Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
KDM Kerahkan Semua OPD Hadapi Erupsi Gunung Anak Krakatau di Jabar
Gunung Anak Krakatau tertutup kabut tebal karena cuaca mendung, Sabtu (27/8/2022) sore. (IDN Times/Rohmah Mustaurida)
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menerbitkan surat edaran kesiapsiagaan lintas instansi menghadapi dampak erupsi dan sebaran abu Gunung Anak Krakatau sejak 5 September 2026.
  • Bupati dan wali kota diminta mengaktifkan fasilitas kesehatan, menyiapkan tenaga serta logistik medis, dan melakukan pemantauan harian gangguan pernapasan, mata, kulit, cedera, serta dampak lainnya.
  • BPBD menyiapkan posko dan ruang aman, sekolah terdampak berat dapat belajar daring, sementara kualitas udara dan perlindungan kelompok rentan harus dipantau serta diinformasikan berkala.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menerbitkan surat edaran kesiapsiagaan menghadapi dampak erupsi dan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, termasuk perlindungan kesehatan, mitigasi, pemantauan udara, dan persiapan pengungsian.
  • Who?
    Dedi Mulyadi, seluruh bupati dan wali kota di Jawa Barat, dinas kesehatan, dinas pendidikan, BPBD, dinas lingkungan hidup, BMKG, dinas sosial, fasilitas kesehatan, serta kelompok rentan terlibat dalam langkah kesiapsiagaan ini.
  • Where?
    Langkah kesiapsiagaan diberlakukan di wilayah Jawa Barat, terutama daerah yang mengalami intensitas sebaran abu vulkanik tinggi dari Gunung Anak Krakatau.
  • When?
    Erupsi Gunung Anak Krakatau telah terjadi sejak Sabtu, 5 September 2026. Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 119/KS.01.01/DINKES ditandatangani pada 6 September 2026.
  • Why?
    Instruksi dikeluarkan untuk mengantisipasi potensi dampak erupsi dan paparan abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat, kualitas udara, kegiatan pendidikan, serta kelompok rentan di Jawa Barat.
  • How?
    Pemerintah kabupaten/kota diminta mengaktifkan layanan kesehatan, menyediakan logistik medis, melakukan surveilans harian, menyiapkan posko dan ruang aman, memantau PM2,5 serta PM10, dan menyebarkan edukasi perlindungan kesehatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gunung Anak Krakatau meletus dan abunya bisa sampai ke Jawa Barat. Pak Gubernur Dedi Mulyadi meminta banyak kantor pemerintah bersiap. Puskesmas dan rumah sakit diminta siap menolong orang. Sekolah bisa belajar dari rumah kalau abu banyak. BPBD juga menyiapkan tempat aman dan melihat keadaan udara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Langkah cepat Pemerintah Jawa Barat menunjukkan kesiapsiagaan yang terstruktur dalam melindungi warga dari dampak abu vulkanik. Koordinasi lintas instansi mencakup layanan kesehatan, pendidikan, pengungsian, pemantauan udara, serta perhatian khusus bagi kelompok rentan, sehingga informasi dan perlindungan dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM mengeluarkan surat edaran terkait kesiapsiagaan lintas instansi menghadapi potensi dampak erupsi dan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang sudah terjadi sejak Sabtu (5/9/2026).

Melalui surat edaran tersebut, KDM meminta pemerintah kabupaten/kota memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat serta menyiapkan langkah mitigasi di berbagai sektor.

Instruksi itu tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 119/KS.01.01/DINKES tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat Jawa Barat terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau.

1. Pemerintah Daerah diminta kerahkan semua fasilitas kesehatan

Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia)

Surat edaran yang diteken KDM pada 6 September 2026 tersebut ditujukan kepada seluruh bupati/wali kota se-Jawa Barat. Dalam surat tersebut, Gubernur meminta bupati/wali kota memerintahkan kepala dinas kesehatan untuk mengaktifkan kesiapsiagaan puskesmas, rumah sakit, pos kesehatan, serta fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Pemda juga diminta memastikan ketersediaan tenaga kesehatan, ambulans, oksigen, pulse oximeter, obat-obatan, masker atau respirator, serta alat pelindung diri (APD).

"Selain kesiapan fasilitas kesehatan, dinas kesehatan diminta melakukan surveilans harian terhadap gangguan kesehatan yang berpotensi muncul akibat paparan abu vulkanik," kata KDM dalam edaran.

2. Urusan belajar mengajar dikembalikan ke kepala sekolah masing-masing

Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat/pras.)

Pemantauan tersebut mencakup gangguan pernapasan, asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), iritasi mata, gangguan kulit, cedera, serta dampak kesehatan lainnya.

"Hasil pemantauan selanjutnya dilaporkan melalui mekanisme yang berlaku," katanya.

Kemudian, Pemprov Jabar meminta Kepala Dinas Pendidikan kabupaten/kota meningkatkan perlindungan peserta didik dan warga satuan pendidikan serta menyebarluaskan edukasi mengenai bahaya abu vulkanik dan langkah perlindungan kesehatan.

"Kepala sekolah di wilayah yang mengalami intensitas sebaran abu vulkanik tinggi diarahkan untuk mengambil keputusan pelaksanaan pembelajaran secara daring dari rumah," tuturnya.

3. Semua OPD diminta turun tangan hadapi erupsi

IDN Times/Pos pantau Gunung Anak Krakatau Lampung

Lebih lanjut, KDM meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiapkan posko serta lokasi pengungsian atau ruang aman. BPBD juga diminta memperkuat koordinasi dan memastikan respons kedaruratan dilakukan sesuai kondisi serta perkembangan di lapangan.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup bersama BMKG, BPBD, dan instansi terkait diperintahkan memantau kualitas udara, khususnya konsentrasi PM2,5 dan PM10.

Informasi mengenai kondisi udara tersebut diminta disampaikan secara berkala kepada masyarakat. KDM mendorong Dinas Sosial untuk memastikan perlindungan terhadap kelompok masyarakat yang rentan terhadap dampak abu vulkanik.

Kelompok tersebut meliputi bayi dan anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penyandang disabilitas, pekerja luar ruangan, serta masyarakat dengan penyakit kronis.

Curated For You

Editorial Team

Related Article