Bandung, IDN Times - Alunan musik jazz berpadu dengan irama tropis khas Indonesia Timur mewarnai penyelenggaraan The Papandayan Jazz Fest (TPJF) ke-11 di Kota Bandung. Festival yang secara konsisten digelar setiap tahun di Kota Kembang ini tidak hanya sebatas menampilkan band-band jazz saja.
Musisi Barry Likumahuwa yang menjadi salah satu penampil turut membawa warna tersendiri dalam festival ini. Ia pun berkesempatan membawa album Ambon Jazz Rock, karya almarhum Yopie Latul dan almarhum Christ Kayhatu yang diproduseri Enteng Tanamal pada 1983.
Bagi Barry, album tersebut bukan sekadar warisan musik Indonesia, melainkan bukti bahwa lagu-lagu timur khususnya Maluku mampu menembus batas identitas dan diterima oleh masyarakat luas.
Melalui proyek musiknya bersama Rhythm Service dan Ule Jua Chorus, Barry membawakan sembilan lagu, termasuk lagu-lagu dari album Ambon Jazz Rock dan Ambon Jazz Rock 2, serta lagu tradisional Sio Mama yang diaransemen ulang.
"Kenapa saya mau membawakan lagu-lagu dari album tersebut karena fenomenal banget albumnya. Lagu berbahasa Maluku, tapi pada masa itu bisa diterima oleh banyak orang yang bukan berdarah Maluku, dan bahkan lagu-lagunya terkenal, bahkan masih banyak yang ingat sampai sekarang," ujar Barry, Sabtu (3/10/2026).
