Perjuangan para Kurir Menyambung Kebahagiaan di Bulan Kemenangan

- Para kurir seperti Adi dan Ayi bekerja ekstra selama Ramadan, menghadapi lonjakan pengiriman hingga ratusan paket per hari demi memastikan barang konsumen tiba tepat waktu meski harus jauh dari keluarga.
- UMKM di Bandung, seperti pengusaha rajutan dan jenama fesyen lokal, merasakan dampak positif dari layanan logistik JNE yang memperluas jangkauan pasar domestik hingga internasional selama periode Ramadan.
- Industri logistik nasional diproyeksikan tumbuh 6–8 persen pada 2026 dengan kontribusi Rp1.700 triliun terhadap PDB, didorong peningkatan e-commerce dan dukungan infrastruktur distribusi yang makin terkoneksi.
Bandung, IDN Times - Waktu menunjukkan pukul 09.10 WIB, saat Adi Subakti sampai di gudang logistik JNE, Gedebage, Kota Bandung, Kamis (12/3/2026). Bertegur sapa dengan satpam dan sejumlah teman yang sudah membawa paket konsumen, dia bergegas masuk ke area belakang untuk menyimpan tas dan jaket yang dikenakan.
"Udah siang sih kalau jam segini," kata Adi sembari melihat banyaknya paket yang harus dipilah.
Adi adalah salah satu kurir yang sudah bekerja lebih dari empat tahun. Hampir setiap hari dia datang ke gudang di Gedebage dari rumahnya yang berada di Padalarang, Bandung Barat, jaraknya lebih dari 30 kilometer (km). Berangkat dari pagi hari, dia membutuhkan waktu paling cepat 45 menit, tapi ketika macet lama perjalanan bisa mencapai 1,5 jam.
Meski cukup melelahkan di perjalanan, dia tetap harus segera menyortir paket yang akan dikirim berdasarkan jalan, perumahan, atau kawasan tertentu. Ini dilakukan agar pengiriman bisa dilakukan dengan cepat, tidak harus bolak-balik. "Ini istilahnya ngejalur kang (membuat jalur). Saya kan buat area di Bandung Kidul, jadi dicek harus bener alamatnya di daerah itu. Kadang ada aja yang barang daerah lain masuk ke kita," kata dia.
Istilah ngejalur digunakan Adi dan teman-teman kurir lainnya untuk memetakan paket mana dulu yang akan dikirim ketika keluar dari gudang logistik. Mereka harus mempersiapkan paket yang paling dekat lebih dulu untuk kemudian menumpukkan paket dengan alamat paling jauh di karung paling belakang.
Dalam sehari, setiap kurir bisa mengirimkan paket mencapai puluhan bahkan ada yang di atas 100 ketika bulan-bulan tertentu seperti Ramadan. Sebab, banyak orang berbelanja untuk merayakan Idul Fitri. Seperti yang dilakukannya hari ini, Adi harus menyorit lebih dari 150 paket menjadi lima deret sesuai dengan alamat tertera.
Berdasarkan data Compas.co.id dari historis Ramadan 2025, perilaku konsumen Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan pada sejumlah kategori fast moving consumer goods (FMCG) yang berkaitan dengan kebutuhan jamuan hari raya dan persiapan penampilan diri. Ini membuat ada kenaikan jumlah pengiriman barang oleh kurir setiap tahunnya pada Bulan Suci.

Butuh ketelitian agar paket yang disusun benar-benar sesuai dengan jalur perjalanan yang akan ditempuhnya. Jika salah satu saja terselip, itu akan membuatnya kembali ke area yang sudah dilewati dan dampaknya pulang pun semakin larut.
Setelah paket-paket tersebut dirapikan, Adi kemudian harus memasukkannya ke dalam karung cukup besar. Paket disusun kembali agar tidak rusak dan mudah saat diambil. Dalam pengiriman pertama dia membawa tiga karung. Satu karung akan disimpan di bagian depan motor, dan dua karung berada di jok belakang.
