Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ekspor Jabar Awal 2026 Capai USD 3,14 Miliar, Naik 3,75 Persen
ilustrasi ekspor impor (Pexels.com)
  • Ekspor Jawa Barat Januari 2026 mencapai USD 3,14 miliar, naik 3,75 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan Amerika Serikat menjadi tujuan utama senilai USD 527,75 juta.
  • Sektor industri mendominasi ekspor sebesar 98,77 persen, sementara impor turun menjadi USD 1,02 miliar sehingga neraca perdagangan Jabar surplus USD 2,12 miliar.
  • Tahun 2026 akan dimulai pembangunan puluhan pabrik baru dari investor asing dan lokal bernilai di atas Rp100 miliar yang diproyeksikan membuka banyak lapangan kerja baru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2025

Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) 2025 mencatat 31 industri berbasis modal asing dan 21 industri dalam negeri akan mulai membangun pabrik dan usaha baru di Jawa Barat pada 2026.

Desember 2025

Nilai impor Jawa Barat pada Januari 2026 tercatat turun 5,76 persen dibandingkan Desember 2025.

23 Desember 2025

Gubernur Dedi Mulyadi menyatakan optimisme bahwa pertumbuhan industri baru dan investasi akan memulihkan lapangan kerja bagi sekitar 15.000 pekerja yang terkena PHK di Jawa Barat.

Januari 2026

Ekspor Jawa Barat mencapai USD 3,14 miliar atau naik 3,75 persen dibandingkan Januari 2025, dengan surplus perdagangan sebesar USD 2,12 miliar.

3 Maret 2026

BPS Jawa Barat merilis data ekspor-impor Januari 2026; Kepala BPS Margaretha Ari Anggorowati menjelaskan dominasi sektor industri dan peningkatan ekspor ke Amerika Serikat serta Filipina.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Nilai ekspor Jawa Barat pada Januari 2026 mencapai USD 3,14 miliar, meningkat 3,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan neraca perdagangan mencatat surplus sebesar USD 2,12 miliar.
  • Who?
    Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat merilis data tersebut melalui Kepala BPS Jabar Margaretha Ari Anggorowati. Gubernur Dedi Mulyadi juga memberikan tanggapan terkait perkembangan ekonomi daerah.
  • Where?
    Kegiatan dan rilis data berlangsung di Bandung, Jawa Barat, mencakup aktivitas ekspor-impor serta investasi industri di berbagai wilayah provinsi tersebut.
  • When?
    Data ekspor dan impor dirilis pada Selasa, 3 Maret 2026, sementara pernyataan Gubernur Dedi Mulyadi disampaikan pada Selasa, 23 Desember 2025.
  • Why?
    Peningkatan ekspor terjadi karena dominasi sektor industri serta tumbuhnya investasi baru dari perusahaan asing dan dalam negeri yang memperkuat basis produksi di Jawa Barat.
  • How?
    Kenaikan ekspor didukung oleh kontribusi besar sektor industri sebesar 98,77 persen dan peningkatan pengiriman ke Amerika Serikat serta Filipina. Sementara itu impor menurun sehingga menghasilkan surplus perdagangan signifikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Neraca peradangan Jawa Barat di awal tahun 2026 menunjukkan tren positif, dengan nilai ekspor pada Januari mencapai USD 3,14 miliar, naik 3,75 persen dibandingkan periode yang sama di 2025. Tercatat juga tujuan ekspor tertinggi masih ke Amerika.

Angka tersebut diketahui berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat yang merilis perkembangan ekspor dan impor Jabar Januari 2026. Kondisi perekonomian Jawa Barat di awal tahun ini dinilai lebih baik dibandingkan dengan awal tahun sebelumnya.

1. Amerika masih menjadi negara tujuan ekspor

Ilustrasi kegiatan ekspor impor. (unsplash.com/Dominik Lückmann)

Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati mengatakan, kontribusi ekspor Januari 2026 masih didominasi oleh sektor industri sebesar 98,77 persen, diikuti sektor migas 0,43 persen, sektor pertanian 0,79 persen, dan sektor tambang 0,01 persen.

Ada tiga golongan barang yang menyumbang ekspor terbesar yaitu kendaraan dan bagiannya, mesin dan perlengkapan elektrik, serta mesin dan peralatan mekanis.

