Potensi Korban Terdampak Keracunan Restoran 88 SEOUL Capai 200 Orang

Dinkes Kota Bandung mencatat sekitar 200 konsumen 88 SEOUL berpotensi terdampak keracunan, berdasarkan jumlah pelanggan restoran pada hari kejadian.
Sejauh ini, 24 orang dilaporkan mengalami gejala dan telah berobat; satu pasien sempat dirawat inap namun kini sudah pulang.
Penyelidikan penyebab terkendala karena jeda waktu membuat sampel makanan tidak lagi valid, sementara Dinkes tetap membuka aduan dan memantau laporan media sosial.
Bandung, IDN Times - Dinas Kesehatan Kota Bandung masih melakukan pendalaman kasus keracunan dari restoran 88 SEOUL di Kota Bandung. Berdasarkan hasil sementara, konsumen yang berpotensi mengalami keracunan mencapai 200 orang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih mengatakan, angka ratusan ini merupakan potensi konsumen yang terdampak keracunan ini.
"Jadi kami dari surveilans kita harus mengukur berapa sih warga yang berpotensi terdampak. Jadi angka 200 itu adalah konsumen, restoran tersebut pada hari itu," ujar Dadan saat dikonfirmasi, Kamis (8/10/2026).
1. Sebanyak 200 orang ini yang berpotensi

Dok. Istimewa Kendati demikian, Dinkes Kota Bandung sampai saat ini baru menerima sebanyak 24 laporan yang mengalami dugaan keracunan hidangan yang ada di 88 SEOUL tersebut, dan saat ini para korban sudah dilakukan perawatan.
"Itu kan berarti ada kemungkinan 200 konsumen yang berpotensi terdampak, gitu ya. Tapi laporan terakhir yang kami himpun, ya sejauh ini ada 24 yang memang bergejala, kemudian sudah berobat juga ya, dari 24 itu satu orang dirawat inap. Hari ini sudah pulang," kata dia.
Korban yang mengalami keracunan ini mayoritas menyantap hidangan di 88 SEOUL pada 2–3 Oktober 2026. Sementara, kasusnya muncul ke publik di 5 Oktober 2026, di mana salah satu pelanggan mengungkapkan gejala-gejalanya melalui akun Threads.
2. Dinkes Bandung kesulitan ungkap penyebabnya

Restoran 88 SEOUL di Bandung Tutup Sementara Usai Kasus Konsumen Keracunan. IDN Times/Debbie Sutrisno Dengan kondisi tersebut, artinya ada rentang beberapa hari yang membuat pihak Dinkes menghadapi kesulitan dalam mengungkap penyebabnya. Beberapa sampel makanan pun sudah sulit dilakukan inspeksi.
"Tapi karena ini sudah lebih dari dua kali 24 jam gitu ya, kalaupun ada sisa sampel makanan yang tersisa itu sudah tidak laik untuk diperiksa karena kemungkinan sudah ada kontaminasi lain gitu ya," katanya.
"Jadi sudah tidak valid untuk dinyatakan itu apakah ada dari bakteri kah gitu, atau dari zat kimia gitu ya. Itu sudah tidak valid. Karena memang jarak waktu dari antara kejadian dengan kita lakukan inspeksi," ujarnya.
3. Dinkes Bandung masih membuka layanan aduan

Dinkes Bandung Investigasi Kasus Diduga Keracunan di Sebuah Restoran. IDN Times/Debbie Sutrisno Lebih lanjut, Dinkes Kota Bandung memastikan masih membuka layanan aduan terhadap korban yang mengalami beberapa gejala keracunan setelah menyantap hidangan di restoran tersebut selama awal pekan ini.
"Sampai saat ini kami masih membuka dan kami juga proaktif memantau dari media sosial, kadang kan ada yang muncul di comment ya. Nah, itu yang muncul di komen juga kami DM satu persatu untuk memang mengonfirmasi," kata Dadan.
Dia pun merasa khawatir dari jumlah ratusan konsumen yang berpotensi tersebut saat ini masih ada yang mengalami gejala-gejala keracunan. Namun, sampai saat ini dia memastikan angkanya baru 24 orang yang bergejala.
"Jadi yang beredar ratusan itu kami ada kekhawatiran betul kalau ada ratusan gitu. Sehingga kami memang DM (direct message Instagram) satu persatu gitu ya, tapi sejauh ini sih baru 24 yang memang terkonfirmasi," katanya.
















