Sabunity: Produk Rumahan di Perbatasan yang Jadi Penggerak Ekonomi Hijau

- Herni Tri Lestari menciptakan Sabunity, detergen ramah lingkungan dengan bahan biodegradable dan bekerja sama dengan NGO untuk penghijauan.
- Sabunity berkembang dari produksi rumahan menjadi usaha ruko dengan skema isi ulang, harga terjangkau, dan berkomitmen pada keberlanjutan.
- Dukungan BRI dalam pemberdayaan UMKM hijau seperti Sabunity membantu pertumbuhan ekonomi hijau yang penting bagi kelestarian lingkungan.
Bandung, IDN Times - Herni Tri Lestari seakan tak bisa hidup tenang menghadapi kondisi kebersihan di rumahnya. Utamanya soal kemasan plastik detergen yang rutin menumpuk di tempat sampah kediamannya, hampir setiap hari. Tak cuma itu, dampak dari zat kimia pada sabun pencuci itu pun kerap menjadi bahan renungannya saban hari.
Sebagai ibu, Herni menyadari jika merawat anak dengan mencuci pakaiannya hingga bersih dan wangi adalah tugas yang mulia. Namun, sering kali muncul perasaan bersalah sebab Herni menyadari jika sabun detergen mengandung bahan yang tak ramah lingkungan.
Masalahnya lebih daripada itu, sebab selain menjadi pengguna sabun pencuci pakaian, Herni pun merupakan agen penjual detergen itu sendiri. Kondisi ini menguatkan kegelisahannya ketika para konsumen membeli barang-barang yang dijualnya tersebut.
Perempuan lulusan diploma 4 (D4) Kimia dari Community College atau Akademi Komunitas (AK) di Bandung ini paham betul mengenai dampak-dampak dari kandungan detergen yang digunakannya itu. Kegelisahan yang terus menumpuk ini akhirnya menuntun Herni membuat produk sendiri dengan bahan yang ramah terhadap lingkungan.
Bahan-bahan kimia tidaklah asing bagi Herni, karena sebelum menerima gelar diplomanya, ia sudah mempelajari teori kimia sejak belajar di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 13 Bandung. Saat itu Herni mengambil kejuruan Analisis Kimia.
Berbekal keilmuan yang dimilikinya, Herni langsung melakukan research and development (RnD) pada 2023, dengan modal awal Rp500 ribu dan perlengkapan alat yang terbilang manual. Seiring berjalannya waktu, tepat pada Februari 2024, ia menemukan formulasi yang pas untuk produknya dan menamainya dengan Sabunity.
"Awalnya bikin sabun cuci piring, tapi beberapa konsumen merasa kurang ada busanya. Jadi saya coba lagi, dan coba lagi, sampai akhirnya jadi formula yang pas begitu. Saya juga cari literatur, kalau bahan-bahan yang saya pakai itu memang aman, tidak membuat kulit sensitif dan tidak mencemari lingkungan," kata Herni kepada IDN Times, Jumat (14/11/2025).
Jatuh dan bangun sudah dilewati Herni selama masa uji coba membuat Sabunity. Berbekal komunitas yang dibentuknya selama menjual produk detergen konvensional, ia pun perlahan turut menawarkan Sabunity kepada komunitasnya. Bak gayung bersambut, pasar merespons produknya dengan baik.

Tidak berhenti di situ, perempuan kelahiran 1986 ini kemudian mengembangkan produknya dengan membuat detergen berkomposisi salah satunya Metil ester sulfonat (MES) atau umum dikenal dengan surfaktan plant base/surfaktan nabati yang mana bahan tersebut ramah terhadap lingkungan.
"Jadi kalau misalnya dalam bahasa kimia namanya biodegradable, dalam jangka waktu tertentu dia tidak terurai dan aman gitu. Kalau (residunya) dibuang ke sungai itu tidak akan merusak ekosistem sungai. Biota-biota yang ada di sungai itu enggak akan teracuni," kata Herni sembari menegaskan detergen Sabunity tidak mengandung Sodium Lauryl Sulfate (SLS).
Dari yang awalnya sebatas produksi rumahan, Sabunity pun memberanikan diri untuk menyewa sebuah outlet berupa rumah toko (ruko) dengan ukuran 3×7 meter di area Jalan Manglid, Margahayu Selatan, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung.
Bangunan ruko ini sekilas memang tidak jauh berbeda dengan ruko lainnya. Namun, Herni terus memproduksi detergen dan mengemasnya dengan jirigen berbagai ukuran mulai dari 500 mililiter hingga satu liter untuk dipajang dalam ruko tersebut.
Inovasi pun dilakukan dengan tetap mengutamakan sistem keberlanjutan dengan pembelian skema isi ulang dari dirigen yang sudah dimiliki konsumen di awal pembelian. Menariknya lagi, Sabunity bekerja sama dengan salah satu lembaga non-governmental organization (NGO) untuk membantu penghijauan di wilayah Karawang.
"Untuk menguatkan komitmen terhadap lingkungan, kami juga bekerja sama dengan salah satu NGO yang mana hasil penjualannya disisihkan untuk digunakan menanam pohon di lahan kritis Indonesia. Kami kebetulan ambil (lahan) yang ada di Karawang," tutur Herni.
