Dari Pantai hingga Museum Malam, 64 Juta Turis Datang ke Turki Sepanjang 2025

- Wisata budaya dan religi makin dekat dengan pasar Indonesia
- Turki menonjolkan wisata budaya dan religi sebagai pilar utama pariwisata, menawarkan pengalaman sejarah, spiritualitas, dan arsitektur yang kuat.
- Destinasi empat musim, cocok untuk first-time traveler Indonesia
- Turki menawarkan pengalaman empat musim, biaya relatif kompetitif, konektivitas penerbangan yang kuat, serta pilihan paket wisata yang variatif.
- Museum malam dan promosi digital menyasar generasi muda
- Program Night Museum menghadirkan pengalaman baru bagi wisatawan urban Indonesia. Turki juga memanfaatkan storytelling digital melalui format miniseries untuk menjang
Bandung, IDN Times – Turki kian mengukuhkan diri sebagai destinasi favorit wisatawan global, termasuk dari Indonesia. Sepanjang 2025, negara yang berada di persimpangan Asia dan Eropa ini menerima 64 juta wisatawan dengan pendapatan pariwisata mencapai USD 65,23 miliar, tertinggi sepanjang sejarah.
Bagi wisatawan Indonesia, khususnya dari Jawa Barat, capaian ini bukan sekadar angka global. Diversifikasi destinasi, penguatan wisata budaya dan religi, hingga pengalaman baru seperti museum malam hari membuat Turki semakin relevan sebagai tujuan perjalanan jarak jauh yang “worth it”.
1. Wisata budaya dan religi makin dekat dengan pasar Indonesia

Turki dikenal sebagai salah satu pusat sejarah peradaban Islam dunia. Pemerintah setempat kini semakin menonjolkan wisata budaya dan religi sebagai pilar utama pariwisata, melampaui sekadar wisata pantai.
Bagi wisatawan Indonesia yang mayoritas muslim destinasi seperti İstanbul, Konya, Bursa, hingga Cappadocia menawarkan pengalaman sejarah, spiritualitas, dan arsitektur yang kuat. Pendekatan ini sejalan dengan minat wisatawan Jabar yang cenderung mencari perjalanan bermakna, bukan hanya rekreasi visual.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Mehmet Nuri Ersoy, menyebut transformasi ini membuat pariwisata Turki lebih inklusif dan tahan terhadap perubahan tren global.
2. Destinasi empat musim, cocok untuk first-time traveler Indonesia

Berbeda dengan banyak destinasi tropis, Turki menawarkan pengalaman empat musim. Wisata musim dingin, wisata termal, hingga kapal pesiar kini menjadi bagian penting dari strategi nasional.
Bagi wisatawan Indonesia yang baru pertama kali ke Eropa atau kawasan Mediterania, Turki sering dipilih sebagai pintu masuk karena biaya relatif kompetitif, konektivitas penerbangan yang kuat, serta pilihan paket wisata yang variatif.
Diversifikasi ini juga menjawab kebutuhan wisatawan dari Jabar yang semakin gemar perjalanan tematik—mulai dari fotografi alam, kuliner, hingga perjalanan keluarga lintas generasi.
3. Museum malam dan promosi digital menyasar generasi muda

Salah satu terobosan yang mendapat perhatian global adalah program Night Museum atau museum malam hari, bagian dari visi “Heritage for the Future”. Konsep ini menghadirkan pengalaman baru menikmati situs sejarah tanpa kepadatan siang hari—sesuatu yang menarik bagi wisatawan urban Indonesia.
Di sisi promosi, Turki memanfaatkan storytelling digital melalui format miniseries. Serial “An Istanbul Story” bahkan meraih 32 juta penayangan per episode, dengan konten terendah tetap menembus 10 juta views.
Strategi ini efektif menjangkau wisatawan muda Indonesia, yang akrab dengan konten visual dan narasi perjalanan di media sosial, sekaligus memperkuat citra Turki sebagai destinasi modern tanpa meninggalkan akar sejarahnya.















