ilustrasi pria investasi (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Sementara, aktivitas investor dalam negeri di Jawa Barat terus menunjukkan penguatan signifikan. Tercatat 21 perusahaan PMDN akan mulai beroperasi pada tahun 2026 masing-masing dengan nilai investasi di atas Rp100 miliar.
Mulai dari industri makanan dan minuman, otomotif, bahan bangunan, kimia dan plastik, tekstil, hingga industri pendukung konstruksi dan manufaktur.
Beberapa perusahaan lokal dengan nilai investasi terbesar antara lain Indofood CBP Sukses Makmur di sektor industri makanan olahan, Handal Indonesia Motor dan National Assemblers di sektor kendaraan bermotor, serta Polytama Propindo yang bergerak di industri bahan baku plastik dan resin sintetis.
Di sektor bahan bangunan dan konstruksi, investasi dilakukan oleh perusahaan seperti Wijaya Karya Industri & Konstruksi, Jaya Beton Indonesia, serta Pan Asia Jaya Abadi.
Sektor tekstil dan kertas juga tetap menjadi penopang investasi, ditandai dengan masuknya modal dari Kertas Padalarang, Tristar Makmur Kartonindo, serta Sentral Bra Makmur yang berpotensi besar dalam penyerapan tenaga kerja dan penguatan basis industri padat karya.
Menanggapi hal ini, Gubernur Dedi Mulyadi optimistis dengan bertumbuhnya industri baru dan derasnya modal yang masuk pada industri akan membuat persoalan lapangan kerja di Jabar ter-recovery.
Lewat upaya pendampingan pada realisasi investasi di lapangan, Dedi meyakini angka 15.000 pekerja di Jabar yang kena PHK akan terus berkurang.
"Bahwa 15.000 itu nanti ke depan itu akan ter-recovery dengan tumbuhnya lapangan kerja baru," katanya di Bandung, Selasa (23/12/2025).