Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[OPINI] Ketika Sekretaris Menjadi Entrepreneur, Saat Komunikasi Menjadi Modal Bisnis

Kota Bandung
5 min read
[OPINI] Ketika Sekretaris Menjadi Entrepreneur, Saat Komunikasi Menjadi Modal Bisnis
Dok.Istimewa
  • Kemampuan komunikasi, relasi, negosiasi, dan membangun kepercayaan dinilai tetap bernilai di era Society 5.0 ketika pekerjaan administratif makin terbantu otomatisasi dan kecerdasan buatan.

  • Kompetensi mahasiswa sekretaris seperti komunikasi bisnis, administrasi digital, layanan pelanggan, dan pengelolaan media sosial dapat menjadi jasa profesional bagi UMKM yang bertransformasi digital.

  • Mahasiswa didorong memulai dari masalah kecil UMKM, menguji jasa langsung ke pasar, membangun portofolio, dan menjadikan kompetensi kesekretarisan sebagai fondasi bisnis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Ketika berbicara dengan mahasiswa Program Studi Sekretaris di Taruna Bakti University (TBU), ada satu pertanyaan yang hampir selalu saya ajukan di kelas: setelah lulus nanti, kompetensi apa yang akan mereka miliki dan di mana mereka akan bekerja?

Pertanyaan tersebut tentu penting. Hampir setiap mahasiswa pernah memikirkannya. Namun sebagai dosen yang mengajar Komunikasi Bisnis dan Entrepreneurship, saya sering mengajak mahasiswa melihat persoalan itu dari sudut pandang yang berbeda. Mengapa setelah lulus kita hanya berpikir untuk mencari pekerjaan? Mengapa tidak mulai berpikir tentang bagaimana menciptakan peluang?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan di tengah perubahan dunia kerja yang berlangsung begitu cepat. Apalagi saat ini kita memasuki era Society 5.0, sebuah konsep yang diperkenalkan pemerintah Jepang melalui Rencana Dasar Sains dan Teknologi ke-5 pada 2016. Dalam konsep tersebut, manusia ditempatkan sebagai pusat perkembangan teknologi (human-centric), sehingga teknologi hadir untuk mendukung kualitas hidup manusia, bukan sebaliknya.

  1. Komunikasi Tetap Menjadi Kekuatan Manusia

    Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, banyak pekerjaan administratif kini dapat dilakukan lebih cepat dan otomatis. Berbagai aplikasi dan kecerdasan buatan mampu membantu pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam.

    Namun ada satu hal yang hingga hari ini tidak mudah digantikan oleh teknologi, yaitu kemampuan manusia untuk berkomunikasi, membangun hubungan, memahami kebutuhan orang lain, melakukan negosiasi, dan menciptakan kepercayaan.

    Menurut saya, di situlah letak kekuatan utama mahasiswa sekretaris.

    Selama kurang lebih 10 tahun berkiprah sebagai dosen sekaligus praktisi bisnis, serta melalui pengalaman membangun VokasiHub sebagai platform pelatihan dan sertifikasi vokasi, saya melihat bahwa kemampuan komunikasi interpersonal sering kali menjadi faktor pembeda dalam dunia usaha. Produk yang baik belum tentu diterima pasar apabila pemiliknya tidak mampu mengomunikasikan nilai dan manfaat produknya kepada calon pelanggan.

    Kemampuan komunikasi bukan hanya soal berbicara dengan baik. Kemampuan ini mencakup bagaimana seseorang membangun relasi, memahami kebutuhan lawan bicara, menyampaikan pesan secara efektif, hingga menciptakan rasa percaya. Semua kemampuan tersebut merupakan kompetensi yang selama ini menjadi bagian dari pendidikan kesekretarisan.

    Di era ketika teknologi semakin banyak mengambil alih pekerjaan teknis dan administratif, justru kemampuan yang bersifat manusiawi menjadi semakin bernilai.

  2. Ketika Kompetensi Sekretaris Menjadi Peluang Bisnis

    Pengalaman tersebut juga saya temukan ketika berinteraksi dengan berbagai pelaku UMKM di Jawa Barat. Banyak UMKM memiliki produk yang sangat baik. Makanannya lezat, jasanya berkualitas, dan produknya menarik.

    Namun ketika memasuki ruang digital, tantangan mulai muncul. Mereka sering kali kesulitan membuat konten, mengelola media sosial, merespons pelanggan, hingga membangun citra usaha yang konsisten.

