Nekat Backpacker ke Makkah, Firdan Tempuh Jalur Konflik Bermodal Tipis

- Firdan Abdullah menempuh perjalanan ke Makkah seorang diri dengan modal terbatas dan persiapan minim setelah menutup nazarnya untuk keliling Indonesia.
- Perjalanan Firdan dimulai dari Sukabumi hingga Thailand dengan jalur darat yang jarang dilalui pelancong Indonesia, menghadapi kondisi sulit dan bantuan tak terduga.
- Firdan berhasil menembus jalur langka hingga jalur konflik menuju Makkah, menuntaskan niatnya dengan beribadah umroh setelah perjalanan panjang dan melelahkan.
Sukabumi, IDN Times - Berawal dari nazar sederhana, perjalanan Firdan Abdullah (35) justru berubah menjadi petualangan lintas negara penuh risiko. Pria asal Kota Sukabumi itu nekat backpacker ke Makkah seorang diri dengan modal terbatas, persiapan minim, bahkan harus berhadapan dengan wilayah konflik demi menuntaskan niatnya.
Firdan bukan jamaah umroh biasa. Ia menempuh perjalanan panjang lewat jalur darat sejak akhir 2023, berpindah dari satu negara ke negara lain, mengandalkan keyakinan, keberanian, dan kemampuan bertahan hidup yang terasah dari pengalamannya keliling Indonesia.
1. Nazar Keliling Indonesia yang Berujung ke Makkah

Firdan bercerita, perjalanan ke Makkah berawal dari nazar yang ia buat sejak 2020. Selama empat tahun, ia berkeliling Indonesia seorang diri. Setelah perjalanan itu selesai, muncul keinginan untuk menutup nazarnya dengan menuju Tanah Suci.
“Setelah keliling Indonesia, penutupnya kepikiran ke Makkah. Itu nazarnya,” kata Firdan kepada IDN Times, Jumat (9/1/2026).
Perjalanan tersebut ia jalani pada rentang akhir November 2023 hingga April 2024, bertepatan dengan bulan Ramadan.
Keputusan berangkat diambil secara spontan. Firdan bahkan baru mengurus paspor sehari sebelum keberangkatan. Pada 29 November 2023, ia langsung melangkah meninggalkan Sukabumi.
Modal awal yang dibawa pun terbatas, hanya sekitar Rp10 juta. Dana itu berasal dari tabungan dan pemasukan endorsement yang biasa ia terima sebagai travel content creator.
“Enggak terlalu persiapan. Langsung jalan aja,” ujarnya.
2. Jalur Darat Panjang dari Sukabumi hingga Thailand

Perjalanan dimulai dari Sukabumi menuju Palembang, lalu berlanjut ke Merak, Jambi, dan Kuala Tungkal. Dari sana, Firdan menyeberang ke Batam, masuk ke Johor, Malaysia, lalu menuju Kuala Lumpur.
Alih-alih mengambil jalur umum, ia memilih rute tak biasa dengan masuk ke Thailand melalui Pasir Mas di wilayah timur Malaysia. Jalur ini jarang dilalui pelancong Indonesia.
Masalah muncul saat Firdan tiba di Thailand. Dana awalnya habis, sementara pemasukan dari endorsement terhenti pada Januari–Februari. Kondisi itu membuatnya hampir menyerah.
“Sisa uang tinggal Rp2 juta, itu cukup buat ongkos pulang. Tadinya sudah mau nyerah,” ungkapnya.
Beruntung, Firdan memiliki teman kuliah di Thailand. Ia menetap lebih dari sebulan sambil mencari pemasukan tambahan dengan mengirim proposal sponsor.
3. Bantuan Tak Terduga Mengubah Arah Perjalanan

Di tengah kondisi sulit, bantuan datang dari arah tak terduga. Seorang yang tidak dikenalnya menghubungi lewat pesan langsung dan menawarkan dukungan dana sebesar Rp10 juta.
“Padahal saya enggak minta. Tiba-tiba dia bilang mau support,” ujarnya.
Bantuan itu membuat Firdan kembali melanjutkan perjalanan. Karena jalur Myanmar tertutup akibat konflik, ia memutuskan masuk ke China dan mengurus visa di Thailand.
Di China, tantangan datang dari bahasa dan cuaca ekstrem. Mayoritas warga tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga Firdan mengandalkan Google Translate untuk berkomunikasi.
Ia bahkan sempat merasakan suhu ekstrem hingga minus 17 derajat di wilayah barat China. Dengan perlengkapan minim, Firdan terpaksa membeli jaket bekas agar bisa bertahan.
Meski begitu, ia mengaku tidak kesulitan menjalankan ibadah. “Banyak masjid dan makanan halal. Saya malah diajak warga lokal rayain Imlek di rumah mereka,” katanya.
4. Menembus Jalur Langka hingga Jalur Konflik

Dari China, Firdan melanjutkan perjalanan darat menuju Pakistan lewat jalur yang jarang dilewati pelancong Indonesia. Ia menyebut kemungkinan dirinya menjadi orang Indonesia pertama yang melintas jalur tersebut sejak kembali dibuka.
Ia singgah di Hunza, wilayah Pakistan utara, selama beberapa hari sebelum menuju Islamabad. Di ibu kota Pakistan, Firdan kembali menetap sekitar satu bulan sambil menunggu pemasukan lanjutan karena dana kembali menipis.
Rencana menuju Iran lewat jalur darat akhirnya kandas. Di perbatasan Pakistan–Iran, tepatnya di Provinsi Balochistan, situasi keamanan memburuk. Aparat setempat melarang perjalanan karena rawan serangan bersenjata.
Firdan bahkan sempat ditahan di hotel selama sekitar lima hari di bulan Ramadan. “Ada kasus bus penumpang ditembaki. Katanya enggak aman,” ujarnya.
Tak ingin mengambil risiko, Firdan akhirnya memutuskan mengakhiri perjalanan darat. Ia terbang dari Quetta ke Dubai dalam kondisi fisik dan mental yang lelah.
Dari Dubai, perjalanan dilanjutkan dengan bus menuju Riyadh, Arab Saudi, hingga akhirnya tiba di Makkah.
5. Sampai di Makkah dan Menuntaskan Nazar

Sesampainya di Makkah, Firdan menuntaskan niatnya dengan beribadah umroh. Baginya, perjalanan panjang itu memang diniatkan untuk mencapai Tanah Suci lewat jalur darat.
“Kalau sudah sampai Makkah, masa enggak umroh,” ucapnya.
Firdan mengaku tidak memberi tahu keluarga bahwa tujuan akhirnya adalah Makkah. Keluarga baru mengetahui setelah melihat unggahan videonya di media sosial. Meski sempat khawatir, keluarganya kini memberikan dukungan penuh.
Kini kembali ke Sukabumi, Firdan belum ingin berhenti. Ia mengaku ingin melanjutkan petualangan berikutnya dengan target Eropa melalui jalur darat.
“Paling akhir tahun ini atau tahun depan. Lagi nyari sponsor,” katanya.
Dari perjalanan panjang itu, Firdan menarik satu pelajaran penting. “Yang paling berat itu sebenarnya pikiran kita sendiri. Kalau sudah berani jalan, biasanya semuanya dimudahkan,” tutupnya.

















