Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
The Papandayan Jazz Fest ke-11 Satukan Komunitas dan Ekonomi Bandung
Penampilan Barry Likumahuwa di The Papandayan Jazz Fest (TPJF) ke-11, Kota Bandung. Dok. IDN Times/Azzis Zulkhairil
  • The Papandayan Jazz Fest ke-11 di Bandung memadukan jazz dengan nuansa musik Indonesia Timur; Barry Likumahuwa membawakan sembilan lagu, termasuk repertoar Ambon Jazz Rock dan Sio Mama.

  • Festival ini menggerakkan ekosistem kreatif melalui keterlibatan komunitas, sekolah, kampus, studio musik, kru, dan UMKM, sekaligus mempertahankan panggung jazz, semi-jazz, serta pop.

  • Digelar 3–4 Oktober 2026 di Hotel Papandayan, TPJF memperkuat citra Bandung sebagai kota musik dan kreatif; acara menghadirkan Diskoria, Andine, Ruth Sahanaya, serta penghargaan untuk Bimbo.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1983

Album Ambon Jazz Rock karya Yopie Latul dan Christ Kayhatu diproduseri Enteng Tanamal.

3-4 Oktober 2026

The Papandayan Jazz Fest ke-11 digelar di Hotel Papandayan Bandung. Festival menghadirkan sejumlah musisi, memberi penghargaan lifetime achievement kepada Bimbo, dan melibatkan tokoh termasuk Surya Paloh.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    The Papandayan Jazz Fest ke-11 menampilkan pertunjukan jazz, semi-jazz, dan pop, serta melibatkan komunitas kreatif, institusi pendidikan, kru, studio musik, dan UMKM.
  • Who?
    Barry Likumahuwa bersama Rhythm Service dan Ule Jua Chorus tampil membawakan sembilan lagu. Bobby Renaldi, Muhammad Farhan, Surya Paloh, Bimbo, Ruth Sahanaya, Diskoria, dan Andine turut terlibat atau hadir.
  • Where?
    Festival berlangsung di Hotel Papandayan Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat.
  • When?
    The Papandayan Jazz Fest ke-11 digelar pada 3–4 Oktober 2026. Barry Likumahuwa menyampaikan keterangannya pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
  • Why?
    Festival digelar untuk menghadirkan ruang ekspresi musik lintas genre, menjaga identitas jazz, mempertemukan komunitas, serta menggerakkan aktivitas kreatif dan ekonomi di Bandung.
  • How?
    TPJF menghadirkan sejumlah panggung dan musisi, melibatkan sekolah, universitas, studio musik, kru, serta UMKM. Hari pertama ditutup penampilan Diskoria featuring Andine setelah penampilan Ruth Sahanaya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Festival jazz ke-11 di Bandung diadakan di Hotel Papandayan pada 3 dan 4 Oktober 2026. Barry Likumahuwa menyanyi lagu Ambon bersama teman-temannya. Ruth Sahanaya dan Diskoria juga tampil. Banyak orang datang, kru bekerja, dan UMKM ikut jualan. Wali Kota Muhammad Farhan senang Bandung tetap jadi kota musik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
The Papandayan Jazz Fest menunjukkan bagaimana panggung musik dapat menjadi ruang perjumpaan yang hidup: warisan Ambon Jazz Rock hadir berdampingan dengan jazz, pop, dan berbagai komunitas kreatif. Keterlibatan sekolah, studio, kru, serta UMKM memberi festival ini nilai yang melampaui pertunjukan, sekaligus menguatkan denyut ekspresi dan aktivitas ekonomi di Bandung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Alunan musik jazz berpadu dengan irama tropis khas Indonesia Timur mewarnai penyelenggaraan The Papandayan Jazz Fest (TPJF) ke-11 di Kota Bandung. Festival yang secara konsisten digelar setiap tahun di Kota Kembang ini tidak hanya sebatas menampilkan band-band jazz saja.

Musisi Barry Likumahuwa yang menjadi salah satu penampil turut membawa warna tersendiri dalam festival ini. Ia pun berkesempatan membawa album Ambon Jazz Rock, karya almarhum Yopie Latul dan almarhum Christ Kayhatu yang diproduseri Enteng Tanamal pada 1983.

Bagi Barry, album tersebut bukan sekadar warisan musik Indonesia, melainkan bukti bahwa lagu-lagu timur khususnya Maluku mampu menembus batas identitas dan diterima oleh masyarakat luas.

Melalui proyek musiknya bersama Rhythm Service dan Ule Jua Chorus, Barry membawakan sembilan lagu, termasuk lagu-lagu dari album Ambon Jazz Rock dan Ambon Jazz Rock 2, serta lagu tradisional Sio Mama yang diaransemen ulang.

"Kenapa saya mau membawakan lagu-lagu dari album tersebut karena fenomenal banget albumnya. Lagu berbahasa Maluku, tapi pada masa itu bisa diterima oleh banyak orang yang bukan berdarah Maluku, dan bahkan lagu-lagunya terkenal, bahkan masih banyak yang ingat sampai sekarang," ujar Barry, Sabtu (3/10/2026).

1. Musik bukan sekedar genre

Barry Likumahuwa. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Ia melihat musik Ambon memiliki karakter yang dekat dengan jazz, terutama dari sisi ritme dan semangat untuk mengajak orang bergerak. Perpaduan unsur tropis, funk, dan rock dalam Ambon Jazz Rock juga memiliki kemiripan dengan musik Indonesia Timur masa kini yang semakin kaya dengan sentuhan elektronik.