Harga produk Sabunity sendiri relatif ramah di kantong. Untuk sabun cuci piring sekaligus detergen kemasan satu liter dibanderol dengan Rp25.000, dan untuk kemasan isi ulang dibanderol Rp22.000. Kemudian sabun mandi cair berukuran 500 mililiter dibanderol seharga Rp27.000, ukuran jerigen satu liter Rp35.000, dan harga refill Rp32.000.
Menciptakan produk yang ramah lingkungan (eco-friendly) nyatanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Herni menilai misinya membesarkan Sabunity tidak cukup dengan berbekal latar belakang keilmuan kimia saja.
Ia menyadari perlunya ilmu dan wadah yang dapat membantunya untuk membesarkan usahanya tersebut, salah satunya dengan mengikuti program BRI, lewat Rumah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang banyak memberikan ilmu tentang pengembangan bisnis bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
"Saya jadi banyak belajar, mulai mindset bisnisnya seperti apa, dikasih tahu sampai ke pengelolaan keuangan, terus manajemen produksi. Semua dikasih tahu. Belajar teaching juga kalau misalnya kita butuh pendanaan ke investor atau siapapun," ujar Herni, yang menjelaskan jika lewat program ini dirinya diberikan pembelajaran pengelolaan keuangan.
Berdasarkan hasil data hasil riset Center of Economic and Law Studies (CELIOS) pada 2023, transisi ekonomi hijau mampu membuka jutaan lowongan pekerjaan, baik dari sektor perdagangan hingga sektor-sektor lainnya. Sehingga, akan banyak keuntungan yang didapatkan dari panggung green economy itu sendiri, dan harus dimulai dengan langkah-langkah kecil.
Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (Diskuk) Provinsi Jawa Barat pun mendorong agar pelaku UMKM melirik ekonomi hijau. Apalagi, berdasarkan data tahun 2023, lebih dari tiga juta pelaku UMKM yang ada di Jabar belum setengahnya fokus terhadap sektor tersebut.
"Dari tiga juta lebih UMKM di Jabar baru ada sekitar satu juta yang benar-benar produknya ramah lingkungan. Berarti kurang lebih baru sekitar 40 persen," kata Kepala Diskuk Provinsi Jabar, Yuke Mauliani Septina, Kamis (13/11/2025).
Lebih lanjut, Yuke mendorong agar para pelaku UMKM bisa turut serta dalam menghidupkan ekonomi hijau, mulai dari memilih kemasan yang ramah lingkungan dan juga memiliki prinsip keberlanjutan. "Mulai dari kemasan, bahan bakunya juga sudah kebanyakan kami arahkan yang ramah lingkungan. UMKM hijau ini merupakan tulang punggung ekonomi hijau itu sendiri," tuturnya.
Unsur terpenting untuk menggerakkan ekonomi hijau selain dari UMKM, yaitu pentingnya edukasi terhadap masyarakat sebagai konsumen, yang mana produk dengan bahan ramah lingkungan harus diutamakan untuk menjaga kelestarian.
Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, total timbulan sampah per September 2025 sudah sebanyak 35.000 ton per hari, dengan komposisi 60 persen sampah organik dan 40 persennya sampah non-organik.
Dari jumlah tersebut jika di rata-ratakan terhadap jumlah penduduk, maka setiap orang menghasilkan 0,7 kilogram sampah setiap harinya. Maka itu, green UMKM ini diharapakan dapat meminimalisir konsumsi sampah tersebut.
"Ekonomi hijau ini sangat dibutuhkan untuk meminimalisir dampak lingkungan, termasuk dari sampah yang dihasilkan, itu sudah menjadi program nasional bahkan global juga sudah mengarahkan kepada ekonomi hijau," kata Kepala DLH Provinsi Jabar, Ai Saadiyah Dwidaningsih.
"Menyelesaikan persoalan lingkungan tidak bisa hanya pemerintah saja, melainkan dari masyarakat dan juga pelaku ekonomi itu sendiri, dalam hal ini UMKM," ucapnya.
Sabunity menjadi salah satu contoh UMKM yang tumbuh dengan fokus pada produk yang berkelanjutan dan menjaga kelestarian lingkungan. Hanya saja, sebagai pelaku UMKM di tengah kondisi ekonomi saat ini dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah sangat dibutuhkan.
Salah satunya adalah BRI, sebuah Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dengan program yang konsisten mendukung pemberdayaan UMKM secara komprehensif, untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Bank pelat merah itu, turut memberikan layanan finansial seperti pelatihan, dan pendampingan usaha agar UMKM dapat memperluas pasar serta meningkatkan daya saing. Hal ini turut berdampak secara langsung kepada UMKM hijau seperti Sabunity.
"BRI meyakini bahwa kekuatan ekonomi nasional harus dibangun dari penguatan pelaku UMKM dari tingkat akar rumput. Model pemberdayaan yang dijalankan BRI sejalan dengan kebutuhan masyarakat dan arah pembangunan berkelanjutan yang inklusif," ujar Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya, dikutip dari laman resmi.
Dengan demikian, Sabunity menjadi satu bukti yang tumbuh dengan melahirkan produk otentik dan telah mendapatkan bantuan BRI dalam pemberdayaan, finansial hingga pendampingan usaha.
Meskipun baru bergerak dengan skala UMKM, Sabunity pun menjadi contoh nyata menjaga lingkungan lewat produk eco-friendly, seperti sekrup kecil yang menguatkan gear untuk terus memutar mesin ekonomi hijau agar tidak jalan di tempat.



















