Kabupaten Cirebon Punya 186 Km Jalan Rusak Jelang Mudik Lebaran

- BPS mencatat 186,28 km jalan kabupaten di Cirebon dalam kondisi rusak menjelang mudik Lebaran 2026, terdiri dari 65,59 km rusak sedang dan 120,69 km rusak berat.
- Kualitas jalan secara umum membaik dengan 74% atau sekitar 920,54 km berstatus baik pada 2025, menunjukkan tren peningkatan infrastruktur yang konsisten tiap tahun.
- Meski ada perbaikan signifikan, ruas jalan rusak berat meningkat hingga lebih dari 120 km dan menjadi tantangan utama jelang lonjakan mobilitas masyarakat saat musim mudik.
Cirebon, IDN Times- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang 186,28 kilometer jalan kabupaten di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, tercatat dalam kondisi rusak menjelang arus mudik Lebaran 2026.
Angka tersebut merupakan gabungan dari jalan rusak sedang sepanjang 65,59 kilometer dan rusak berat sepanjang 120,69 kilometer dari total jaringan jalan kabupaten sepanjang 1.240,30 kilometer.
Meski mayoritas ruas jalan telah berada dalam kondisi baik, ratusan kilometer jalan yang rusak tetap menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kelancaran mobilitas masyarakat saat musim mudik.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cirebon, Januarto Wibowo, mengatakan secara umum kualitas jalan kabupaten mengalami perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun masih terdapat sejumlah ruas yang memerlukan penanganan serius.
“Jika melihat data terakhir, total jalan rusak dan rusak berat mencapai 186,28 kilometer. Ini tentu menjadi catatan penting, terutama karena arus mobilitas masyarakat biasanya meningkat signifikan menjelang Lebaran,” ujar Januarto, Minggu (8/3/2026).
1. Mayoritas jalan berstatus baik

Di sisi lain, data menunjukkan mayoritas jaringan jalan kabupaten di Cirebon sudah berada dalam kondisi relatif baik. Pada 2025, jalan dengan kategori baik mencapai 920,54 kilometer, atau sekitar 74% dari total panjang jalan kabupaten.
Jumlah tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Pada 2022, jalan dengan kondisi baik tercatat sepanjang 690,96 kilometer, kemudian meningkat menjadi 710,06 kilometer pada 2023, dan kembali naik menjadi 758,68 kilometer pada 2024.
Januarto menjelaskan peningkatan tersebut menunjukkan adanya upaya perbaikan dan peningkatan kualitas infrastruktur jalan yang dilakukan secara bertahap.
“Trennya memang menunjukkan peningkatan kualitas jalan yang cukup signifikan. Jalan dengan kondisi baik terus bertambah setiap tahun,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, sebagian besar ruas jalan kabupaten diperkirakan tetap mampu mendukung aktivitas transportasi masyarakat, termasuk saat arus mudik dan balik Lebaran.
2. Jalan rusak berat justru meningkat

Meski secara umum kondisi jalan membaik, data juga menunjukkan adanya peningkatan pada kategori jalan rusak berat.
Pada 2022, jalan rusak berat tercatat sepanjang 100,86 kilometer. Angka ini sempat turun menjadi 92,34 kilometer pada 2023, namun kembali meningkat menjadi 95,88 kilometer pada 2024 dan melonjak menjadi 120,69 kilometer pada 2025.
Sementara itu, jalan dengan kategori rusak tercatat menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, jalan rusak mencapai 96,14 kilometer, kemudian meningkat sedikit menjadi 99,12 kilometer pada 2023, sebelum menurun menjadi 91,32 kilometer pada 2024 dan 65,59 kilometer pada 2025.
Menurut Januarto, perubahan komposisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian ruas jalan yang sebelumnya berada dalam kondisi sedang atau rusak kemungkinan mengalami penurunan kualitas sehingga masuk kategori rusak berat.
“Kondisi jalan bisa berubah karena berbagai faktor, mulai dari usia konstruksi jalan, intensitas lalu lintas kendaraan, hingga kondisi cuaca,” ujarnya.
3. Tantangan infrastruktur jelang mudik

Selain jalan rusak dan rusak berat, masih terdapat ruas jalan dengan kondisi sedang sepanjang 133,48 kilometer pada 2025. Jumlah ini menurun cukup tajam dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Pada 2022, jalan kondisi sedang mencapai 352,34 kilometer, kemudian turun menjadi 338,78 kilometer pada 2023 dan 294,42 kilometer pada 2024.
Penurunan tersebut sebagian besar disebabkan oleh peningkatan kualitas jalan yang masuk kategori baik. Namun, keberadaan jalan rusak dan rusak berat yang masih mencapai lebih dari 180 kilometer tetap menjadi tantangan infrastruktur daerah.
“Kondisi ini penting menjadi perhatian karena mobilitas masyarakat biasanya meningkat tajam menjelang Lebaran,” kata Januarto.


















