Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pengamat Sebut Rumor Duet KDM-Gibran 2029 Bisa Jadi Kritik Pemerintah
Dok. Istimewa
  • Pengamat Unpad Caroline Paskarina menilai rumor duet Dedi Mulyadi-Gibran muncul karena popularitas dan kinerja Dedi di Jawa Barat yang mendapat respons positif.

  • Caroline menegaskan popularitas saja belum menentukan pencalonan 2029, karena dinamika politik dan preferensi publik masih dapat berubah menjelang pemilihan.

  • Duet tersebut dinilai bisa menjadi kritik terhadap pemerintahan saat ini dan sinyal figur alternatif internal Gerindra, meski keduanya sama-sama berasal dari Pulau Jawa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Selasa (23/9/2026)

Prof Caroline Paskarina menilai rumor duet KDM-Gibran menuju Pilpres 2029 muncul di tengah kenaikan popularitas KDM. Ia menyebut kemunculan figur alternatif dapat menjadi kritik terhadap pemerintahan saat ini.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Rumor pasangan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk Pilpres 2029 dinilai dapat menjadi kritik terhadap pemerintahan saat ini.
  • Who?
    Prof Caroline Paskarina dari Universitas Padjadjaran menyampaikan pandangan mengenai Dedi Mulyadi, Gibran Rakabuming Raka, Presiden Prabowo Subianto, serta figur lain seperti Pramono Anung.
  • Where?
    Pandangan tersebut disampaikan di Bandung. Dinamika yang dibahas terkait politik nasional menuju Pilpres 2029, dengan Dedi Mulyadi dan Gibran sama-sama memiliki basis kepemimpinan di Pulau Jawa.
  • When?
    Caroline menyampaikan pandangannya pada Selasa, 23 September 2026, ketika nama-nama potensial untuk Pilpres 2029 mulai muncul dalam pembicaraan politik.
  • Why?
    Nama Dedi Mulyadi dikaitkan dengan popularitas dan penilaian positif atas kinerjanya di Jawa Barat, sementara Gibran dikaitkan dengan isu keberlanjutan pemerintahan saat ini.
  • How?
    Kemunculan duet itu berlangsung melalui dinamika politik dan pembicaraan publik. Caroline menilai popularitas saja belum menentukan pencalonan karena preferensi publik serta dinamika politik masih dapat berubah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Nama Dedi Mulyadi dan Gibran Rakabuming Raka ramai disebut untuk pemilihan presiden tahun 2029. Bu Caroline bilang Dedi sedang populer karena banyak orang Jawa Barat suka kerjanya. Tapi orang masih bisa berubah pikiran. Mereka berdua juga sama-sama dari Pulau Jawa. Nama Pramono Anung juga mulai dibicarakan. Sekarang banyak nama masih bisa muncul.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Munculnya berbagai nama menuju 2029 mencerminkan ruang politik yang tetap terbuka bagi figur dengan rekam popularitas, pengalaman, dan penerimaan publik. Perbincangan mengenai KDM, Gibran, hingga Pramono Anung juga menunjukkan bahwa preferensi masyarakat mulai mendapat tempat dalam pengujian calon-calon potensial, sekaligus menghadirkan alternatif di tengah dinamika pemerintahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Pengamat Politik Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Caroline Paskarina, turut memberikan pandangannya mengenai kemunculan nama Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi alias KDM yang disandingkan dengan Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka menjelang Pilpres 2029.

Menurut Caroline, mencuatnya nama orang nomor satu di Jabar ini tidak terlepas dari tingkat popularitas yang tinggi, dan hasil kinerja yang disambut positif oleh masyarakat Jawa Barat.

"Ini saya rasa pencalonan KDM dengan Gibran ini kan tidak lepas ya dari dinamika politik saat ini. KDM popularitasnya itu kan sedang naik dalam beberapa survei. Juga namanya menunjukkan kecenderungan positif," kata Caroline, Selasa (23/9/2026).

1. Pasangan capres tidak melulu soal popularitas

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Dok. Istimewa

Kendati begitu, popularitas belum cukup untuk menentukan pasangan calon presiden dan wakil presiden. Menurut dia, dinamika politik serta preferensi publik masih sangat mungkin berubah menjelang 2029.

"Kalau berbicara mengaitkan pasangan, tentu tidak bisa semata-mata berdasarkan popularitas. Ini menggambarkan bahwa sudah mulai muncul nama-nama yang potensial untuk dicalonkan dalam Pilpres 2029," ujarnya.

Caroline melihat munculnya pasangan KDM-Gibran juga dapat dikaitkan dengan isu keberlanjutan pemerintahan saat ini. Dia menilai, Gibran sebagai bagian dari pemerintahan saat ini dapat menjadi salah satu alasan namanya dipasangkan dengan KDM. Sementara KDM dinilai memiliki popularitas yang meningkat.

"Ini mungkin juga tidak bisa lepas dari isu soal keberlanjutan pemerintahan sekarang. Karena banyak kritik terhadap kepemimpinan Pak Presiden dan seterusnya," katanya.

2. Keduanya merupakan penduduk Jawa

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Meski demikian, Caroline menilai pasangan tersebut juga memiliki persoalan dari sisi representasi kewilayahan. Keduanya sama-sama memiliki basis kepemimpinan di Pulau Jawa.

"Kalau ini dicalonkan dua-duanya mewakili kepemimpinan yang berasal dari Pulau Jawa. Walaupun KDM dari Jawa Barat, sama-sama ada di Pulau Jawa," ucapnya.

Kemudian, Caroline menilai munculnya nama KDM-Gibran juga bisa dibaca sebagai bagian dari dinamika politik yang menghadirkan figur alternatif, dan hal ini menjadi bentuk kritik terhadap pemerintahan apabila aspirasi publik dinilai belum cukup terakomodasi.

"Jadi ini bisa jadi bentuk kritik juga terhadap kepemimpinan yang sekarang," katanya.

3. Publik bisa beralih ke KDM

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Terlebih, kata dia, KDM dan Presiden Prabowo Subianto sama-sama berasal dari Partai Gerindra. Sehingga, munculnya kader lain yang memiliki popularitas dapat menjadi sinyal bahwa terdapat figur alternatif di internal partai.

"Ini ada kadernya yang juga populer. Publik bisa beralih kalau misalnya jalannya pemerintahan masih seperti ini," ucapnya.

Selain KDM dan Gibran, Caroline menyebut figur lain seperti Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga mulai mendapatkan ruang dalam pembicaraan politik menuju 2029. Dia mengatakan munculnya berbagai nama merupakan bagian dari proses membangun popularitas dan menguji preferensi publik.

"Kan sekarang sudah mulai muncul pasca event di Jakarta. Muncul juga ada upaya untuk menaikkan nama Pak Pramono Anung, sebagai figur yang berpengalaman, santun, tidak cari panggung, dan seterusnya," katanya.

Menurut dia, dinamika tersebut menunjukkan bahwa arena politik menuju Pilpres 2029 masih sangat terbuka terhadap kemunculan berbagai figur.

Curated For You

Editorial Team

Related Article