Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kuningan Ternyata Bukan Sekadar Sejuk, Ini Fakta yang Jarang Dibahas

Ilustrasi Gunung Ciremai diyakini sebagai surga energi yang masih tertidur (commons.wikimedia.org/Sfw_2503)
Ilustrasi Gunung Ciremai diyakini sebagai surga energi yang masih tertidur (commons.wikimedia.org/Sfw_2503)
Intinya sih...
  • Kuningan memiliki sejarah panjang sejak zaman neolitik hingga era modern, dengan bukti arkeologis di situs purbakala seperti Situs Cipari.
  • Kuningan adalah Islamic heartland dengan mayoritas Muslim yang tinggi, namun tetap mempertahankan kekayaan budaya lokal dan ragam bahasa.
  • Pertumbuhan ekonomi Kuningan mencapai 10,41 persen pada Triwulan II 2025, didorong oleh sektor pertanian, perdagangan, dan pariwisata.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kuningan, IDN Times - Kabupaten Kuningan selama ini dikenal luas sebagai daerah pegunungan dengan udara sejuk dan panorama alam yang menenangkan. Namun, di balik citra tenang itu, terdapat sejarah panjang, dinamika sosial, kekayaan budaya, dan potensi ekonomi yang sering kali luput dari sorotan.

Dari akar sejarahnya yang kuno hingga pertumbuhan ekonomi yang kini melesat, Kuningan menyimpan banyak cerita yang layak diungkap.

1. Jejak sejarah panjang, dari Galuh hingga Era Modern

situs purbakala cipari (instagram.com/kabupatenkuningan)
situs purbakala cipari (instagram.com/kabupatenkuningan)

Kuningan bukan sekadar nama geografis. Ia pernah menjadi pulau sejarah yang hidup sebelum era penjajahan modern. Bukti arkeologis di situs seperti Situs Cipari menunjukkan jejak manusia sejak zaman neolitik, dengan artefak yang diperkirakan berasal dari 1000 SM hingga 500 Masehi.

Penemuan kuburan batu, perkakas, serta sisa bangunan megalitik membuktikan bahwa kawasan ini telah dihuni dan memiliki struktur sosial yang berkembang jauh sebelum kerajaan besar Nusantara mencuat.

Nama Kuningan sendiri diperkirakan berasal dari kata kuningan atau logam kuning, simbol kekayaan lokal atau dari tokoh historis seperti Pangeran Arya Kuningan yang menjadi figur penguasa wilayah pada abad ke-15.

Tradisi lisan ini dipadukan dengan historiografi yang menunjukkan kawasan ini bagian dari Kerajaan Galuh sejak abad ke-14.

Situs purbakala tersebut bukan sekadar peninggalan mati. Ia menunjukkan kalau wilayah ini merupakan jantung kehidupan awal yang memiliki pemukiman terorganisir, ritual kepercayaan, dan kemungkinan jaringan perdagangan antarzaman.

Hal ini memberi dimensi berbeda atas narasi umum tentang Kuningan yang hanya dikenal sebagai tujuan wisata alam.

2. Islamic heartland dengan ragam kultural lokal

Ilustrasi islam (freepik.com/freepik)
Ilustrasi islam (freepik.com/freepik)

Secara demografis, Kuningan kini menjadi rumah bagi lebih dari 1,2 juta jiwa penduduk berdasarkan estimasi terbaru (2024). Penduduknya tersebar di 32 kecamatan dan 376 desa/kelurahan.

Salah satu karakter demografi yang mencolok adalah dominasi mayoritas Muslim yang sangat tinggi—mencapai sekitar 99 persen dari total populasi. Ini menempatkan Kuningan sebagai salah satu kabupaten dengan proporsi Muslim tertinggi di Jawa Barat, sebuah fakta yang kerap luput dari sorotan media nasional.