"Nah kalau yang besar biasanya disimpan di luar karung. Terus kita taliin ini (ditali) biar pas dibawa ga goyang. Jadi kurir juga kaya anak pramuka harus bisa tali-temali," canda Adi sambil mengeratkan ikatan tali pada paket di motornya.

Pukul 10.50 WIB Adi baru selesai memilah dan menaikkan paket di motor. Artinya, butuh 1 jam 40 menit mempersiapkan barang yang kemudian harus dia kirim kepada konsumen. Menurut Adi, memilah paket seperti ini memang dilakukan masing-masing kurir dan bisa menghabiskan waktu 1,5 jam di gudang.
Cukup lelah dengan persiapan tersebut, Adi dan para kurir biasanya tidak langsung berangkat mengirimkan paket. Jika tidak puasa mereka akan beristirahat di warung-warung sekitar gudang untuk merokok, sarapan, atau sekedar minum kopi. Namun, di bulan Ramadan mereka lebih banyak nongkrong dan bertegur sapa melepas penat akan pekerjaan di jalanan.
Sekitar satu jam istirahat, Adi dan teman-temannya langsung tancap gas mengirimkan paket sesuai dengan area masing-masing yang dibagi per kecamatan hingga per kelurahan. Tujuan pertama Adi adalah Perumahan Buah Batu Regency, di kawasan ini Adi mengirimkan paket lebih dari 20, mulai dari kebutuhan rumah tangga, pakaian, hingga dokumen.
Hari ini Adi bisa menyelesaikan kiriman paket lebih cepat karena pukul 17.00 WIB sudah selesai semua, padahal dia telah menambah kiriman paket dengan kembali ke gudang JNE yang lain untuk membawa barang yang harus dikirim. Ini membuatnya cukup senang karena bisa pulang dan bertemu kedua anaknya lebih cepat.
"Kalau biasa ma bisa sampe malem. Kadang ada konsumen pesan pakai yang YES (yakin esok sampai) jadi kita bisa jam 11 atau 12 (malam) kirim paketnya karena diminta (koordinator) utamakan dulu yang itu," kata Adi.
Ujung tombak yang kerap disepelekan
Menjadi seorang kurir perusahaan logistik seperti JNE memberikan banyak pengalaman kepada Adi. Sebagai lulusan SMK Pariwisata dia awalnya tidak terpikir menjadi mitra pengiriman barang. Sempat bekerja di hotel hingga resto, Adi harus jatuh bangun mencari pekerjaan usai menikah. Bahkan dia sempat menjadi penggali kubur di daerah Padalarang. Itu tidak terlepas dari mertuanya yang merupakan pengurus makam.
"Dari pada tidak kerja kan, ya jadi penggali makam juga diambil buat biaya keluarga ma," ungkap Adi.
Kesempatan menjadi kurir didapat saat dia bermain mobile legend bersama teman-temannya. Ada seorang teman yang sudah bekerja di JNE kemudian menawarkan pekerjaan kurir ketika Adi memberi tahu bahwa dia ingin mencari pekerjaan baru. Gayung bersambut, Adi kemudian diminta untuk bergabung menjadi mitra pengiriman barang.
Empat tahun berlalu, asam garam sebagai seorang kurir sudah dirasakan Adi. Hal yang menyenangkan adalah ketika ada penerima paket memberikan senyum atau sekedar berterima kasih. Ucapan itu sudah membuat dia sumringah di tengah cuaca yang kadang panas atau turun hujan.
Rasa ini juga yang dirasakan Adi ketika membawa paket berupa pempek dari Palembang untuk Tin Purwarti. Menyusuri jalan gang di kawasan Batununggal, Adi harus memarkirkan kendaraannya cukup jauh masuk ke pemukiman warga. Di sana sudah ada Tin yang menunggu paket kiriman dari keponakannya.
"Ini dari alo (keponakan) saya. Dia emang tahu saya suka pempek, jadi kirim pempek langsung dari Palembang," kata Tin saat ditanya pengirim paket tersebut.
"Nah gitu kalau penerima senang ke kita juga enak gitu," kata Adi sambil berjalan menuju motornya untuk mengambil paket yang lain.
