Menilik Pameran Seni yang Suarakan Sunyi Mahasiswa Tuli di Sukabumi

- Edwin Do dan mahasiswa DKV Nusa Putra suarakan kesulitan mahasiswa tuli dalam mengakses perkuliahan karena minimnya fasilitas JBI.
- Pameran The Sound of Silence jadi advokasi atas minimnya juru bahasa isyarat dalam proses perkuliahan, dengan 12 mahasiswa tuli terlibat langsung.
- Tema pameran lahir dari realitas keheningan yang dirasakan mahasiswa tuli di ruang kelas, menjadi pengingat akan pentingnya inklusivitas di kampus.
Sukabumi, IDN Times – Di tengah semangat kampus yang mengusung inklusivitas, masih ada sunyi yang belum sepenuhnya terjawab. Lewat pameran bertajuk The Sound of Silence, pelukis Edwin Do bersama mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Nusa Putra mencoba menyuarakan pengalaman mahasiswa tuli yang kesulitan mengakses materi perkuliahan karena minimnya fasilitas juru bahasa isyarat (JBI).
Pameran tunggal ini tak sekadar menampilkan karya seni visual. Edwin menggandeng kafe Naera serta 12 mahasiswa tuli DKV Nusa Putra untuk menjadikan ruang pamer sebagai medium refleksi sekaligus advokasi.
1. Berangkat dari keresahan yang nyata

Edwin mengaku pameran ini sudah lama ia rencanakan. Ia mempersiapkan karya-karyanya secara khusus untuk pameran tunggal tersebut.
“Awalnya saya memang merencanakan ini sudah lama. Saya mempersiapkan karyanya untuk pameran tunggal ini,” ujar Edwin, Jumat (13/2/2026).
Namun, pameran ini kemudian berkembang menjadi ruang kolaborasi dan advokasi. Edwin ingin karyanya tak hanya dinikmati secara visual, tetapi juga memberi dampak.
“Motivasinya saya pengen dari kolaborasi ini supaya karya saya bisa orang-orang nikmati, bisa rasakan dan bisa jadi pemicu buat anak-anak muda yang lain,” katanya.
2. Minimnya juru bahasa isyarat jadi sorotan

Keterlibatan mahasiswa tuli bukan tanpa alasan. Edwin menyebut ada isu penting yang ingin diangkat, yakni ketiadaan juru bahasa isyarat (JBI) dalam proses perkuliahan.
“Saya memang ingin melibatkan teman-teman tuli karena ada isu yang ingin saya angkat. Setelah saya dengar, memang teman-teman di DKV Nusa Putra itu tidak mendapatkan fasilitas untuk juru bahasa isyarat,” tuturnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat mahasiswa tuli kesulitan menyerap materi selama perkuliahan. Bahkan, berdasarkan informasi yang ia peroleh, ada mahasiswa yang sudah menjalani hingga tujuh semester tanpa pendampingan JBI.
Total mahasiswa tuli aktif di DKV Nusa Putra sendiri tercatat sebanyak 18 orang, sementara 12 di antaranya terlibat langsung dalam kolaborasi pameran ini.
3. ‘The Sound of Silence’, jadi representasi sunyi di ruang kelas

Tema The Sound of Silence lahir dari realitas yang dilihat dan didengar Edwin dari cerita mahasiswa tuli. Ia menyebut, keheningan kerap mereka rasakan dalam berbagai situasi, terutama saat kegiatan belajar berlangsung.
“Judulnya The Sound of Silence. Jadi mereka selalu merasakan keheningan di dalam satu peristiwa yang terjadi salah satunya kegiatan belajar di dalam kampus,” jelasnya.
Setelah perkuliahan selesai, mahasiswa tuli biasanya berusaha mengejar ketertinggalan dengan bertanya kepada teman sekelas. Namun, informasi yang didapatkan tetap terbatas.
“Yang didapat pun terbatas,” katanya.
4. Advokasi lewat cara kreatif

Salah satu mahasiswa DKV, Feri Hidayat (21), menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menyebut pameran ini bermula dari diskusi santai yang kemudian berkembang menjadi gagasan advokasi.
Ia menjelaskan, mahasiswa tuli sebenarnya diterima dengan baik dalam kehidupan sosial kampus dan tidak dibeda-bedakan. Namun, ketiadaan JBI menjadi kendala utama dalam memahami materi perkuliahan.
“Teman tuli kami belum mendapatkan fasilitas dari kampus, dengan title kampus inklusif tapi belum menyediakan fasilitas yang ada, membutuhkan JBI karena mereka sangat kesulitan. Mungkin kami bisa membantu tapi kami juga terbatas dalam memahami bahasa isyarat,” ujarnya.
Upaya advokasi, kata Feri, sudah pernah dilakukan melalui kampus dan BEM, tetapi belum membuahkan hasil.
“Yang pasti kami pernah mengadvokasi ke pihak kampus, BEM, tapi belum ada tindak lanjut. Entah audiensi ke pihak kampus, kita lakukan dengan cara yang kreatif ini semoga bisa sampai ke pihak kampus,” katanya.
Lewat sapuan warna dan kolaborasi lintas keterbatasan, The Sound of Silence menjadi lebih dari sekadar pameran seni. Ia adalah pengingat bahwa inklusivitas bukan hanya label, melainkan komitmen yang harus benar-benar diwujudkan.














