Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenang Pak Raden di Sawunggaling, dari Pendalang ke Maestro Animasi
Museum Mini Suyadi: Pameran Ilustrasi, Boneka, dan Warisan Budaya yang berlangsung pada 21–30 Agustus 2026.. Dok Istimewa
  • Museum Mini Suyadi digelar di Sawunggaling, Bandung, pada 21–30 Agustus 2026, lokasi yang terkait masa muda Suyadi saat mendalang sebagai mahasiswa ITB.
  • Suyadi, dikenal sebagai Pak Raden, merupakan ilustrator, animator, dalang, pendidik, dan pencerita yang belajar animasi di Paris serta mengajar animasi di ITB pada 1970-an.
  • Pameran menampilkan boneka Si Unyil, sketsa, lukisan, ilustrasi, arsip, dan kegiatan interaktif untuk mengenalkan warisan kreatif Suyadi kepada pengunjung lintas generasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Puluhan tahun lalu, sebelum namanya dikenal sebagai Pak Raden, Suyadi hanyalah seorang mahasiswa Seni Rupa ITB yang mengisi hari Minggunya dengan mendalang. Dari sebuah bangunan yang kini menjadi Hotel Butik Sawunggaling, suara lantangnya pernah membuat orang-orang yang melintas di kawasan Tamansari berhenti sejenak untuk mendengarkan.

Kini, lebih dari tujuh dekade berlalu, jejak Suyadi kembali dihadirkan di tempat yang sama. Bukan lewat pertunjukan televisi, melainkan melalui Museum Mini Suyadi: Pameran Ilustrasi, Boneka, dan Warisan Budaya yang berlangsung pada 21–30 Agustus 2026.

1. Sawunggaling jadi potongan penting perjalanan Suyadi

Museum Mini Suyadi: Pameran Ilustrasi, Boneka, dan Warisan Budaya yang berlangsung pada 21–30 Agustus 2026.. Dok Istimewa

Pemilihan Sawunggaling sebagai lokasi pameran bukan kebetulan. Tempat tersebut menyimpan potongan penting dari perjalanan Suyadi ketika masih menjadi mahasiswa Seni Rupa ITB angkatan 1952.

Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB sekaligus dosen Kelas Ilustrasi Buku Anak (KIBA) ITB, Dr. Riama Maslan Sihombing, M.Sn., mengatakan ide tersebut muncul dari cerita seniman legendaris Prof. A.D. Pirous mengenai masa muda Suyadi.

“Menurut Pak Pirous, pada hari Minggu Pak Suyadi suka mendalang. Suaranya bagus dan besar sekali sehingga menarik perhatian orang-orang yang lewat di sekitaran Sawunggaling-Tamansari. Itu sebabnya kami ingin sekali mengenang beliau di tempat yang sama,” ujar Riama dikutip dari laman itb.ac.id, Minggu (23/8/2026).

Menurut dia, menghadirkan kembali kisah Suyadi di Sawunggaling membuat pameran memiliki hubungan yang kuat dengan sejarah. Pengunjung tidak hanya melihat karya seorang maestro, tetapi juga berada di ruang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

“Sekarang kami mengambil tempat yang bersejarah. Jadi ada lingkaran sejarah yang menjadi latar belakang,” katanya.

Museum Mini Suyadi juga dirancang berbeda dari ruang pamer biasa. Pengunjung diajak mengikuti perjalanan kreatif Suyadi melalui ilustrasi, boneka, arsip, suara, hingga berbagai elemen interaktif.

“Kami berharap orang tidak hanya membaca. Ketika memasuki pameran ini, mereka bisa mendapatkan experience yang berbeda. Jadi bukan hanya museum, tetapi ada pengalaman baru yang bisa dirasakan,” ucap Riama.

2. Di balik sosok Pak Raden, Ada Suyadi yang multitalenta

Museum Mini Suyadi: Pameran Ilustrasi, Boneka, dan Warisan Budaya yang berlangsung pada 21–30 Agustus 2026.. Dok Istimewa

Bagi banyak orang Indonesia, nama Suyadi begitu lekat dengan karakter Pak Raden dalam serial Si Unyil. Kumis tebal, suara khas, serta gaya bicaranya menjadi bagian dari ingatan masa kecil banyak generasi.

Namun, Suyadi jauh lebih besar daripada karakter yang dimainkannya di layar televisi. Ia merupakan ilustrator, animator, pendongeng, dalang, pendidik, sekaligus seniman yang ikut meletakkan dasar bagi perkembangan animasi Indonesia.

Kemampuan menggambarnya bahkan sudah terlihat sejak kecil. Perwakilan keluarga Suyadi, Ilona Juwita, mengatakan Suyadi kecil kerap menggambar di tembok hingga lantai rumah. Sang ayah tidak melarang kebiasaan tersebut, tetapi justru memberikan kertas dan pensil warna untuk mendukung bakatnya.

Bakat itu kemudian membawanya ke Seni Rupa ITB. Suyadi juga mempelajari bahasa Prancis hingga akhirnya memperoleh beasiswa dari Kedutaan Prancis untuk memperdalam animasi di Paris.

