Bandung, IDN Times - Pelestarian ekosistem di kawasan tengah dan timur Indonesia menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Kondisi geografis, ketersediaan data, hingga keterlibatan masyarakat menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan ekosistem tidak cukup dilakukan oleh perusahaan atau pemerintah secara terpisah. Masyarakat lokal, industri, pemerintah daerah, hingga pemangku kepentingan lainnya dinilai perlu terlibat dalam upaya menjaga keanekaragaman hayati.
Hal itu mengemuka dalam talkshow sesi tematik bertajuk “Preserving Papua’s Ecosystems Through Biodiversity Conservation” dalam ajang Katadata SAFE 2026 di Sequis Tower, SCBD, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Koordinator untuk Konservasi dan Pemantauan Keanekaragaman Hayati PT Freeport Indonesia, Kukuh Indra Kusuma, mengatakan kolaborasi diperlukan karena kompleksitas pengelolaan ekosistem tidak memungkinkan satu pihak bekerja sendirian.
“Kami melihat bahwa kita enggak bisa yang namanya bekerja sendiri, harus secara kolaboratif. Walaupun katakanlah itu memang wilayah kerja kami, tapi secara kenyataannya kami enggak bisa melakukan itu sendirian,” ujar Kukuh, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Senin (21/9/2026).