Meski demikian, tidak semua konsumen baik, ada saja penerima paket yang ketus dan memberikan kata-kata kurang menyenangkan ketika menerima barang pesanannya. Dia menceritakan, sempat mengirimkan barang ke sebuah apartemen yang dipesan dan harus bayar di tempat (cash on delivery/COD).
Adi sudah mengirimkan pesan agar penerima bisa turun ke satpam lebih dulu, sehingga tidak harus menunggu lama ketika sampai di tempat karena masih banyak barang harus segera dikirim. Namun, sesampainya di apartemen penerima tidak ada di satpam. Adi pun kemudian meminta konsumen segera turun mengambil barang bawaannya.
"Pas turun saya dimarahin karena nyuruh cepat-cepat. Padahal saya udah infoin dulu sebelumnya biar bisa turun jadi ga keburu-buru. Eh dia ngatain saya otak dangkal atau kurang pinter gitu lah. Saya sakit hati sih, tapi ya udah lah diterima aja. Saya mikirnya ngapain ribut ini barang bawaan (paket) masih banyak harus dikirim," ungkap Adi.
Menurutnya, selama ini para kurir yang bertatap muka langsung dengan para konsumen. Sehingga ketika ada barang yang rusak atau tidak sesuai para kurir yang sering kena marah. Padahal barang yang dibeli itu berpindah-pindah gudang sebelum sampai ke kurir, sehingga tidak bisa dipastikan kondisinya akan seperti apa.
"Istilahnya ujung tombak lah (para kurir), tapi seringnya jadi pelampiasan (konsumen)," kata Adi.
Pengalaman lain yang juga menjadikan dia lebih kuat saat ini adalah ketika harus berurusan dengan barang tidak sesuai atau uang COD yang hilang maupun tidak ditransfer oleh konsumen. Sempat dia sudah mengirimkan barang yang harganya Rp8 juta, tapi ketika dibuka oleh pemiliknya barang itu berbeda. Adi sempat dimintai keterangan oleh perusahaan meski akhirnya semua bisa diselesaikan.
Untuk urusan uang COD, masalah kadang muncul ketika uang tersebut kurang karena jatuh, atau justru tidak dibayar oleh konsumen. Saat itu terjadi para kurir yang harus menanggungnya. "Tapi ya itu jadi pengalaman, kita jadi tahu mana konsumen yang baik dan engga," ujarnya.
Rela berlebaran jauh dari keluarga

Di tengah senyum manis konsumen yang mendapatkan barang kiriman untuk merayakan kemenangan di Bulan Suci, ada para pekerja yang harus jauh dari keluarga tercinta, dan kurir logistik adalah salah satunya. Hal ini juga yang dirasakan Ayi Ahmad Sobur, salah satu kurir JNE yang sudah bertahun-tahun tak merayakan Lebaran bersama keluarganya di Garut ataupun Ciamis, tempat keluarga sang istri.
Pria 30 tahun ini merupakan warga Kabupaten Garut yang sekarang menetap di daerah Ciganitri, Bandung. Meski demikian, anak dan istrinya sekarang berada cukup jauh, di Kabupaten Ciamis. Sejak awal bulan ini Ayi belum pernah pulang ke Ciamis pada akhir pekan karena perusahaan meminta para kurir untuk bisa masuk kerja setiap hari khusus pada bulan Ramadan dengan banyaknya paket harus dikirimkan kepada pelanggan.
"Biasa kalau sebelum Ramadan ma pulang pas libur, kalau sekarang emang dari atasan minta masuk terus khusus bulan ini aja sih. Jadi antar barang sampai malam Takbiran," kata dia.
2026 merupakan tahun kelima bagi Ayi bergabung sebagai kurir di perusahaan ini. Sebelumnya dia belasan tahun bekerja di sejumlah pabrik tekstil di kawasan Banjaran, Kabupaten Bandung. Namun, karena pandemik COVID-19 banyak pabrik kemudian mengurangi operasional yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK), dan Ayi menjadi salah satu pekerja yang harus diberhentikan.