Studi yang semestinya ditempuh selama tiga tahun itu ternyata membutuhkan waktu empat tahun. Ketika beasiswanya berakhir, Suyadi memilih tetap bertahan di Prancis dan bekerja keras untuk membiayai tahun terakhir pendidikannya hingga menyelesaikan studi.

Sekembalinya ke Indonesia, pengetahuan tersebut tidak disimpan untuk dirinya sendiri. Suyadi turut membagikannya kepada generasi berikutnya melalui dunia pendidikan, termasuk ketika menjadi dosen pertama yang mengajarkan animasi di Studio Desain Grafis-Seni Rupa ITB sekitar dekade 1970-an.

Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ITB, Banung Grahita, S.Ds., M.Ds., Ph.D., menilai Suyadi memiliki posisi penting dalam perjalanan seni dan animasi Indonesia.

“Kalau sekarang kita melihat animasi Indonesia semakin berkembang dan semakin banyak kreator yang semakin canggih dalam bercerita, kalau ditarik ke belakang, salah satu orang yang memang mengawali ini semuanya adalah Pak Raden atau Pak Suyadi,” ujarnya.

Menurut Banung, kekuatan Suyadi bukan hanya terletak pada kemampuan visual. Ia mampu menggabungkan gambar, suara, karakter, dan cerita menjadi sebuah pertunjukan yang hidup.

“Beliau multitalenta. Selain pintar menggambar dan membuat ilustrasi yang baik, kekuatan beliau juga ada pada berceritanya. Bagaimana artikulasi beliau saat tampil, kemudian bagaimana mengembangkan cerita yang menarik,” katanya.

Karena itu, warisan Suyadi dinilai masih relevan bagi kreator muda. Menurut Banung, kemampuan membangun cerita menjadi bagian penting yang perlu terus dikembangkan dalam pendidikan seni.

“Sekarang secara kurikulum kami juga ingin mengembangkan lebih ke wilayah storytelling. Karena itu, tokoh-tokoh seperti Pak Raden benar-benar ingin kami dokumentasikan, bagaimana pendekatan beliau dalam berkarya. Mudah-mudahan ini bisa menjadi referensi bersama,” tuturnya.

3. Dari Si Unyil hingga Museum Mini, Pak Raden dikenalkan lagi ke generasi baru

Museum Mini Suyadi: Pameran Ilustrasi, Boneka, dan Warisan Budaya yang berlangsung pada 21–30 Agustus 2026.. Dok Istimewa

Museum Mini Suyadi tidak hanya mengajak pengunjung bernostalgia dengan Si Unyil. Pameran ini juga berusaha memperkenalkan Suyadi kepada generasi yang mungkin tidak pernah menyaksikan kiprahnya secara langsung.

Koleksi yang dihadirkan antara lain boneka karakter Si Unyil yang dihibahkan keluarga Suyadi, sketsa, empat lukisan, ilustrasi buku, arsip, dokumentasi perjalanan, serta buku-buku terbitan Djambatan dari koleksi penulis Laksmi Pamuntjak.

Salah satu bagian pameran bahkan mengajak pengunjung mengenal kecintaan Suyadi terhadap kucing. Ia dikenal menyukai kucing dan kerap menghadirkan hewan tersebut dalam karya-karyanya. Kisah Seribu Kucing untuk Kakek kemudian menjadi inspirasi pertunjukan teater wayang kucing saat pembukaan pameran.

Riama berharap generasi muda yang belum mengenal Pak Raden justru menjadi bagian dari pengunjung Museum Mini Suyadi.

“Kami justru senang jika generasi muda yang belum mengenal Pak Suyadi datang. Kalau generasi kami masih punya kenangan tentang Si Unyil. Mereka bisa mengenal beliau sebagai Pak Raden, pendongeng, budayawan, dan sosok yang sebenarnya sangat multitalenta,” ujarnya.

Sepanjang pameran, pengunjung juga dapat mengikuti sejumlah kegiatan, mulai dari panggung cerita, lokakarya kreatif dan teater, read aloud, klub buku, diskusi sastra anak, hingga tur cerita.

Dengan rangkaian kegiatan tersebut, ruang mengenang Pak Raden tidak berhenti sebagai tempat menyimpan benda-benda lama. Karya dan cara Suyadi bercerita kembali dipertemukan dengan masyarakat, terutama generasi yang akan meneruskan dunia seni dan cerita di masa depan.

Dulu, suara Suyadi sebagai mahasiswa yang mendalang membuat orang-orang di sekitar Tamansari berhenti untuk mendengarkan. Puluhan tahun kemudian, cerita tentang dirinya kembali mengundang orang datang ke Sawunggaling.

Bedanya, kali ini yang ditemui bukan hanya sosok Pak Raden yang dikenal dari layar kaca. Ada Suyadi sang ilustrator, animator, pendidik, dalang, dan pencerita yang meninggalkan warisan jauh lebih panjang daripada satu karakter.

Bagi generasi lama, Museum Mini Suyadi mungkin menjadi perjalanan pulang menuju kenangan masa kecil. Namun bagi generasi baru, pameran ini menjadi pintu untuk mengenal seorang maestro yang menunjukkan bahwa cerita yang kuat lahir dari keberanian belajar lintas bidang, terus mengasah keterampilan, dan memahami bagaimana membuat karya dekat dengan manusia.

Editorial Team

Related Article