Walaupun mayoritas homogen secara agama, Kuningan tetap memiliki kekayaan budaya lokal terutama dalam praktik adat, bahasa, dan tradisi. Bahasa Sunda mendominasi percakapan sehari-hari, namun di daerah perbatasan dengan Jawa Tengah, ragam bahasa seperti Banyumasan juga terdengar, menunjukkan mobilitas lintas budaya yang cukup tinggi.

3. Ekonomi yang bergerak lebih cepat dari yang kamu pikir

Ilustasi uang ( unsplash.com/annie)
Ilustasi uang ( unsplash.com/annie)

Kuningan bukan hanya tentang panorama yang memesona. Ekonomi daerah iini kini menunjukkan dinamika yang menarik. Pada Triwulan II 2025, pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Kuningan mencapai 10,41 persen, tertinggi di antara kawasan lain di Jawa Barat dan jauh melampaui rata-rata regional yang sekitar lima persen.

Sektor utama yang mendorong pertumbuhan adalah pertanian, kehutanan, perikanan, perdagangan, serta pariwisata. Pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi, didukung oleh kesuburan tanah vulkanik kaki Gunung Ciremai, sementara sektor perdagangan lokal dan UMKM menunjukkan dinamika positif dalam beberapa tahun terakhir.

Meski pertumbuhan tinggi, tantangan tetap ada: tingkat pendidikan yang masih di bawah rata-rata provinsi. Rata-rata lama sekolah penduduk Kuningan pada 2025 baru mencapai sekitar 7,9 tahun, menunjukkan bahwa sebagian besar hanya menyelesaikan pendidikan setingkat SMP.

4. Kuningan sebagai menara air Jawa Barat

Jalur pendakian Gunung Ciremai via Palutungan di Kabupaten Kuningan
Jalur pendakian Gunung Ciremai via Palutungan di Kabupaten Kuningan

Salah satu aspek ekologis yang jarang dielaborasi dalam pemberitaan umum adalah peran Kuningan sebagai sumber air bagi wilayah yang lebih luas. Di kaki Gunung Ciremai terdapat ratusan mata air dan puluhan sungai yang memberikan pasokan air bersih secara alami.

Data penelitian lokal menunjukkan total debit air dari kawasan Kuningan mencapai ribuan liter per detik, menjadi andalan bagi pertanian dan ekosistem di daerah hilir. Catatan laporan akademik menunjukkan potensi lebih dari 620 mata air dan 43 sungai kecil dengan total debit signifikan, yang mendukung ekologi pertanian lokal.

Sumber air ini menjadi bagian penting dalam strategi konservasi regional, memperkuat peran Kuningan bukan hanya sebagai daerah konsumtif, tetapi sebagai penjaga sumber daya air yang kritis bagi kelangsungan hidup jutaan orang.

5. Tradisi adat yang terus hidup di era modern

Eks galian tambang pasir seluas 2 hektare di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan berubah menjadi kawasan wisata. (IDN Times/Wildan Ibnu)
Eks galian tambang pasir seluas 2 hektare di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan berubah menjadi kawasan wisata. (IDN Times/Wildan Ibnu)

Budaya lokal Kuningan lebih dari sekadar pertunjukan wisata; ia adalah bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat. Ritual adat seperti ngabungbang dan sedekah bumi masih dipraktikkan di banyak desa untuk menghormati alam dan memohon keseimbangan antara manusia dan lingkungan.

Gunung Ciremai sendiri merupakan bagian dari spiritualitas lokal. Masyarakat setempat memandangnya sebagai simbol kekuatan alam dan leluhur, sehingga berbagai ritual sering diarahkan ke puncaknya. Praktik ini berjalan seiring dengan cara hidup modern tanpa menjadi sekadar tontonan wisata.

Budaya ini mencerminkan pola pikir komunitas yang menghargai keterhubungan antara manusia dan alam, serta menunjukkan bagaimana tradisi lama terus relevan dalam masyarakat yang kian urban.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest Travel Jawa Barat

See More

[QUIZ] Jangan Ngaku Orang Kuningan Kalau Kamu Gak Tau Fakta Ini? Coba Tes Pengetahuanmu di Sini

11 Jan 2026, 11:00 WIBTravel