Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anggaran Pengalihan Terminal Cicaheum Jadi Depo BRT Capai Rp1,3 T

Kota Bandung
Anggaran Pengalihan Terminal Cicaheum Jadi Depo BRT Capai Rp1,3 T
IDN Times/Debbie Sutrisno
Share Article

Bandung, IDN Times - Anggaran Pengalihan Terminal Cicaheum menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT) mencapai Rp1,3 Triliun. Sumber pendananya sendiri tidak menggunakan Anggaran Pendapatan Daerah (APBD) Provinsi Jawa Barat.

Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Barat, A. Koswara usai rapat bersama Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Irjen Pol Risyapudin Nursin di Termiliki Leuwipanjang, Kota Bandung, Senin (29/7/2024).

"Anggaran dari Kemenhub, totalnya dengan infrastruktur dan lain sebagainya mencapai Rp1,3 triliun," ujar Koswara.

  1. 1. Pembangunan tidak gunakan APBD Jabar

    IDN Times/Debbie Sutrisno
    IDN Times/Debbie Sutrisno

    Meski begitu, Koswara mengatakan, di luar anggaran itu akan ada dana yang digunakan dari APBD Provinsi Jawa Barat. Namun itu nantinya baru akan digelontorkan setelah Depo BRT rampung. Sebab Dishub Jabar akan menjadi operator terminal.

    "Anggaran (pembangunan) dari pusat semua, untuk APBD-nya (Pemprov Jabar) itu untuk nanti, setelah operasional," jelasnya.

  2. 2. Semua pembangunan infrastruktur akan dibangun pemerintah pusat

    IDN Times/Debbie Sutrisno
    IDN Times/Debbie Sutrisno

    Pengalihan Terminal Cicaheum menjadi Depo BRT sudah masuk tahap I. Dalam prosesnya nanti, kata Koswara, akan ada beberapa tahapan yang dilakukan, seperti pembangunan infrastruktur, dan itu nantinya akan dilakukan oleh pemerintah pusat dalam hal ini Kemenhub Jawa Barat.

    "Pemerintah pusat akan membangun infrastruktur dan menyiapkan sistem. Kalau tahapan sekarang sudah mulai dengan adanya bus Buy The Service (BTS)," katanya.

  3. 3. Akan berbeda dengan DKI Jakarta

    IDN Times/Debbie Sutrisno
    IDN Times/Debbie Sutrisno

    Meski demikian, Koswara memastikan, BTS masih belum masuk dalam kategori angkutan massal karena belum memiliki dedicated line atau jalur khsusus yang mana ada lima koridor. Sehingga, kategorinya masih bersifat angkutan perkotaan.

    "Untuk jadi angkutan massal harus ada infrastruktur yang dibangun oleh pusat. Nanti akan dibangun ada jalur khusus dedicated bus way tapi buswaynya berbeda. Halte tapi haltenya juga akan sejajar dengan jalan. Kalau Jakarta Tapping (bayar tiket) di halte, di Bandung nantinya tapping nya di bus," kata dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More