    Di sinilah saya melihat peluang yang sangat besar bagi mahasiswa sekretaris.

    Keterampilan yang mereka pelajari selama kuliah sesungguhnya memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika dikembangkan lebih jauh. Kemampuan komunikasi bisnis, public speaking, pengelolaan administrasi digital, layanan pelanggan, hingga pengelolaan komunikasi organisasi dapat menjadi jasa profesional yang dibutuhkan banyak pelaku usaha, khususnya UMKM yang sedang bertransformasi ke dunia digital.

    Media sosial pun seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tempat berbagi foto atau mengikuti tren yang sedang viral. Bagi seorang entrepreneur, media sosial adalah etalase bisnis sekaligus ruang untuk membangun kepercayaan.

    Kemampuan membuat pesan yang tepat, menjawab pertanyaan pelanggan dengan baik, membangun hubungan dengan audiens, hingga menjaga reputasi sebuah usaha merupakan pekerjaan yang membutuhkan kompetensi komunikasi. Dan kemampuan tersebut sangat dekat dengan kompetensi yang dimiliki mahasiswa sekretaris.

    Karena itu, saya melihat bahwa profesi sekretaris tidak lagi harus dipahami secara sempit sebagai profesi yang hanya bekerja di belakang meja atau mendukung aktivitas pimpinan. Kompetensi yang sama dapat berkembang menjadi layanan profesional yang memiliki nilai ekonomi dan membuka peluang usaha baru.

  3. Dari Mengatur Agenda Pimpinan Menjadi Mengelola Bisnis Sendiri

    Picsart_26-09-22_14-16-52-616.jpg.jpeg
    Dok.Istimewa

    Saya sering mengatakan kepada mahasiswa, jangan menunggu memiliki bisnis besar untuk mulai belajar bisnis.

    "Mulailah dari masalah kecil yang bisa kalian selesaikan."

    Carilah UMKM di sekitar kampus. Tawarkan bantuan. Kelola media sosial mereka. Bantu membuat konten. Belajar menawarkan jasa. Rasakan bagaimana menghadapi pelanggan yang tidak membalas pesan, melakukan negosiasi harga, menerima kritik, bahkan mengalami penolakan.

    Semua pengalaman itu adalah bagian dari proses pembelajaran yang tidak selalu bisa diperoleh di dalam ruang kelas. Di situlah semangat entrepreneurship yang sesungguhnya terbentuk.

    Karena itu, pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi menurut saya tidak cukup berhenti pada penyusunan business plan. Mahasiswa perlu bertemu langsung dengan pasar dan mengalami sendiri bagaimana sebuah ide berkembang menjadi produk yang memiliki nilai. Mereka perlu menguji gagasan kepada konsumen, memahami kebutuhan pasar, serta membangun portofolio nyata yang kelak akan menjadi modal penting ketika memasuki dunia kerja maupun dunia usaha.

    Saya percaya mahasiswa Program Studi Sekretaris, khususnya di Taruna Bakti University, tidak harus meninggalkan kompetensi kesekretarisan untuk menjadi entrepreneur. Justru kompetensi tersebut dapat menjadi fondasi yang kuat untuk membangun bisnis.

    Hari ini mereka mungkin sedang belajar mengatur agenda seorang pimpinan. Namun beberapa tahun ke depan, bukan tidak mungkin mereka justru sedang mengatur agenda bisnis yang mereka bangun sendiri.

    Sejalan dengan misi Taruna Bakti University untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi digital, berkarakter unggul, serta mampu berkiprah sebagai entrepreneur di tataran global, mahasiswa sekretaris tidak hanya dipersiapkan menjadi pencari kerja. Mereka juga memiliki peluang besar untuk menjadi pencipta lapangan kerja.

    Pada akhirnya, di era ketika teknologi semakin canggih dan perubahan berlangsung begitu cepat, kemampuan berkomunikasi, membangun relasi, dan menciptakan kepercayaan akan tetap menjadi modal yang bernilai. Dan bagi mahasiswa sekretaris, modal itu sesungguhnya sudah mereka miliki sejak berada di bangku kuliah.

    Artikel ini merupakan Opini dari: Roni Mulyana, M.I.Kom., CI,

    Dosen Taruna Bakti University, Praktisi Bisnis, Founder VokasiHub

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More