Berdasarkan data Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sedikitnya ada 50 ribu buruh mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemik Covid-19 pada 2021. Terdapat tiga sektor atau industri berorientasi ekspor yang paling banyak melakukan PHK, yakni tekstil, garmen, dan sepatu. Sementara pada 2020, 1,7 juta tenaga kerja di sektor industri yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) . Dari jumlah tersebut, pekerja yang terkena PHK paling banyak berasal dari industri pakaian jadi, yakni 351,4 ribu orang.
Tak memiliki pekerjaan dan harus tetap memberikan nafkah pada keluarga membuat Ayi banting setir menjadi kurir logistik. Meski begitu, beradaptasi dari pekerjaan pabrik ke pekerjaan lapangan bukan hal mudah. Jika di pabrik ia bekerja di dalam ruangan, menjadi kurir membuatnya harus siap menghadapi panas dan hujan di jalan.
Awal bekerja, Ayi sempat ditempatkan di shift malam untuk menangani paket prioritas. Setelah beberapa bulan, ia dipindahkan ke shift pagi dan mulai rutin mengantarkan paket ke pelanggan. Belum genap setahun bekerja, Ayi sempat ingin keluar. Namun, tekad kembali menguat setelah dia perlahan merasakan kesenangan saat ada senyum manis dari pelanggan ketika menerima paket kiriman.
"Kalau customer-nya sudah siap uangnya (saat COD) atau menyambut dengan baik, itu yang bikin semangat,” ujar Ayi.
Di luar cerita pekerjaan, ada satu hal yang paling berat bagi Ayi, yaitu jauh dari keluarga. Istri dan anaknya kini tinggal di Kabupaten Ciamis. Anak mereka yang baru berusia lima tahun mulai sekolah di sana, sehingga keluarga memutuskan untuk menetap di kampung halaman. Sementara itu, Ayi tetap bekerja di Bandung dan tinggal di kontrakan.
Untuk mengobati rindu, ia biasanya menyempatkan diri melakukan panggilan video dengan keluarga. “Paling dua hari sekali video call. Biasanya malam setelah pulang kerja,” katanya.
Tak jarang saat ia menelepon, anaknya sudah tertidur karena pulang kerja kadang cukup larut. Selama lima tahun bekerja, Ayi juga pernah merasakan Lebaran tanpa keluarga karena jadwal piket. Pengaturan kerja saat Lebaran biasanya dilakukan bergiliran di antara para kurir. Karena itu, ada kalanya ia harus tetap bekerja saat hari raya.
Jika tidak mendapat jadwal piket, Ayi biasanya langsung pulang ke Ciamis setelah menyelesaikan pekerjaannya pada malam takbiran. “Biasanya habis kerja malam takbiran langsung pulang naik motor,” katanya.
Meski pekerjaan ini menuntut banyak pengorbanan, Ayi mengaku masih menikmati profesinya sebagai kurir. Baginya, pekerjaan ini sudah menjadi bagian dari hidupnya. “Sekarang sih masih nyaman. Masih dijalani saja,” katanya.
Bertumbuh bersama UMKM

Di balik beragam cerita para kurir di industri pengiriman barang, sektor logistik memang menjadi penopang penting pelaku usaha saat ini. Perkembangan perdagangan elektronik (e-commerce) mendorong peran sentral industri logistik agar bisa mengirimkan barang dagangan masyarakat secara optimal.
Mengutip data BPS dalam Survei E-Commerce 2025, menunjukkan adanya peningkatan yang konsisten dalam pemanfaatan internet sebagai kanal transaksi. Pada 2024, sebanyak 42 persen usaha telah melakukan penjualan daring. Artinya, masih ada 58 persen pelaku usaha yang belum memanfaatkan platform daring, di mana peluang bertumbuh yang masih sangat besar di ceruk e-commerce ini.

Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMUK) di Bandung yang sudah melek digital dan memanfaatkan e-commerce salah satunya adalah Eka. Pengusaha rajutan di Kampung Rajut Binong Jati tersebut mengaku bahwa penjualannya lebih banyak secara daring ketimbang luring. Keberadaan Tiktok, Shopee, Blibli, dan e-commerce lainnya memberikan keuntungan dalam jumlah pemesanan. Apalagi di bulan Ramadan seperti ini, penjualan produk rajut bisa mencapai dua kali lipat.
