Museum Mini Suyadi: Pameran Ilustrasi, Boneka, dan Warisan Budaya yang berlangsung pada 21–30 Agustus 2026.. Dok Istimewa
Bagi banyak orang Indonesia, nama Suyadi begitu lekat dengan karakter Pak Raden dalam serial Si Unyil. Kumis tebal, suara khas, serta gaya bicaranya menjadi bagian dari ingatan masa kecil banyak generasi.
Namun, Suyadi jauh lebih besar daripada karakter yang dimainkannya di layar televisi. Ia merupakan ilustrator, animator, pendongeng, dalang, pendidik, sekaligus seniman yang ikut meletakkan dasar bagi perkembangan animasi Indonesia.
Kemampuan menggambarnya bahkan sudah terlihat sejak kecil. Perwakilan keluarga Suyadi, Ilona Juwita, mengatakan Suyadi kecil kerap menggambar di tembok hingga lantai rumah. Sang ayah tidak melarang kebiasaan tersebut, tetapi justru memberikan kertas dan pensil warna untuk mendukung bakatnya.
Bakat itu kemudian membawanya ke Seni Rupa ITB. Suyadi juga mempelajari bahasa Prancis hingga akhirnya memperoleh beasiswa dari Kedutaan Prancis untuk memperdalam animasi di Paris.
Studi yang semestinya ditempuh selama tiga tahun itu ternyata membutuhkan waktu empat tahun. Ketika beasiswanya berakhir, Suyadi memilih tetap bertahan di Prancis dan bekerja keras untuk membiayai tahun terakhir pendidikannya hingga menyelesaikan studi.
Sekembalinya ke Indonesia, pengetahuan tersebut tidak disimpan untuk dirinya sendiri. Suyadi turut membagikannya kepada generasi berikutnya melalui dunia pendidikan, termasuk ketika menjadi dosen pertama yang mengajarkan animasi di Studio Desain Grafis-Seni Rupa ITB sekitar dekade 1970-an.
Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ITB, Banung Grahita, S.Ds., M.Ds., Ph.D., menilai Suyadi memiliki posisi penting dalam perjalanan seni dan animasi Indonesia.
“Kalau sekarang kita melihat animasi Indonesia semakin berkembang dan semakin banyak kreator yang semakin canggih dalam bercerita, kalau ditarik ke belakang, salah satu orang yang memang mengawali ini semuanya adalah Pak Raden atau Pak Suyadi,” ujarnya.
Menurut Banung, kekuatan Suyadi bukan hanya terletak pada kemampuan visual. Ia mampu menggabungkan gambar, suara, karakter, dan cerita menjadi sebuah pertunjukan yang hidup.
“Beliau multitalenta. Selain pintar menggambar dan membuat ilustrasi yang baik, kekuatan beliau juga ada pada berceritanya. Bagaimana artikulasi beliau saat tampil, kemudian bagaimana mengembangkan cerita yang menarik,” katanya.
Karena itu, warisan Suyadi dinilai masih relevan bagi kreator muda. Menurut Banung, kemampuan membangun cerita menjadi bagian penting yang perlu terus dikembangkan dalam pendidikan seni.
“Sekarang secara kurikulum kami juga ingin mengembangkan lebih ke wilayah storytelling. Karena itu, tokoh-tokoh seperti Pak Raden benar-benar ingin kami dokumentasikan, bagaimana pendekatan beliau dalam berkarya. Mudah-mudahan ini bisa menjadi referensi bersama,” tuturnya.