka kesempatan untuk menyelesaikan pertanyaan atau permasalahan yang ada. Gak masalah jika kamu harus memperlambat tempo untuk memastikan pemahaman yang baik.

5. Mengabaikan gaya belajar yang berbeda

ilustrasi pembelajar dewasa (pexels.com/Andy Barbour)
ilustrasi pembelajar dewasa (pexels.com/Andy Barbour)

Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Beberapa orang mungkin lebih suka belajar melalui praktik langsung, sementara yang lain lebih suka mendengarkan ceramah atau membaca bahan materi. Mengajar dengan satu metode saja bisa membuat beberapa pembelajar merasa kesulitan mengikuti pelajaran, terutama jika gaya belajar mereka berbeda dengan metode yang digunakan.

Sebagai pengajar, kamu perlu memahami bahwa gak semua orang dewasa belajar dengan cara yang sama. Oleh karena itu, sangat penting untuk menawarkan variasi dalam pendekatan pengajaran. Sehingga, kamu memberi kesempatan bagi setiap pembelajar untuk memilih pendekatan yang paling sesuai dengan gaya belajar mereka.

6. Gak memberikan umpan balik yang konstruktif

ilustrasi pembelajar dewasa (pexels.com/Andy Barbour)
ilustrasi pembelajar dewasa (pexels.com/Andy Barbour)

Memberikan umpan balik yang jujur dan konstruktif sangat penting dalam proses belajar. Tanpa umpan balik, pembelajar dewasa gak akan tahu sejauh mana mereka sudah memahami materi atau apa yang perlu diperbaiki. Namun, umpan balik yang terlalu kritis atau negatif tanpa saran yang membangun bisa merusak kepercayaan diri mereka.

Pembelajar dewasa cenderung lebih sensitif terhadap kritik, karena mereka sudah punya pengalaman dan merasa lebih percaya diri dengan kemampuannya. Oleh karena itu, usahakan untuk memberikan umpan balik dengan cara yang positif dan membangun, agar mereka merasa dihargai dan didorong untuk terus belajar.

7. Gak menyediakan ruang untuk diskusi atau refleksi

ilustrasi mengajari pembelajar dewasa (pexels.com/Mikhail Nilov)
ilustrasi mengajari pembelajar dewasa (pexels.com/Mikhail Nilov)

Pembelajar dewasa gak hanya belajar dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari pengalaman dan perspektif mereka sendiri. Jika kamu gak menyediakan waktu atau ruang untuk diskusi dan refleksi, mereka bisa merasa gak dihargai. Diskusi gak hanya memperdalam pemahaman mereka terhadap materi, tetapi juga memberi kesempatan untuk berbagi pendapat dan belajar dari orang lain.

Sisihkan waktu untuk diskusi kelompok atau sesi tanya jawab. Ajak pembelajar untuk merefleksikan apa yang mereka pelajari dan bagaimana itu bisa diterapkan dalam kehidupan. 

Mengajar pembelajar dewasa memang gak mudah dan bahkan cukup tricky. Namun sebenarnya, dengan pendekatan yang tepat, kamu bisa menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermanfaat. Dengan memahami hal ini, kamu bisa menyesuaikan gaya pengajaran dan membantu mereka mencapai tujuan dengan cara yang efektif dan menyenangkan. Jadi, mari belajar dari kesalahan dan jadilah pengajar yang lebih baik untuk para pembelajar dewasa!

Share
Topics
Editorial Team
Desy Damayanti
EditorDesy Damayanti
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More

102 Tahun Berdiri, PP Persis Akhirnya Menggelar Expo Ramadan Perdana

03 Mar 2026, 20:34 WIBNews