Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Separuh Warga Jabar Andalkan Air Minum Isi Ulang untuk Minum
ilustrasi segelas air putih (pexels.com/Engin Akyurt)
  • BPS mencatat 54,07 persen rumah tangga Jawa Barat memakai air kemasan bermerek atau isi ulang sebagai sumber minum utama pada 2025, menjadikannya pilihan dominan.
  • Sumber minum berikutnya ialah sumur bor atau pompa 18,71 persen, sumur terlindung 13,16 persen, sedangkan air leding hanya digunakan 4,77 persen rumah tangga.
  • Sebanyak 35,86 persen pengguna sumur, pompa, atau mata air memiliki sumber kurang dari 10 meter dari penampungan limbah; akses air layak juga mensyaratkan sumber terlindungi untuk kebutuhan lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Jawa Barat, banyak keluarga membeli air kemasan atau isi ulang untuk minum. Pada 2025, jumlahnya 54,07 persen. Ada juga yang minum dari sumur dan pompa. Air leding dipakai sedikit sekali. Beberapa sumur dekat tempat kotoran, jadi airnya bisa kena bakteri. BPS mencatat keadaan ini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Data BPS menghadirkan gambaran yang lebih terukur tentang pilihan air minum rumah tangga Jawa Barat. Dominannya air kemasan dan isi ulang menunjukkan adanya opsi yang digunakan luas untuk kebutuhan minum, sementara 58,86 persen pengguna sumur, pompa, atau mata air telah memiliki sumber berjarak setidaknya 10 meter dari penampungan limbah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Membeli air minum tampaknya telah menjadi bagian dari keseharian sebagian besar masyarakat Jawa Barat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, lebih dari separuh rumah tangga di Jawa Barat menjadikan air kemasan bermerek maupun air isi ulang sebagai sumber air minum utama pada 2025.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, sebanyak 54,07 persen rumah tangga di Jawa Barat menggunakan air kemasan bermerek dan air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan minum. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan penggunaan sumber air lainnya.

“Pada tahun 2025, lebih dari separuh rumah tangga di Jawa Barat menggunakan air kemasan bermerk/air isi ulang sebagai sumber air minum utama (54,07 persen),” tulis BPS dalam laporan Statistik Perumahan Provinsi Jawa Barat 2025 dikutip IDN Times, Minggu (9/8/2026).

1. Air minum kemasan jadi pilihan mayoritas rumah tangga

ilustrasi minum air putih yang banyak. (www.magnific.com/tawatchai07)

Ketergantungan masyarakat terhadap air minum yang dibeli terlihat dari besarnya selisih dengan sumber air lainnya. Setelah air kemasan bermerek dan isi ulang, sumber air minum utama yang paling banyak digunakan masyarakat adalah sumur bor atau pompa dengan persentase 18,71 persen.

Selanjutnya, sebanyak 13,16 persen rumah tangga masih menggunakan sumur terlindung sebagai sumber air minum utama. Sementara itu, penggunaan air leding hanya mencapai 4,77 persen dari seluruh rumah tangga di Jawa Barat.

Dengan komposisi tersebut, air minum kemasan dan isi ulang menjadi sumber utama yang digunakan oleh mayoritas rumah tangga di Jabar.

2. Penggunaan air leding untuk minum masih di bawah 5 persen

Ilustrasi meteran PDAM milik warga. (IDN Times/Teri).

BPS mencatat penggunaan air dari jaringan perpipaan atau leding masih belum menjadi pilihan utama sebagian besar rumah tangga di Jawa Barat. Pada 2025, hanya 4,77 persen rumah tangga yang menggunakan air leding sebagai sumber air minum utama.

Padahal, penggunaan sumber air melalui perpipaan disebut sebagai salah satu upaya untuk mencegah penggunaan air yang berpotensi terkontaminasi. Namun, sistem distribusi air perpipaan juga memerlukan perhatian, mulai dari material, lokasi hingga tekanan air.

Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan air minum masyarakat Jabar tidak selalu dipenuhi langsung dari sumber air yang tersedia di rumah. Sebagian besar justru bergantung pada air kemasan atau air isi ulang yang harus dibeli.

3. Masih ada sumber air yang dekat dengan penampungan limbah

Saluran air PDAM Padang (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)

Di sisi lain, BPS juga menyoroti jarak sumber air dengan tempat penampungan limbah, kotoran atau tinja. Jarak yang terlalu dekat dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakteri dari limbah manusia terhadap sumber air.

Pada 2025, sebanyak 35,86 persen rumah tangga di Jawa Barat yang menggunakan sumur, pompa atau mata air sebagai sumber air minum utama memiliki jarak sumber air kurang dari 10 meter dari tempat penampungan limbah, kotoran atau tinja terdekat. Sebanyak 58,86 persen memiliki jarak minimal 10 meter, sementara 5,28 persen tidak mengetahui jaraknya.

Meski begitu, penggunaan air kemasan atau isi ulang tidak serta-merta menjadi satu-satunya ukuran akses air minum layak. BPS menetapkan, rumah tangga yang menggunakan air kemasan atau isi ulang juga harus memiliki sumber air terlindungi untuk kebutuhan mandi, mencuci dan keperluan lainnya agar dapat dikategorikan memiliki akses terhadap air minum layak.

Editorial Team

Related Article