Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Screening TBC di Karawang Bongkar Masalah Serius Akses Kesehatan Warga

IMG-20251115-WA0008.jpg
Dok. IDN Times
Intinya sih...
  • TBC jadi isu nasional, tapi pengetahuan masyarakat masih sangat rendahWakil Ketua DPR RI Saan Mustopa menegaskan bahwa TBC adalah penyakit serius yang masih menjadi perhatian Kementerian Kesehatan dan DPR. Namun ia mengakui persoalan yang paling mencolok justru berasal dari rendahnya kesadaran masyarakat.
  • Program jemput bola ungkap ketimpangan layanan kesehatan daerahProgram skrining di Karawang ini menargetkan 300 warga dalam satu kegiatan, dan diperluas hingga 5.000 warga di 30 kecamatan. Angka tersebut mengindikasikan betapa besar kebutuhan pemeriksaan yang belum terpenuhi oleh layanan rutin puskesmas maupun rumah sakit.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Karawang, IDN Times – Program screening Tuberculosis (TBC) yang digelar Saan Mustopa Center (SMC) di Desa Pisangsambo, Kecamatan Tirtajaya, Sabtu (15/11/2025), membuka kembali kenyataan lama: akses kesehatan dasar, terutama pemeriksaan penyakit menular, belum merata bagi warga desa.

Bagi warga seperti Eha Rohana (50), layanan kesehatan yang seharusnya mudah dijangkau justru terasa jauh. Pemeriksaan rontgen atau tes TBC selama ini memaksa warga pergi ke kota, dengan biaya yang tak selalu mampu ditanggung.

“Kalau mau rontgen atau cek TBC, biasanya harus ke kota dan itu butuh biaya serta waktu. Dengan kegiatan ini, warga jadi bisa tahu kondisi kesehatannya,” ujar Eha.

Di balik antusiasme warga, program ini sekaligus menyoroti minimnya edukasi kesehatan, rendahnya deteksi dini, dan kesenjangan layanan medis antara pusat kota dan wilayah pinggiran.

1. TBC jadi isu nasional, tapi pengetahuan masyarakat masih sangat rendah

Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa (dok. Partai NasDem)
Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa (dok. Partai NasDem)

Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa menegaskan bahwa TBC adalah penyakit serius yang masih menjadi perhatian Kementerian Kesehatan dan DPR. Namun ia mengakui persoalan yang paling mencolok justru berasal dari rendahnya kesadaran masyarakat.

“TBC ini penyakit serius. Tapi tingkat pengetahuan masyarakat masih minim. Karena itu kita lakukan deteksi dini dengan mendatangi langsung masyarakat,” ujarnya.

Saan menyoroti bahwa TBC, meski menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi secara global, masih kerap dianggap penyakit “biasa” di tingkat kampung. Minimnya edukasi membuat banyak penderita tidak menyadari gejalanya hingga berada dalam kondisi berat.

Dari sisi kebijakan, kondisi ini menunjukkan bahwa strategi kesehatan publik belum cukup menembus wilayah-wilayah akar rumput, terutama yang jauh dari fasilitas diagnostik.

2. Program jemput bola ungkap ketimpangan layanan kesehatan daerah

Kegiatan Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding/ACF) untuk skrining kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
Kegiatan Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding/ACF) untuk skrining kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Program skrining di Karawang ini menargetkan 300 warga dalam satu kegiatan, dan diperluas hingga 5.000 warga di 30 kecamatan. Angka tersebut mengindikasikan betapa besar kebutuhan pemeriksaan yang belum terpenuhi oleh layanan rutin puskesmas maupun rumah sakit.

Pendekatan jemput bola dipilih bukan semata karena kegiatan peringatan HUT ke-14 Partai NasDem, tetapi karena fakta lapangan menunjukkan warga desa nyaris tidak pernah tersentuh fasilitas diagnostik seperti rontgen.

Bagi warga Tirtajaya dan sekitarnya, biaya transportasi, jarak, serta waktu tempuh menjadi hambatan lama yang membuat pemeriksaan TBC jarang dilakukan.

Dari sisi kesehatan, kondisi ini memperbesar risiko penularan, karena kasus TBC tanpa diagnosis tetap berpotensi menularkan hingga ke satu rumah penuh.

3. RSUD beberkan alur pemeriksaan ketat dan mekanisme tindak lanjut pasien positif

Kegiatan Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding/ACF) untuk skrining kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
Kegiatan Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding/ACF) untuk skrining kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Direktur RSUD Jatisari, dr. Anisah, menjelaskan bahwa setiap peserta melewati lima tahap pemeriksaan: administrasi, screening kesehatan, rontgen, konsultasi dokter, hingga pemeriksaan dahak untuk diagnosis pasti.

Pendekatan medis ini menunjukkan bahwa program tersebut tidak sekadar acara seremonial, tetapi intervensi kesehatan publik yang lengkap.

Ia juga memastikan mekanisme tindak lanjut bagi pasien positif diantaranya akan dirujuk ke puskesmas terdekat untuk pengobatan standar nasional, kontak serumah wajib diperiksa karena risiko penularan tinggi, dan pemantauan dilakukan hingga pasien dinyatakan sembuh.

Langkah ini menunjukkan kolaborasi RSUD dengan SMC bukan sekadar kegiatan politik, tetapi menjadi gerakan kesehatan masyarakat yang sejalan dengan target nasional Indonesia Bebas TBC 2030.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More

Diguyur Hujan Deras, Desa Kasturi Majalengka Terendam Banjir 1 Meter

07 Jan 2026, 21:57 WIBNews