"Pasti naik lah pesanan kita. Banyak dari luar Bandung juga sampai ke luar Jawa," ungkap Eka.
Saking meningkatnya pesanan, Eka dan tiga orang pekerjanya harus mau begadang demi mempersiapkan pesanan dan agar bisa segera dikirim ke perusahaan logistik. Menurutnya, saat ini sudah banyak perusahaan logistik termasuk yang dikelola e-commerce sendiri. Namun, untuk pengiriman yang melakukan pembelian langsung kepadanya terlebih dalam jumlah banyak, Eka lebih senang menggunakan JNE.
"Udah dari lama sih pakai (JNE) kan cabangnya juga banyak yah di daerah-daerah jadi lebih yakin aja sampainya bisa tepat waktu," ujar Eka.
Bisnis fesyen dari Kota Bandung tidak hanya terkenal di dalam negeri, banyak pelaku UMKM yang sudah go global, seperti halnya Yogi Studio. Jenama fesyen lokal ini menunjukkan eksistensinya di industri mode dengan meluncurkan beragam koleksi unik, mulai dari produk pakaian dengan desain yang diproduksi secara terbatas (limited) hingga desain yang mengadaptasi musim perayaan di Indonesia.
Sejak awal berdiri, Yogi Studio by The Blew memosisikan diri sebagai ruang kreatif independen yang mengutamakan kualitas jahitan setara tailor, bukan produksi massal. Pendekatan tersebut membuat setiap koleksi diproduksi dalam jumlah terbatas (limited), sehingga memberikan nilai eksklusivitas bagi pelanggan.
“Setiap produk kami dibuat dengan detail dan jumlah terbatas, sehingga pelanggan merasa lebih personal dan tidak khawatir akan kesamaan busana dengan orang lain,” ujar Yogi.
Keunikan desain dan konsistensi kualitas membawa Yogi Studio by The Blew menembus pasar internasional. Produk-produknya kini telah dikirim ke berbagai negara seperti Italia, Amerika Serikat (New York), Singapura, dan Malaysia. Salah satu pencapaian yang mencuri perhatian adalah pengiriman produk ke Italia dengan konsep fashion cycle yang memanfaatkan material unik dari taplak meja, yang mendapat apresiasi dari pasar Eropa.
Head Of Regional JNE Jawa Barat, Sebastian memastikan dukungan perusahaan untuk pelaku usaha khusus UMKM dalam hal pengiriman barang di dalam dan luar negeri. Pada bulan Ramadan ini misalnya, JNE telah memanfaatkan jaringan lebih dari 8.000 titik layanan yang tersebar di seluruh Indonesia, serta meningkatkan fleksibilitas jam operasional dan pengaturan rute distribusi pada titik-titik dengan volume tinggi. Sinergi dan kolaborasi dengan berbagai mitra transportasi terus diperkuat untuk memastikan kelancaran pengiriman selama periode Ramadan dan Idulfitri.
"Dalam periode Ramadan hingga Lebaran yang identik dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, JNE juga telah menyiapkan pengelolaan distribusi yang adaptif dengan mengoptimalkan jalur darat, udara, dan laut. Dukungan teknologi serta sistem pemantauan real-time tracking dimanfaatkan untuk menjaga kelancaran proses pengiriman sekaligus memastikan kiriman dapat sampai tepat waktu sesuai dengan standar layanan," ungkap Sebastian kepada IDN Times.
Menurutnya, dalam lima tahun terakhir, tren pengiriman paket selama Ramadan di wilayah Jawa Barat menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan aktivitas belanja daring serta semakin banyaknya pelaku UMKM yang memanfaatkan layanan logistik untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
JNE memproyeksikan volume pengiriman selama Ramadan tahun ini akan tumbuh secara positif di kisaran 20 hingga30 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya dengan puncak pengiriman terjadi pada periode H-10 hingga H-3 Lebaran. Pertumbuhan ini didorong oleh kontribusi sektor fesyen, makanan dan minuman, serta kebutuhan rumah tangga yang menjadi kontributor utama, sekaligus meningkatnya kepercayaan pelanggan terhadap layanan JNE.
