Mitos Vs Fakta soal Longsor yang Masih Banyak Dipercaya

- Longsor bisa terjadi di daerah perbukitan rendah dan kawasan permukiman yang terlihat landai, bukan hanya di pegunungan.
- Hujan dengan intensitas sedang tetapi terjadi terus-menerus juga bisa menyebabkan longsor, tidak hanya hujan deras.
- Risiko longsor dapat dikurangi melalui pengelolaan lingkungan yang baik dan edukasi masyarakat tentang tanda-tanda alam.
Bencana longsor masih sering dianggap sebagai peristiwa alam yang datang tanpa tanda. Banyak masyarakat merasa longsor adalah nasib buruk yang tak bisa dihindari, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah perbukitan.
Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ada banyak mitos tentang longsor yang berkembang di masyarakat dan justru membuat kewaspadaan menjadi rendah. Mitos ini kerap diwariskan dari mulut ke mulut tanpa pernah diuji kebenarannya.
Kurangnya literasi kebencanaan membuat informasi keliru lebih mudah dipercaya. Akibatnya, tindakan pencegahan sering diabaikan karena merasa lingkungan sekitar baik-baik saja.
Supaya tidak terus terjebak kesalahpahaman, berikut beberapa mitos dan fakta soal longsor yang masih banyak dipercaya hingga sekarang.
1. Mitos: longsor hanya terjadi di daerah pegunungan

Banyak orang percaya longsor hanya terjadi di wilayah pegunungan atau lereng yang sangat curam. Faktanya, longsor juga bisa terjadi di daerah perbukitan rendah hingga kawasan permukiman yang terlihat landai.
Perubahan struktur tanah, aliran air bawah tanah, serta aktivitas manusia bisa memicu longsor di area yang tampak aman. Karena itu, wilayah non-pegunungan tetap perlu waspada terhadap potensi pergerakan tanah.
Selain itu, daerah yang sebelumnya tidak pernah longsor bukan berarti sepenuhnya aman. Kondisi alam yang terus berubah membuat risiko longsor bisa muncul kapan saja.
2. Mitos: hujan sebentar tidak cukup menyebabkan longsor

Hujan sering dianggap berbahaya hanya jika turun deras dan lama. Faktanya, hujan dengan intensitas sedang tetapi terjadi terus-menerus juga bisa membuat tanah jenuh air dan kehilangan kekuatannya.
Air yang meresap perlahan ke dalam tanah akan menambah beban dan tekanan di lapisan bawah. Jika kondisi ini berlangsung berhari-hari, longsor bisa terjadi tanpa hujan ekstrem sekalipun.
Inilah alasan mengapa longsor kerap terjadi setelah periode hujan panjang, bukan hanya saat hujan deras turun.
3. Mitos: longsor tidak bisa dicegah, hanya bisa dihindari

Anggapan bahwa longsor tidak bisa dicegah membuat banyak orang pasrah. Faktanya, risiko longsor dapat dikurangi melalui pengelolaan lingkungan yang baik, seperti menjaga vegetasi dan sistem drainase.
Penataan lahan yang tepat, tidak membuang sampah sembarangan, serta memperhatikan tanda-tanda alam adalah bentuk mitigasi sederhana yang berdampak besar.
Edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat juga berperan penting dalam mencegah jatuhnya korban saat longsor terjadi.
Memahami perbedaan antara mitos dan fakta soal longsor bisa menyelamatkan banyak nyawa. Semakin akurat informasi yang dipercaya, semakin tepat pula langkah pencegahan yang bisa dilakukan.
Menurut kamu, mitos apa lagi soal longsor yang masih sering dipercaya di lingkungan sekitar?