"Negara tujuan ekspor terbesar yaitu ke Amerika Serikat senilai USD 527,75 juta. Angka ini meningkat USD 28,22 juta dibandingkan Januari 2025. Kemudian, ekspor ke Filipina senilai USD 261,28 juta atau naik USD 1,14 juta," kata Margaretha dalam konpres Berita Resmi Statistik BPS Jabar, Selasa (3/3/2026).

2. Neraca perdagangan Jawa Barat mengalami surplus senilai USD 2,12 miliar

ilustrasi surplus (pexels.com/Karolina Grabowska)

Sedangkan impor Jawa Barat pada Januari 2026 mencapi USD 1,02 miliar. Angka ini turun 5,51 persen dibandingkan Januari 2025, sedangkan dibandingkan Desember 2025 turun 5,76 persen.

Menurut negara asal impor, Tiongkok masih menjadi yang terbesar dengan nilai mencapai USD 393,16 juta, diikuti Korea Selatan senilai USD 107,67 juta, dan Jepang senilai USD 100,22 juta.

Ari mengatakan dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa neraca perdagangan Jawa Barat mengalami surplus senilai USD 2,12 miliar. Jawa Barat mengalami surplus dengan Amerika Serikat sebesar USD 504,1 juta, dengan Filipina surplus USD 259,16 juta, Thailand surplus USD 162,21 juta dan dengan Vietnam surplus USD 126,86 juta.

3. Akan banyak investasi masuk ke Jabar di 2026

ilustrasi sedang menentukan tujuan investasi (freepik.com/freepik)

Sebelumnya, berdasarkan hasil Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) 2025 mencatat 31 industri berbasis modal asing dan 21 industri dalam negeri akan mulai melakukan pembangunan pabrik dan kegiatan usaha baru pada 2026 mendatang di wilayah Jawa Barat.

Puluhan industri tersebut memiliki nilai investasi di atas Rp100 miliar. Beberapa investor asing dengan nilai investasi terbesar antara lain BYD Auto Indonesia, Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATL), serta VinFast Automobile Indonesia, yang bergerak di sektor kendaraan listrik dan industri pendukungnya.

Selain sektor otomotif, investasi juga ada di industri barang konsumsi dan farmasi, ditandai dengan ekspansi perusahaan global seperti Unilever Indonesia, Shell Manufacturing Indonesia, Epic Medical Solutions, serta sejumlah produsen bahan baku farmasi dan alat kesehatan.

Sektor tekstil dan alas kaki juga tetap menunjukkan daya tarik, dengan masuknya investasi dari perusahaan seperti Changshin Reksa Jaya, Victory Chingluh Indonesia, dan Sing Wealth Textiles.

4. Pabrik baru banyak di bangun di wilayah Jabar pada tahun ini

ilustrasi pria investasi (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Sementara, aktivitas investor dalam negeri di Jawa Barat terus menunjukkan penguatan signifikan. Tercatat 21 perusahaan PMDN akan mulai beroperasi pada tahun 2026 masing-masing dengan nilai investasi di atas Rp100 miliar.

Mulai dari industri makanan dan minuman, otomotif, bahan bangunan, kimia dan plastik, tekstil, hingga industri pendukung konstruksi dan manufaktur.

Beberapa perusahaan lokal dengan nilai investasi terbesar antara lain Indofood CBP Sukses Makmur di sektor industri makanan olahan, Handal Indonesia Motor dan National Assemblers di sektor kendaraan bermotor, serta Polytama Propindo yang bergerak di industri bahan baku plastik dan resin sintetis.

Di sektor bahan bangunan dan konstruksi, investasi dilakukan oleh perusahaan seperti Wijaya Karya Industri & Konstruksi, Jaya Beton Indonesia, serta Pan Asia Jaya Abadi.

Sektor tekstil dan kertas juga tetap menjadi penopang investasi, ditandai dengan masuknya modal dari Kertas Padalarang, Tristar Makmur Kartonindo, serta Sentral Bra Makmur yang berpotensi besar dalam penyerapan tenaga kerja dan penguatan basis industri padat karya.

Menanggapi hal ini, Gubernur Dedi Mulyadi optimistis dengan bertumbuhnya industri baru dan derasnya modal yang masuk pada industri akan membuat persoalan lapangan kerja di Jabar ter-recovery.

Lewat upaya pendampingan pada realisasi investasi di lapangan, Dedi meyakini angka 15.000 pekerja di Jabar yang kena PHK akan terus berkurang.

"Bahwa 15.000 itu nanti ke depan itu akan ter-recovery dengan tumbuhnya lapangan kerja baru," katanya di Bandung, Selasa (23/12/2025).

Editorial Team