Pemberdayaan Dinilai Jadi Kunci Ketahanan Usaha Ultra Mikro

- Pembiayaan tanpa pendampingan dinilai berisiko
- Pendekatan pemberdayaan meningkatkan daya tahan usaha
- Kredit tidak dimanfaatkan optimal tanpa peningkatan kapasitas
- PNM menyalurkan modal sambil membangun kapasitas pelaku usaha
- Model terintegrasi mulai diterapkan secara konsisten
- Pendekatan terintegrasi mampu menjawab kebutuhan riil pelaku usaha ultra mikro
- Pelaku usaha diposisikan sebagai mitra pembangunan ekonomi
- Pendekatan berbasis kelompok efektif dalam membangun disipl
Bandung, IDN Times – Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kerap disebut sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja memang signifikan, namun tantangan terbesar justru berada di segmen usaha ultra mikro.
Di lapisan terbawah ini, ketahanan usaha tidak selalu dapat ditopang oleh pembiayaan semata. Banyak pelaku usaha ultra mikro masih bergulat dengan keterbatasan kapasitas, mulai dari akses pasar yang sempit hingga literasi usaha yang rendah.
Dari perspektif ekonomi mikro, permasalahan utama bukan hanya kekurangan modal, tetapi juga lemahnya fondasi pengelolaan usaha. Minimnya pencatatan keuangan, rendahnya pemahaman manajemen sederhana, serta kerentanan terhadap guncangan eksternal membuat usaha ultra mikro sulit berkembang.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan memang penting sebagai pemicu awal. Namun tanpa diiringi pemberdayaan, modal finansial berpotensi menjadi beban yang justru menghambat keberlanjutan usaha.
1. Pembiayaan tanpa pendampingan dinilai berisiko

Pendekatan pemberdayaan dalam konteks usaha ultra mikro mencakup berbagai aspek, mulai dari pendampingan usaha, penguatan literasi keuangan, hingga pembentukan disiplin kelompok. Upaya ini dinilai krusial untuk meningkatkan daya tahan usaha dalam jangka panjang.
Tanpa peningkatan kapasitas, kredit yang diterima pelaku usaha berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal. Alih-alih mendorong produktivitas, pembiayaan justru bisa menambah tekanan jika pelaku usaha belum siap mengelolanya.
“PNM meyakini bahwa pembiayaan harus berjalan seiring dengan pemberdayaan. Kami tidak hanya menyalurkan modal, tetapi juga hadir mendampingi, membangun kapasitas, dan menumbuhkan kepercayaan diri nasabah agar usaha mereka bisa bertahan dan berkembang secara berkelanjutan,” ujar Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary.
Menurutnya, keberhasilan pembiayaan sangat bergantung pada kesiapan pelaku usaha dalam mengelola modal tersebut secara bertanggung jawab dan produktif.
2. Model terintegrasi mulai diterapkan secara konsisten

Dalam praktiknya, pendekatan terintegrasi antara pembiayaan dan pemberdayaan masih belum banyak dilakukan secara konsisten. Padahal, model ini dinilai mampu menjawab kebutuhan riil pelaku usaha ultra mikro.
Salah satu contoh penerapan pendekatan tersebut terlihat dalam program pembiayaan ultra mikro yang disertai pendampingan berbasis kelompok. Melalui skema ini, pelaku usaha tidak diposisikan semata sebagai debitur, melainkan sebagai mitra pembangunan ekonomi.
Pendekatan berbasis kelompok juga dinilai efektif dalam membangun disiplin, rasa saling percaya, serta jejaring sosial antarpelaku usaha. Faktor-faktor ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan usaha di tingkat komunitas.
“Keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari besarnya penyaluran dana, tetapi dari sejauh mana mereka mampu mengelola, mengembangkan, dan mempertahankan usahanya hingga memberi dampak sosial bagi lingkungan sekitarnya,” kata Dodot.
3. Pemberdayaan disebut penentu usaha naik kelas

Ekosistem pemberdayaan yang terbangun secara berkelanjutan diyakini mampu menciptakan efek berantai yang lebih luas. Peningkatan kapasitas individu berdampak langsung pada produktivitas usaha, stabilitas pendapatan keluarga, hingga ketahanan ekonomi di tingkat lokal.
Dengan semangat #PNMuntukUMKM dan #PNMPemberdayaanUMKM, pendekatan ini menempatkan pemberdayaan sebagai bagian integral dari strategi pembiayaan. Tujuannya bukan sekadar memastikan usaha bertahan, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku ultra mikro untuk naik kelas.
Bagi PNM, pembiayaan bukanlah tujuan akhir. Pemberdayaan justru menjadi faktor penentu apakah pelaku usaha ultra mikro mampu tumbuh secara berkelanjutan dan berkontribusi lebih luas bagi perekonomian.