Barry menilai, musik bukan hanya tentang genre, melainkan juga tentang bagaimana sebuah karya mampu menghadirkan pengalaman dan menyatukan pendengarnya.

Semangat tersebut juga sejalan dengan perkembangan jazz yang terus mengalami perubahan. Menurutnya, jazz sejak awal memiliki keterkaitan dengan musik tari sehingga pertemuannya dengan beragam genre bukan sesuatu yang asing.

"Orang Maluku dan orang Indonesia Timur pada umumnya lebih suka menari, suka menyanyi. Jadi mungkin spirit-nya sama, makanya sama-sama dance, sama-sama very adrenaline rush," katanya.

2. Musik yang menggerakkan ekosistem kreatif

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Di balik kemeriahan panggung, penyelenggaraan TPJF juga membawa cerita tentang bagaimana sebuah festival musik dapat menghidupkan berbagai sektor yang terlibat di dalamnya.

General Manager The Papandayan sekaligus Founder TP Jazz Management, Bobby Renaldi, mengatakan, dampak festival semakin terasa seiring meningkatnya animo masyarakat dan tumbuhnya berbagai komunitas yang terlibat.

Aktivitas tersebut tidak hanya berlangsung di area pertunjukan, tetapi juga merambah lingkungan pendidikan, tempat latihan musik, studio, hingga pelaku UMKM.

Bobby menyebut, sekolah dan universitas turut aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan festival. Bahkan, sejumlah studio musik dilaporkan semakin ramai karena meningkatnya aktivitas latihan para musisi.

"Kami melihat adanya peningkatan animo, terutama dari berbagai komunitas yang tercipta. Di samping itu juga kami melihat nilai-nilai manfaat keberadaan The Papandayan Jazz ini terhadap ekosistem yang dibangun semakin baik," kata Bobby.

Keterlibatan kru dalam penyelenggaraan festival juga membuka aktivitas kerja bagi banyak orang. Sementara itu, UMKM mendapat ruang untuk ikut mengambil bagian dalam kegiatan yang mendatangkan pengunjung.

Bagi Bobby, perkembangan tersebut menjadi salah satu hal yang penting dari penyelenggaraan TPJF. Festival tidak semata-mata diukur dari jumlah penonton atau kemeriahan pertunjukan, tetapi juga dari aktivitas yang tumbuh di sekitarnya.

"Semua kegiatan ini membutuhkan kru yang banyak, dan semua mendapat kegiatan. Sehingga tahun ini kami melihat selain bermusik, kami melihat banyak nilai-nilai manfaat yang tercipta," tuturnya.

Di sisi lain, TPJF tetap berupaya menjaga identitasnya sebagai festival jazz. Bobby mengatakan, panggung jazz, semi-jazz, hingga pop mendapatkan sambutan dari penonton pada penyelenggaraan tahun ini.

Keberagaman genre tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan berbagai kalangan tanpa meninggalkan akar musik jazz yang menjadi identitas festival.

3. Bandung dan Identitas sebagai kota musik

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Konsistensi penyelenggaraan festival musik seperti TPJF turut menjadi bagian dari upaya Kota Bandung mempertahankan identitasnya sebagai kota kreatif. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan, keberadaan berbagai acara musik menunjukkan bahwa Bandung masih menjadi ruang berekspresi bagi musisi dari beragam genre.

Ia mengapresiasi penyelenggaraan TPJF yang mampu bertahan hingga memasuki tahun ke-11. Menurutnya, mempertahankan festival musik selama lebih dari satu dekade bukan perkara mudah, terlebih penyelenggaraannya membutuhkan biaya dan persiapan yang besar.

"Semua jenis musik dari berbagai macam genre itu bisa hadir di Kota Bandung, berekspresi, dan saya sangat mengapresiasi inisiatif dari The Papandayan Jazz yang selalu hadir," kata Farhan.

Farhan menilai, identitas Bandung sebagai kota kreatif perlu terus dibuktikan melalui kegiatan seni dan pertunjukan yang berkelanjutan. Selain musik, ia juga ingin ruang pertunjukan di Bandung semakin berkembang untuk mengakomodasi seni koreografi, wayang, hingga teater.

Bagi Farhan, keberadaan festival musik juga berkaitan dengan pergerakan ekonomi yang melibatkan berbagai kalangan. Ia berharap, aktivitas tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan dan tidak hanya memberikan dampak sesaat.

"Tentu saja dampak yang pertama adalah citra bahwa Kota Bandung kota kreatif dan kota musik. Kota para musisi yang selalu dikenal dengan event-event yang konsisten dan menarik. Dan yang kedua, tentu ada pergerakan ekonomi yang tidak pernah berhenti," ujarnya.

Sebagai informasi, The Papandayan Jazz Fest ke-11 digelar di Hotel Papandayan Bandung dari 3-4 Oktober 2026. Dalam gelaran ini turut dihadiri oleh beberapa tokoh lainnya termasuk Surya Paloh. Selain itu, TPJF juga memberikan lifetime achievement award kepada Bimbo.

Keseruan hari pertama, ditutup langsung penampilan oleh Diskoria featuring Andine, setelah sebelumnya Ruth Sahanaya memeriahkan suasana dengan lagu-lagu hitsnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article