Industri logistik ikut menopang perekonomian dalam negeri

Industri logistik di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang positif seiring dengan semakin meningkatnya digitalisasi dan aktivitas belanja daring. Perkembangan ini turut mendorong kenaikan permintaan layanan pengiriman, baik untuk produk ritel, kebutuhan sehari-hari, maupun kiriman dari pelaku.
Prospek industri logistik nasional pada 2026 masih berada di jalur positif. Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memproyeksikan pertumbuhan bisnis supply chain dan logistik di Indonesia tahun 2026 dapat mencapai 6 sampai 8 persen dibandingkan 2025.
Ketua Umum ALI, Mahendra Rianto menyampaikan mengenai proyeksi kinerja logistik Indonesia pada tahun 2026 yang menunjukkan prospek baik dengan perkiraan pertumbuhan 6 hingga 8 persen, dan diproyeksikan menyumbang Rp1.700 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dari analisis yang dilakukan ALI, pertumbuhan ekonomi dan perdagangan nasional bakal mendorong peningkatan pergerakan barang di dalam negeri. Kondisi tersebut menjadi landasan optimisme terhadap kinerja sektor supply chain dan logistik ke depan.
Khusus di bulan Ramadan, dia menyebutkan peningkatan pengiriman barang terjadi hampir di seluruh rantai pasok, mulai dari pengiriman antardaerah hingga distribusi ke pusat konsumsi di kota-kota besar. “Biasanya kenaikan volume dalam rantai pasok selama Ramadhan bisa mencapai sekitar 30 persen,” ujar Mahendra dikutip dari Antara.
Menurut dia, peningkatan aktivitas distribusi tersebut juga sejalan dengan naiknya transaksi perdagangan elektronik selama Ramadhan yang diperkirakan tumbuh sekitar 15–20 persen. Mahendra menjelaskan bahwa dalam sistem logistik modern, khususnya pada sektor e-commerce, pengiriman barang umumnya dilakukan melalui mekanisme konsolidasi muatan sebelum didistribusikan ke berbagai wilayah. Adapun tantangan terbesar dalam distribusi logistik selama periode Ramadan tetap berkaitan dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan serta keterbatasan sarana angkut.
Di jalur darat, perusahaan logistik kerap menghadapi keterbatasan armada karena meningkatnya permintaan pengiriman secara bersamaan. Sementara di jalur laut, industri juga menghadapi keterbatasan kontainer yang berdampak pada kenaikan tarif pengangkutan.
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti Soeryaningrum Agustin menuturkan, di tengah meningkatnya aktivitas belanja masyarakat, industri logistik menjadi sektor yang menjaga ritme distribusi barang agar tetap lancar.
Esther menilai kinerja logistik Indonesia saat ini relatif sudah lebih baik, terutama didukung perkembangan infrastruktur seperti jalan tol dan konektivitas antarwilayah. Menurutnya, kemajuan infrastruktur seperti jalan tol yang menghubungkan berbagai kota di Pulau Jawa, bandara, hingga pelabuhan turut memperkuat konektivitas distribusi barang.
“Adanya konektivitas dari infrastruktur, jalan, bandara, dan pelabuhan itu membuat industri logistik bisa terhubung,” katanya.
Meski kinerjanya semakin membaik, Esther menilai biaya logistik di Indonesia masih tergolong tinggi dan menjadi tantangan utama bagi dunia usaha. Ia mencontohkan biaya pengiriman barang dari wilayah timur Indonesia ke Jakarta yang masih lebih mahal dibandingkan pengiriman internasional.
Menurut Esther, biaya logistik yang tinggi akan berpengaruh langsung pada biaya produksi dan harga barang di pasar. “Biaya logistik ini kan menjadi komponen dari biaya produksi. Itu yang harus diperhatikan oleh pemerintah agar bisa ditekan,” katanya.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu terus memperkuat infrastruktur sekaligus meningkatkan konektivitas distribusi barang agar biaya logistik dapat ditekan dan aktivitas ekonomi semakin efisien.


















